
SOLO – Sebanyak 147 mahasiswa Program Studi Profesi Fisioterapis, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengikuti pengambilan Sumpah Fisioterapis Angkatan X Tahun Akademik 2025/2026. Prosesi berlangsung di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Minggu (27/9/2026).
Sumpah Fisioterapis menjadi momentum bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional, sekaligus mengemban tanggung jawab memberikan pelayanan kepada masyarakat. Rangkaian kegiatan meliputi prosesi sumpah, pemberian penghargaan, sambutan, orasi ilmiah, paparan kode etik, dan ditutup dengan doa bersama.
Enam mahasiswa menerima penghargaan sebagai fisioterapis terbaik berdasarkan hasil Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) UKOMNAS. Pada kategori CBT, Terbaik 1 diraih Wahyu Andriawan, Ftr., Terbaik 2 Angelita Noor Ramadhini, Ftr., dan Terbaik 3 Alviana Rohali, Ftr. Sementara kategori OSCE, Terbaik 1 Dinda Rispati, Ftr., Terbaik 2 Dyah Retno, Ftr., dan Terbaik 3 Amanda Putri, Ftr.
Perwakilan fisioterapis baru, Wahyu Andriawan, menyampaikan bahwa perjalanan menjadi fisioterapis bukan hanya tentang pembelajaran akademik, tetapi juga proses belajar menghadapi manusia.
“Hari ini adalah sebuah perjalanan. Kita belajar menjadi fisioterapis, bagaimana menghadapi manusia. Saat ingin menyerah, mungkin dengan doa orang tua kami terus melangkah,” ujarnya.
Menurutnya, pencapaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga buah dari dukungan keluarga selama proses pendidikan.
“Pencapaian hari ini bukanlah milik kami pribadi, tetapi milik keluarga kita bersama dalam setiap prosesnya,” tambahnya.
Perwakilan orang tua mahasiswa, Dr. Ir. H. Ahmad Fauzi Ansori, M.T., yang merupakan orang tua Talitha Qanita, Ftr., turut menyampaikan rasa haru, bahagia, dan bangga atas keberhasilan para mahasiswa menyelesaikan pendidikan fisioterapi.
“Hari ini adalah hari kebahagiaan kami. Ada rasa haru, bahagia, dan bangga pada anak-anak kami yang menyelesaikan studi fisioterapis S1. Hari ini perjuangan telah terjawab,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi UMS yang telah mendampingi para mahasiswa selama menempuh pendidikan di perantauan.
“Kepada UMS, terima kasih telah menjaga anak-anak kami di tanah rantau ini,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pendidikan dan menjalani sumpah profesi. Ia menyebut sekitar 80 persen peserta yang disumpah telah bekerja.
“Atas nama UMS menyampaikan tahniah dan selamat atas wisuda dan sumpah profesi. Alhamdulillah, 80 persen dari yang disumpah pada hari ini sudah bekerja sebelumnya,” ungkapnya.
Harun mengajak para lulusan untuk bersyukur melalui hati dan amal nyata, serta tetap rendah hati setelah memasuki dunia profesi. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang tua.
“Meskipun sudah disumpah, tetaplah berendah hati dan juga berucaplah serta bersikaplah kepada orang tua dengan baik, karena rida orang tua adalah ridho Allah Ta’ala,” tuturnya.
Ia mendorong lulusan Fisioterapis UMS agar semakin banyak memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi dan membangun relasi menjadi bagian penting dalam menjadi penggerak perubahan.
“Lulusan Fisioterapis harus lebih banyak memberi kepada masyarakat. Seni bergaul atau komunikasi yang akan mengantarkan kita menjadi seorang pemenang dan penggerak perubahan,” katanya.
Ketua Umum Ikatan Fisioterapis Indonesia (IFI), Parmono Dwi Putro, Ftr., MM., menegaskan bahwa sumpah profesi merupakan momentum ketika ilmu berubah menjadi amanah dan profesi menjadi bentuk pengabdian.
“Hari ini bukan sekadar sumpah. Saat ini adalah hari di mana ilmu menjadi amanah dan ketika sebuah profesi menjadi sebuah pengabdian,” ujarnya.
Ia mengingatkan para fisioterapis untuk mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri. Sumpah profesi, menurutnya, harus menjadi kompas dalam menghadapi berbagai persoalan pekerjaan.
“Teknologi sekarang berkembang begitu cepat. Tapi perlu diingat, jangan sampai kita hilang jati diri. Jadikanlah sumpah menjadi kompas, menjadi pengingat atas semua permasalahan pelik di pekerjaan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya ilmu yang bermanfaat sebagai bagian dari amal, serta mengajak para fisioterapis terus bergerak memberikan kontribusi bagi kesehatan masyarakat.
“Mari kita gerakkan diri, fisioterapis bergerak, masyarakat bergerak, Indonesia sehat,” pungkasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Isa Hanafi, Ftr., menyampaikan orasi ilmiah mengenai transformasi clinical reasoning fisioterapi di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI). Ia menekankan bahwa AI dapat mempercepat akses terhadap informasi, tetapi kemampuan menilai dan menggunakan informasi secara tepat tetap menjadi tanggung jawab fisioterapis.
“Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu mendapatkan informasi, tetapi apakah kita mampu menilai informasi tersebut dan menggunakannya dengan tepat,” jelasnya.
Sementara itu, paparan Kode Etik Fisioterapi disampaikan Dr. Heri Priatna, SKM., Ftr., Sp.FOM. Ia menegaskan keterkaitan antara sumpah dan kode etik profesi.
“Sumpah adalah bukti keterikatan, dan kode etik adalah penjabaran daripada sumpah yang telah diucapkan,” ungkapnya.











