SOLO – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar kuliah umum pada Rabu (16/9/2026) di Ruang Utsman bin Affan, Kampus IV UMS. Acara tersebut mengusung tema “Leading the Future of Indonesian Healthcare: The Strategic Role of Medical Leadership”.
Acara yang dihadiri lebih dari 300 mahasiswa FK UMS, secara daring dan luring, ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., FISR; Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen. Pol. (P) Dr. Akhmad Wiyagus, S.I.K., M. Si., M.M; Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Dr. dr. Slamet Budiarto., S.H., M.H.Kes; Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si; dan jajaran pimpinan UMS.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I UMS Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., menyambut hangat kedatangan Wamenkes, Wamendagri, dan sejumlah tamu kehormatan yang hadir. Ihwan yang mewakili Rektor UMS itu turut menyampaikan komitmennya untuk mencetak lulusan kedokteran yang cakap dan terampil.
“Kami insyaallah akan senantiasa meningkatkan kompetensi mahasiswa agar menjadi dokter profesional dan berdaya saing global,” tegas Ihwan.
Kuliah umum ini menghadirkan Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., FISR., sebagai pembicara. Dalam paparannya, Benjamin mengemukakan tiga tantangan dokter dan tenaga medis di Indonesia, yakni pemerataan dokter dan tenaga medis, kebutuhan radiografer dan tenaga penunjang, serta perlindungan kepada dokter dan tenaga medis.
Benjamin mengatakan jumlah dokter spesialis di Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Di Jakarta, misalnya, jumlah dokter spesialis bahkan mencapai 1.800 dokter. “Mereka dikirim ke luar daerah, ya kalau daerahnya enggak nyaman ya enggak mau pergi,” beber Benjamin.
Padahal kebutuhan dokter spesialis di daerah, khususnya daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), mencapai 55.712 dokter spesialis. Salah satu langkah yang diambil Kementerian Kesehatan adalah memberikan beasiswa pendidikan dokter kepada putra daerah.
“Kalau mahasiswa ingin mendapat beasiswa Kemenkes, syaratnya harus mau ditempatkan di daerah-daerah yang membutuhkan dokter. Tamat spesialis langsung kita tempatkan di kabupaten-kabupaten,” lanjutnya.
Kementerian Kesehatan, katanya, telah menginisiasi pembukaan 55 program studi dokter spesialis baru di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Benjamin juga mendorong mahasiswa Kedokteran UMS yang berasal dari luar Jawa agar mau kembali dan mengabdi di daerah asal selepas lulus nanti.
Wamenkes juga mendorong Fakultas Kedokteran di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) untuk membuka kelas radiografer. Ia optimis PTMA dapat memenuhi kebutuhan radiografer di daerah.
“Kalau Muhammadiyah bisa cetak 200 radiografer setiap tahun kan lumayan,” seloroh Benjamin.
Dari sisi kesejahteraan, Benjamin menegaskan Kemenkes akan memberikan dukungan fasilitas kepada dokter muda yang berdinas di daerah. Mulai dari pembangunan hunian dokter di dekat rumah sakit, skrining kesehatan, jam kerja terstandar, hingga jumlah hari izin dan cuti.
Senada, Dekan FK UMS Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.DVE, Dipl. STD-HIV/AIDS, FINSDV, FAADV, menekankan pentingnya seorang dokter memiliki jiwa kepemimpinan. Sudah saatnya mahasiswa Kedokteran dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan di bidang kesehatan. Dalam hal ini, seorang dokter harus punya cara pandang yang lebih luas dalam melihat dunia kesehatan di Indonesia.
“Tidak hanya memikirkan kemajuan teknologi dunia kedokteran di kota-kota besar saja atau di Pulau Jawa saja, namun juga harus mau memikirkan kemajuan di luar Jawa,” jelas Flora.
Peran dokter tidak lepas dari tenaga medis pendukungnya. Menanggapi usulan Wamenkes Benjamin bab kelas radiografer, Flora menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Ia optimis Muhammadiyah, khususnya UMS, dapat mendukung langkah pemerintah dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional.
“Itu adalah usul yang sangat positif dan insyaallah akan direspons positif dan ditanggapi langsung oleh Majelis Diktilitbang Muhammadiyah,” imbuh Flora optimistis.
Ia menekankan bahwa seorang dokter dan tenaga medis adalah role model di dalam komunitasnya. Dokter dan tenaga medis harus memberikan dampak positif bagi masyarakat dari Sabang sampai Merauke.
Di tengah era bonus demografi saat ini, Flora mendorong pemerintah untuk terus mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada. Menurutnya, langkah Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan di Indonesia merupakan bagian integral dalam menyikapi bonus demografi saat ini.
Ia berharap dukungan pada dunia kesehatan dapat mengalami peningkatan signifikan di masa mendatang. “Jangan sampai bonus demografi ini berlalu dengan sia-sia,” tandasnya.
JAKARTA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerima penghargaan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi sebagai provinsi…
SEMARANG — Puluhan santri Ma'had Tahfidzul Quran Isy Karima IMTAQ Shighor Program Khusus Kabupaten Karanganyar,…
SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak generasi muda untuk lebih mengenal…
SOLO - Berangkat dari kebutuhan masyarakat terhadap layanan reparasi perangkat elektronik yang mudah dan terpercaya,…
SOLO - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali menorehkan prestasi…
SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda kompak posting…
This website uses cookies.