SURAKARTA – Tim pemantauan program revitalisasi sekolah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjadikan momen rapat koordinasi sebagai penguatan pesan agar seluruh tim bekerja dengan sebaik-baiknya untuk penguatan kampus berdampak.
Ketua Tim UMS yang juga dosen Prodi Arsitektur Ir Nurhasan MT menyebut, keterlibatan UMS dalam program ini merupakan salah satu bentuk implementasi konsep Kampus Berdampak, yakni mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya berperan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian, tetapi juga memberikan kontribusi nyata melalui kolaborasi dan pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui keterlibatan langsung dalam program revitalisasi sekolah, UMS berupaya menghadirkan keahlian akademik dan profesionalisme sumber daya manusia perguruan tinggi untuk mendukung peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan,” ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Kerja sama antara tim UMS dan program revitalisasi sekolah telah terjalin melalui pendampingan terhadap 133 satuan pendidikan jenjang SMP di regional Jawa Tengah I.
Sekolah-sekolah tersebut merupakan penerima manfaat Program revitalisasi sekolah Tahun Anggaran 2026 yang menjadi sasaran kegiatan pemantauan.
Kerjasama ini terhitung sejak 1 Agustus 2026 – 31 Desember 2026. Pada tahap ini tim yang terlibat sebanyak 18 orang, terdiri dari satu orang ketua tim pelaksana, dua koordinator, 14 orang fasilitator dan satu orang administrasi.
Ketua Tim dan dua koordinator dan satu fasilitator berasal dari dosen Prodi Arsitektur. Sedangkan 13 fasilitator direkrut dari alumni prodi Arsitektur dan Teknik Sipil, baik senior maupun lulusan baru.
Sebelum berkontrak sebagai pemantau program revitalisasi, anggota tim telah bekerja sebagai petugas verval untuk memverifikasi dan memvalidasi sekolah-sekolah yang perlu mendapatkan bantuan revitalisasi sekolah dari Kemendikdasmen.
Kegiatan ini dilakukan dengan cara terjun langsung, tim verval melakukan pengecekan bangunan ke sekolah-sekolah. Hasil verval dikirim kementerian untuk tahap berikutnya.
Tahap selanjutnya tim bertindak sebagai reviewer untuk memberikan bimbingan kepada sekolah untuk menyiapkan dokumen perencanaan dan dokumen pendukung administrasinya. Dalam hal ini tim reviewer bekerja dengan memberikan pendampingan secara online maupun offline hingga dokumen dinyatakan layak dan sekolah menandatangani perjanjian kerja sama.
Dokumen ini berisi jenis menu, volume dan besaran dana revitalisasi yang diterima sekolah. Revitalisasi ini menggunakan model swakelola. Seluruh dana (100 persen) langsung turun ke rekening bendahara sekolah. Sementara pembangunan dilaksanakan mandiri oleh sekolah dalam manajemen P2SP (panitia pembangunan satuan pendidikan).
Untuk menjamin pelaksanaan revitalisasi berjalan dengan baik dan menghasilkan bangunan yang berkualitas, pihak kementerian mengangkat tIm pelaksana dari perguruan tinggi sebagai pemantau di lapangan.
“Alhamdulillah setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat, UMS terpilih menjadi memantau revitalisasi 311 sekolah pada Tahun 2025, dan 133 pada Tahun 2026 di tahap awal ini,” ujar Nurhasan.
Sekolah-sekolah tersebut tersebar di 21 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Di antaranya Banyumas, Banjarnegara, Purworejo, Batang, Pemalang, Magelang, Klaten, Boyolali, Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Sragen, Semarang, Kudus, Jepara, Rembang, Pati, Blora, Kota Surakarta, Kota Semarang dan Kota Tegal.
Tim pemantauan program revitalisasi sekolah UMS telah melakukan pemantauan secara periodik melalui kunjungan lapangan ke masing-masing satuan pendidikan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi perkembangan pelaksanaan program, memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi di lapangan, serta memastikan proses revitalisasi berjalan sesuai dengan ketentuan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Pada rapat kali ini disampaikan progress pemantauan berdasarkan laporan Bulan Agustus dan perkembangan pemantauan lapangan di Bulan September ini.
Berdasarkan kompilasi laporan fasilitator bulan Agustus, diperoleh informasi bahwa, pada Bulan Agustus 2026 target rata-rata sebesar 9,51 persen. Rerata target tertinggi adalah Kabupaten Kudus sebesar 15.65 persen dan target terendah di Kabupaten Purworejo sebesar 4.18 persen.
Capaian progres fisik bervariasi. Pada bulan Agustus 2026 capaian rerata progres fisik sebesar 14,85 persen. Rerata progres tertinggi adalah Kabupaten Semarang sebesar 37.07 persen dan rerata progres terendah di Kabupaten Sragen sebesar 6.74 persen.
Pada akhir Bulan Agustus 2026 (pekan keempat), dari seluruh Satpen sebagian besar memiliki deviasi positif sebanyak 80.92 persen atau 106 Satpen. Proporsi kedua adalah Satpen dengan deviasi sedang yaitu 8.40 persen (11 Satpen). Urutan ketiga adalah Satpen dengan deviasi tinggi sebanyak 6.11 persen (enam Satpen), dan terakhir Satpen deviasi rendah sebanyak 4.58 persen (enam Satpen).
Jika dibandingkan antara target dan realisasi, terlihat perkembangan yang progresif. Jika pada pekan pertama terdapat realisasi di bawah target, maka pada pekan kedua kondisi sudah seimbang antara target dan realisasi. Mulai pekan ketiga hingga pekan keempat (akhir Bulan Agustus) region Jawa Tengah I memiliki rerata realisasi lebih tinggi dari target (deviasi positif).
Ada 131 Satpen mengelola dana hibah sebanyak Rp96.148.343.000. Sampai dengan Bulan Agustus 2026 (pekan keempat) telah terserap dana sebanyak Rp14.170.645.765 (14.74 persen). Besaran serapan anggaran di bulan Agustus ini relatif seimbang dengan rerata progres fisik sebesar 14.85 persen.
Dari beberapa indikator progress fisik dan keuangan di atas, kemudian dilakukan identifikasi permasalahan dan alternatif solusinya untuk diaplikasikan di Bulan September. Selanjutnya mengacu pemantauan fasilitator, diperoleh informasi bahwa beberapa sekolah pada bulan September ini telah mencapai progress lebih dari 50 persen. Realisasi ini merupakan prestasi tersendiri karena melebihi target yang telah ditetapkan.
Berdasarkan penilaian kinerja yang dilakukan pihak kementerian kembali memberikan kesempatan UMS menjadi pemantau sekolah lainnya. “Ini merupakan bentuk keberlanjutan kolaborasi sekaligus pengakuan terhadap kontribusi UMS dalam mendukung pembangunan sektor pendidikan,” kata Nurhasan.
Pada kesempatan ini tim pelaksana pemantauan UMS memperoleh tambahan penugasan untuk mendampingi sebanyak 119 sekolah jenjang SMP. Personel tim masih ditambah 14 orang, terdiri dari satu koordinator seorang dosen Prodi Arsitektur, 12 Fasilitator yaitu satu orang dosen Teknik Sipil dan 11 alumni, serta satu orang tenaga administrasi berasal dari tendik.
Dengan tambahan tersebut, pada Tahun 2026 total sekolah yang menjadi cakupan pendampingan UMS mencapai 252 titik, melibatkan 32 orang sebagai tim pemantau.
“Ke depan, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah pusat diharapkan dapat terus diperkuat sehingga program revitalisasi sekolah memberikan manfaat berkelanjutan bagi satuan pendidikan, tenaga pendidik, dan peserta didik. Melalui kolaborasi tersebut, UMS berupaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan pendidikan nasional,” tandas Nurhasan.
SURAKARTA - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melalui Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan…
JAKARTA – PT Indosat Tbk (Indosat) secara resmi menetapkan perpanjangan masa jabatan Presiden Direktur dan…
SURAKARTA - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ menggelar Turnamen Bulutangkis Eksternal UMS 2026 dalam rangka…
SURAKARTA - Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendapat kesempatan mengenal…
SURAKARTA - Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat transformasi…
SOLO – Wacana duet Gibran Rakabuming Raka-Dedi Mulyadi atau KDM untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) Tahun…
This website uses cookies.