SURAKARTA — Inkubator Bisnis dan Talenta Inovasi (IBTI) UMS di bawah naungan Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta-Inovasi (DKPTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) mengadakan Kuliah Umum Kewirausahaan bertema “Dari Kampus ke Pasar Global : Peluang Wirausaha Mahasiswa Menembus Pasar Global”, di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS, Rabu (21/10/2026).
Ketua panitia, Endang Setyaningsih M.Si Ph.D menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh 257 peserta, dengan jumlah peserta terbanyak berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).
Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa mengembangkan usaha yang mampu bersaing di pasar internasional. “Kegiatan hari ini diikuti oleh 257 peserta, dan peserta terbanyak berasal dari FEB. Semoga melalui acara ini, mahasiswa UMS dapat mengembangkan usaha dan bersaing di pasar global,” ujarnya.
Direktur DKPTI UMS, Ir Ahmad Kholid Alghofari S.T M.T mengajak mahasiswa memanfaatkan kuliah umum tersebut untuk mempelajari peluang dan strategi perdagangan internasional. Ia menilai kehadiran praktisi ekspor dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung mengenai dunia usaha global.
“Kalau besok teman-teman ingin menjadi seorang eksportir, maka galilah semua ilmu di kuliah umum ini. Karena pemateri kita adalah seorang eksportir muda yang sukses,” tuturnya.
Materi pertama disampaikan oleh Wiwid Wijayadi S.T M.Si, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas sekaligus juri Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMK) 2026. Ia membahas penguatan usaha dan daya saing produk mahasiswa, terutama kesiapan pelaku usaha dalam memasuki pasar ekspor.
Wiwid menekankan bahwa menjadi eksportir tidak selalu harus dimulai dengan modal finansial yang besar. Menurutnya, kemauan untuk memulai dan kesungguhan dalam mempelajari proses ekspor menjadi bekal awal bagi mahasiswa yang ingin merintis usaha. “Modal seorang eksportir adalah niat, bukan semata-mata modal secara materi,” ungkapnya.
Ia juga mengaitkan aktivitas perdagangan dengan sejarah Islam melalui praktik bisnis yang dilakukan Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Selain itu, ia menjelaskan QS Quraisy ayat 2 yang menggambarkan perjalanan dagang masyarakat Quraisy pada musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam.
Dalam menjalankan usaha ekspor, Wiwid menjelaskan tiga aspek utama yang perlu dipenuhi, yaitu kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk. Ketiganya menjadi faktor penting agar produk mampu memenuhi kebutuhan pembeli sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan.
“Produk yang ingin diekspor harus memiliki kualitas yang baik, kuantitas yang mencukupi, dan kontinuitas pasokan. Ketiga hal ini perlu diperhatikan oleh pelaku usaha,” jelasnya.
Wiwid turut menguraikan sejumlah kendala yang menyebabkan pelaku usaha Indonesia belum banyak melakukan ekspor, mulai dari kurangnya pengetahuan tentang prosedur ekspor, rendahnya kepercayaan diri, keterbatasan jaringan pembeli (buyer), hingga persoalan modal.
Ia kemudian memaparkan tahapan ekspor yang perlu dipahami pelaku usaha, mulai dari riset pasar, promosi, negosiasi, penyusunan kontrak dagang, hingga pengaturan jaminan pembayaran. Proses selanjutnya mencakup penyiapan barang, pengurusan dokumen ekspor, pengiriman, dan penerimaan pelunasan pembayaran.
Materi kedua disampaikan oleh Suci Mahanani S.T M.E, Direktur Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Budapest, Hungaria, di bawah Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Ia memaparkan peluang pasar Hungaria sekaligus berbagai ketentuan yang harus diperhatikan eksportir Indonesia untuk memasuki pasar Eropa.
Suci menjelaskan bahwa furnitur kayu dan kopi Indonesia memiliki peluang untuk dipasarkan di Hungaria. Namun, eksportir perlu memahami ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR), terutama terkait ketertelusuran rantai pasok dan pembuktian bahwa produk tidak berasal dari lahan yang mengalami deforestasi.
“Eksportir furnitur kayu dan kopi Indonesia memiliki peluang besar di pasar Hungaria. Namun, eksportir juga harus memperhatikan ketentuan EUDR, termasuk penelusuran rantai pasok hingga ke titik koordinat lahan untuk memastikan produk bebas dari deforestasi,” paparnya.
Selain ketentuan lingkungan, Suci menekankan pentingnya pemenuhan standar keamanan pangan Uni Eropa dan penyesuaian label produk. Produk pangan olahan, kopi, dan rempah-rempah harus memenuhi persyaratan keamanan pangan yang berlaku, termasuk ketentuan mengenai kontaminan, serta mencantumkan informasi kemasan dalam Bahasa Hungaria.
“Produk yang ingin memasuki pasar Hungaria harus memenuhi standar keamanan pangan Uni Eropa. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan ketentuan label berbahasa Hungaria agar produknya dapat diterima di pasar setempat,” jelasnya.
Terakhir, Suci menjelaskan bahwa dalam sektor furnitur, penyesuaian desain dan ergonomi juga menjadi perhatian. “Pelaku usaha perlu memahami karakteristik konsumen Eropa agar produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar, baik dari segi ukuran, kekuatan, maupun kenyamanan penggunaan,” pungkasnya.
SURAKARTA – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat langkah…
SURAKARTA - Transparansi pasar modal dan kebijakan ekonomi yang responsif menjadi faktor penting untuk menjaga…
SEMARANG – Kinerja investasi di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan performa positif. Hingga triwulan III 2026,…
SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen berharap penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov)…
SEMARANG – Sebanyak 62 pasangan pengantin di Jawa Tengah tak hanya pulang dengan status pernikahan…
SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama 35 kabupaten/kota telah menggelar 1.724 kali Gerakan Pangan…
This website uses cookies.