SOLO – Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menjadi tuan rumah seminar “AI and Innovative Tools for English Language Learning” pada Jumat (6/2/2026) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram. Acara ini menghadirkan tiga narasumber dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan diikuti oleh sivitas akademika UNS serta guru Bahasa Inggris di Solo Raya.
Tiga narasumber masing-masing membawakan materi yang berbeda namun berkaitan. Materi yang pertama bertajuk Beyond the Algorithm: Human Interaction in the Age of AI menghadirkan diskusi mendalam mengenai peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran bahasa. Acara ini menekankan bahwa meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan, interaksi manusia tetap menjadi inti dari proses belajar-mengajar yang bermakna.
RELO Director, Kevin McCaughey sebagai narasumber sesi ini membahas bagaimana AI dapat menjadi alat bantu yang sangat efektif bagi guru bahasa. AI mampu membantu tugas-tugas teknis seperti menjelaskan tata bahasa, menyusun rencana pembelajaran, mengoreksi tulisan siswa, hingga berperan sebagai tutor bahasa. Selain itu, AI juga membantu pekerjaan administratif, sehingga guru dapat menghemat waktu dan lebih fokus pada proses pembelajaran.
Namun demikian, Kevin menegaskan bahwa AI memiliki keterbatasan mendasar dalam hal interaksi manusia. AI tidak dapat mengelola dinamika kelas, membangun perhatian bersama, menggerakkan siswa secara fisik, maupun mengubah informasi menjadi aksi kolektif. Dalam konteks kelas nyata yang berisi 15 hingga 100 siswa, peran guru tetap krusial untuk mengelola energi sosial dan menjaga keterlibatan siswa.
Melalui contoh aktivitas pembelajaran sederhana tanpa teknologi, pemateri menunjukkan bahwa alat belajar yang minimal justru mampu mendorong partisipasi aktif siswa. Guru didorong untuk tidak hanya mengajarkan bahasa sebagai pengetahuan, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi bahasa sebagai keterampilan.
“Dalam hal ini, AI diposisikan sebagai alat pendukung, sementara interaksi manusia tetap menjadi pusat pembelajaran,” terang Kevin.
Sesi berikutnya, Using AI Tools for Academic Writing, menghadirkan English Language Fellow, Dr. Melanie Gobert yang membahas pemanfaatan AI dalam mendukung penulisan akademik. AI dinilai membantu dosen dan mahasiswa dalam menyusun draf, menyunting tulisan, serta mencari referensi, terutama dalam menghadapi hambatan bahasa, keterbatasan waktu, dan tuntutan publikasi internasional.
Meski begitu, Melanie mengingatkan adanya tantangan dalam penggunaan AI untuk penulisan akademik, seperti munculnya referensi palsu, bias bahasa dan budaya, keterbatasan akses teknologi, serta isu etika dan integritas akademik. Peserta diajak untuk bersikap kritis dan tidak menggunakan hasil AI secara langsung tanpa verifikasi.
Dalam sesi ini juga diperkenalkan berbagai alat AI, seperti ChatGPT, Gemini, dan Microsoft Copilot, beserta kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemateri menekankan pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab, termasuk memeriksa kebijakan jurnal, memastikan keabsahan referensi, serta melaporkan penggunaan AI apabila diminta, demi menjaga kejujuran dan kualitas karya ilmiah.
Sesi terakhir, Picture Your Progress: Using Vision Boards to Motivate and Practice English, dipandu oleh English Language Fellow, Magdalena Lynch Rojas, memperkenalkan penggunaan vision board sebagai media pembelajaran bahasa Inggris yang kreatif dan memotivasi. Vision board merupakan kumpulan gambar dan kata yang merepresentasikan harapan serta tujuan masa depan siswa.
Magdalena menjelaskan bahwa visualisasi memiliki dasar ilmiah dalam membantu pencapaian tujuan. Dengan membayangkan impian secara konkret, siswa menjadi lebih termotivasi dan berkomitmen terhadap tujuan akademik maupun pribadi mereka. Dalam pembelajaran bahasa, vision board membantu siswa berlatih kosakata, struktur kalimat, dan ungkapan yang berkaitan dengan rencana masa depan, seperti pendidikan, karier, dan tempat yang ingin dikunjungi.
Kegiatan ini dilakukan melalui pembuatan vision board secara sederhana maupun digital, kemudian dilanjutkan dengan gallery walk, di mana siswa saling melihat hasil karya, memberikan komentar, dan berdiskusi.
“Metode ini terbukti meningkatkan kepercayaan diri, motivasi belajar, serta keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Selain itu, guru juga dapat mengenal minat dan tujuan siswa secara lebih mendalam,” ujar Magdalena.
Melalui rangkaian kegiatan ini, menegaskan bahwa teknologi, termasuk AI, merupakan alat bantu yang berharga dalam pendidikan. Namun, interaksi manusia, kreativitas, dan peran guru tetap menjadi fondasi utama dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan.
SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan, butuh keterlibatan para mahasiswa dalam upaya bersama-sama…
SOLO — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menegaskan kiprahnya di panggung global melalui penyelenggaraan…
SOLO – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Salwa Talitha Zahra…
SEMARANG — Pedagang bakso di Jawa Tengah berdasarkan catatan Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Nusantara…
SOLO - Agama Islam merupakan agama yang tidak berkutat pada urusan spiritual. Islam juga menekankan…
SOLO - Perum BULOG Cabang Surakarta menegaskan komitmennya menjaga stabilitas pasokan dan harga minyak goreng…
This website uses cookies.