
SOLO – Ketika listrik padam selama dua jam, aktivitas di rumah mendadak berhenti. Usaha kecil terpaksa menghentikan produksi, dan pekerjaan yang bergantung pada listrik pun tertunda. Situasi inilah yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Pulau Jawa sepanjang Juni 2026 seiring terjadinya pemadaman listrik bergilir.
PLN mengalami gangguan pada dua pembangkit listrik besar serta kendala pasokan batu bara menjadi penyebab pemadaman listrik di sejumlah wilayah. Gangguan pada dua unit pembangkit besar tersebut membuat pasokan listrik terganggu, sehingga PLN menerapkan manajemen beban listrik atau pemadaman bergilir di beberapa daerah.
Berdasarkan catatan media, pemadaman terjadi di sejumlah daerah di seluruh provinsi di Pulau Jawa. Sebagian masyarakat mengaku, pemadaman tersebut datang tanpa pemberitahuan dari pihak PLN sehingga menimbulkan ketidakpastian.
Dosen Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Ir. Hasyim Asy’ari, S.T., M.T.,IPM menilai bahwa kejadian pemadaman bergilir menjadi pengingat penting untuk mulai memikirkan kemandirian energi di tingkat rumah tangga.
“Yang paling terdampak tentu masyarakat yang belum memiliki sistem cadangan listrik. UMKM, misalnya pembuat roti, ketika listrik padam mendadak mereka harus menghentikan produksi dan menunggu listrik menyala kembali,” ujarnya Rabu, (24/6/2026).
Menurut Hasyim, kondisi tersebut berbeda dengan institusi atau industri yang telah memiliki sumber listrik cadangan. Di UMS, misalnya, berbagai gedung telah dilengkapi genset untuk memastikan kegiatan akademik tetap berjalan.
Namun penggunaan genset juga memiliki konsekuensi tersendiri. Selain menimbulkan kebisingan dan emisi, biaya operasionalnya jauh lebih mahal karena membutuhkan bahan bakar secara terus-menerus.
Karena itu, Hasyim mendorong masyarakat untuk mulai mempertimbangkan penggunaan energi terbarukan, terutama panel surya.
“Kejadian ini sebenarnya sangat mendukung penggunaan energi terbarukan atau energi mandiri. Instalasi yang paling cepat dilakukan adalah panel surya karena teknologinya semakin terjangkau, perawatannya murah, dan pemasangannya relatif mudah,” jelasnya.
Ia menjelaskan, sistem panel surya tipe hybrid off-grid menjadi pilihan yang tepat untuk menghadapi pemadaman bergilir. Pada sistem tersebut, listrik yang dihasilkan panel surya pada siang hari dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah. Ketika produksi listrik berlebih, energi akan disimpan dalam baterai dan dapat dimanfaatkan saat malam hari atau ketika listrik PLN padam.
Dengan sistem tersebut, rumah tetap dapat memperoleh pasokan listrik meskipun jaringan PLN mengalami gangguan.
“Kalau rumah sudah menggunakan panel surya hybrid off-grid, ketika siang hari PLN mati, rumah akan tetap menyala normal,” tambah Hasyim.
Selain memasang sistem energi mandiri, Hasyim juga mengimbau masyarakat untuk lebih siap menghadapi pemadaman dengan menyediakan sumber penerangan darurat, mengisi penuh daya perangkat elektronik sebelum jadwal pemadaman, serta menyesuaikan aktivitas usaha yang sangat bergantung pada listrik.
Di sisi lain, Hasyim menilai PLN juga perlu meningkatkan komunikasi kepada pelanggan. Informasi mengenai jadwal maupun penyebab pemadaman dinilai penting agar masyarakat dapat melakukan antisipasi.
Menurutnya, keterbukaan informasi akan membantu rumah tangga, pelaku UMKM, hingga institusi pendidikan dalam mempersiapkan kebutuhan operasional, termasuk penyediaan bahan bakar genset atau penyesuaian jadwal kegiatan.
“Ketika masyarakat mengetahui jadwal dan penyebab pemadaman secara jelas, mereka bisa melakukan persiapan lebih baik sehingga dampaknya dapat diminimalkan,” katanya.
Hasyim menambahkan, dalam jangka panjang, PLN perlu terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan dan memperluas dukungan terhadap pemanfaatan panel surya di masyarakat. Inisiatif warga untuk menggunakan energi mandiri juga dinilai dapat membantu mengurangi beban sistem kelistrikan nasional dan terhindar dari blackout.
“Jadi inisiatif warga menggunakan energi terbarukan mandiri akan sangat membantu menstabilkan kelistrikan di titik mereka masing-masing tanpa harus membebani sistem pusat,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang belum memiliki cadangan listrik, Hasyim menyarankan agar mulai merencanakan investasi energi mandiri sesuai kemampuan, baik melalui genset maupun panel surya.
“Sebagai preferensi, kami sangat mendukung penggunaan panel surya karena selain menjadi cadangan saat listrik padam, juga merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” pungkasnya.











