SOLO – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui ajang Festival Esai Mahasiswa Indonesia 2026. Medali perunggu didapatkan oleh dua mahasiswa setelah mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh Inteleksa x BEM FH Universitas Wisnuwardhana Malang.
Mereka adalah Adinna Nisarani dari Program Studi Gizi angkatan 2025 sebagai ketua tim dan Afifah Ma’rifatul Jannah dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2025. Dalam kompetisi Prestasi tersebut diraih melalui karya esai berjudul “Galbita Powder: Inovasi Pudding Powder MP-ASI Berfortifikasi Tepung Kuning Telur dan Labu Kuning sebagai Pencegahan Undernutrition”.
Esai mengangkat inovasi MP-ASI berbasis pangan lokal yang praktis, bergizi, dan aman dikonsumsi balita sebagai upaya preventif untuk menurunkan risiko undernutrition pada masa golden age.
Ketua tim, Adinna Nisarani, mengatakan bahwa timnya memilih isu undernutrition atau kekurangan gizi karena permasalahan gizi pada balita masih menjadi tantangan serius di Indonesia bahkan dunia. Menurutnya, masa pertumbuhan awal merupakan periode penting dalam perkembangan fisik dan kognitif anak sehingga pemenuhan nutrisi melalui MP-ASI sangat dibutuhkan.
“Kami memilih isu ini karena undernutrition pada balita masih menjadi tantangan serius di Indonesia bahkan di dunia. Masa pertumbuhan awal merupakan periode penting dalam perkembangan fisik dan kognitif anak, sehingga pemenuhan nutrisi yang optimal melalui MP-ASI sangat dibutuhkan,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa data prevalensi masalah gizi balita di Indonesia dan tingginya angka kekurangan gizi secara global menjadi dasar utama penyusunan argumentasi esai. Selain itu, tim juga melihat masih banyak bahan pangan lokal bergizi tinggi yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai alternatif MP-ASI.
“Data prevalensi masalah gizi balita di Indonesia serta tingginya angka kekurangan gizi secara global menjadi dasar utama kami. Selain itu, kami melihat bahwa masih banyak bahan pangan lokal bergizi tinggi yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai alternatif MP-ASI,” jelasnya.
Dalam proses penyusunan karya, Adinna membangun kolaborasi lintas disiplin ilmu bersama Afifah Ma’rifatul Jannah dengan pembagian peran sesuai bidang masing-masing. Ia berfokus pada validitas ilmiah serta formulasi gizi produk, sedangkan Afifah memperkuat aspek kepenulisan karya serta edukasi dan implementasi solusi kepada masyarakat.
Menurut Adinna, kekuatan utama esai terletak pada formulasi inovasi produk yang memadukan tepung kuning telur sebagai sumber protein dan kolin dengan labu kuning yang kaya beta-karoten dan serat dalam bentuk pudding powder yang praktis dan sesuai kebutuhan balita.
“Menurut saya bagian terkuat ada pada formulasi inovasi produk, yaitu kombinasi tepung kuning telur sebagai sumber protein dan kolin dengan labu kuning yang kaya beta-karoten dan serat, lalu dikembangkan dalam bentuk pudding powder yang praktis, aman, dan sesuai kebutuhan balita,” ungkapnya.
Dalam kompetisi tersebut, tim juga memperoleh masukan dari dewan juri terkait keamanan produk, terutama mengenai potensi alergi telur pada anak. Adinna menyebut inovasi tersebut menggunakan kuning telur yang memiliki risiko alergen lebih rendah dibanding putih telur, meskipun sensitivitas tetap dapat terjadi pada beberapa anak.
“Salah satu masukan dari dewan juri adalah terkait keamanan produk, khususnya apakah Galbita Powder aman dikonsumsi oleh anak yang memiliki alergi telur,” katanya.
Sementara itu, Afifah Ma’rifatul Jannah menjelaskan bahwa kontribusinya berfokus pada penyusunan kepenulisan esai agar lebih sistematis dan terstruktur. Ia juga bertugas mencari fakta dan data ilmiah dari berbagai sumber sebagai dasar akademik karya tersebut.
Ia mengaku mendalami bagian latar belakang, implementasi solusi, analisis solusi, dan relevansi inovasi terhadap masyarakat agar gagasan yang ditawarkan tidak berhenti sebagai konsep akademik semata.
“Perspektif pendidikan membantu saya melihat bahwa solusi gizi akan lebih efektif jika dibarengi edukasi yang mudah dipahami oleh keluarga. Orang tua adalah pendidik pertama anak, sehingga pemahaman mereka tentang MP-ASI sangat penting,” terangnya.
Afifah juga menilai keunikan esai timnya terletak pada pemanfaatan bahan lokal sederhana yang diolah menjadi inovasi pangan fungsional praktis dengan nilai gizi tinggi dan peluang implementasi luas di masyarakat.
“Kami ingin menyampaikan bahwa solusi permasalahan gizi tidak selalu harus mahal. Dengan memanfaatkan bahan lokal secara kreatif dan ilmiah, masyarakat dapat menghadirkan pangan bergizi yang terjangkau untuk anak-anak,” pungkasnya.
SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menilai media massa turut berkontribusi terhadap…
KLATEN - Duta Besar Belanda Marc Gerritsen sangat terkesan dengan pengalaman bersepeda menyusuri pedesaan di…
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan…
SEMARANG — Nilai Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jawa Tengah pada 2025 mencapai 86,72 atau…
SOLO - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali menorehkan prestasi internasional melalui ajang World…
SOLO - Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar Pertemuan…
This website uses cookies.