Jumat, 7 Agustus 2026
Indospektrum
Advertisement
  • Home
  • News
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Gagasan
  • Indeks
  • Galeri
    • Foto
    • Video
No Result
View All Result
Indospektrum
  • Home
  • News
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Gagasan
  • Indeks
  • Galeri
    • Foto
    • Video
No Result
View All Result
Indospektrum
No Result
View All Result
Home Indeks

Alumni UMS Mengabdi di Sentani, Hadapi Tantangan Sosial hingga Pendidikan Karakter

Indospektrum by Indospektrum
25 Maret 2026
in Indeks, Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter
Alfin Nur Ridwan, lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 2025 yang saat ini sedang menjalani proses pengabdian selama satu tahun di Papua. Foto: Ist.

SOLO – Menjadi seorang guru yang mengabdi di wilayah terluar bukanlah perkara sederhana. Alfin Nur Ridwan merasakan betul bagaimana jarak, perbedaan budaya, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.

Ia tidak sekadar datang ke Sentani, Jayapura, untuk menjalankan kewajiban pengabdian pasca-studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Lebih dari itu, ia sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh melalui perjumpaan, keterasingan, dan tentu saja, tantangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tanggal 30 Januari 2026 menjadi penanda awal langkah dia di tanah Papua. Ia menceritakan kesan pertamanya di tanah Papua yang tidak sepenuhnya romantis atau penuh kekaguman. Ada rasa was-was yang perlahan ikut tumbuh, terutama dari cerita-cerita yang ia dengar dari para pendatang yang sudah puluhan tahun tinggal di tempat tersebut.

“Beberapa dari mereka dengan nada serius mengingatkan saya untuk berhati-hati ketika bepergian. Mereka bercerita bahwa kasus pencurian, khususnya motor, masih cukup sering terjadi. Pemalakan di titik-titik tertentu juga bukan hal yang sepenuhnya asing. Ditambah lagi, perilaku “minum” yang masih cukup melekat dan menjadi kebiasaan di sebagian kelompok masyarakat, yang dalam beberapa situasi bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

Ia tidak bisa memungkiri bahwa cerita-cerita itu membentuk semacam kewaspadaan dalam dirinya. Ada momen ketika ia harus berpikir dua kali sebelum pergi ke suatu tempat, atau memilih waktu yang lebih aman untuk beraktivitas. Sebagai pendatang, ia sadar betul bahwa ia bukan berada di wilayah yang sepenuhnya dia pahami.

Realitas di Papua tidak bisa ia lihat dari satu sisi saja. Di balik cerita-cerita yang membuat waspada itu, ia juga menemukan hal lain yang tidak kalah kuat, yakni nilai sosial masyarakat asli Papua yang justru hangat dan penuh penghormatan.

Selama perantau atau da’i datang dengan niat baik, menghargai mereka, dan tidak bersikap merendahkan, mereka pun menunjukkan sikap yang sangat terbuka. Alfin merasakan sendiri bagaimana mereka cukup peduli terhadap keberadaan pendatang.

“Dalam beberapa kesempatan, mereka justru memperlakukan saya dengan baik, bahkan tidak jarang menunjukkan kepedulian yang sederhana. Ada semacam etika sosial yang tidak tertulis, bahwa saling menghormati adalah kunci untuk bisa hidup berdampingan di sini,” ungkapnya.

Dari situ Alfin belajar akan setiap tempat yang pasti memiliki dua wajah. Tugasnya bukan memilih untuk percaya pada salah satunya, melainkan belajar membaca keduanya dengan bijak.

Jika ada satu hal yang benar-benar mengujinya di tanah Papua, maka itu adalah ruang kelas. Sebagai lulusan Hukum Ekonomi Syariah, dengan latar belakang aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Pers Mahasiswa, menjadi guru sekolah dasar bukanlah sesuatu yang pernah saya rencanakan secara serius.

“Dunia saya sebelumnya dipenuhi dengan diskusi, tulisan, dan analisis. Sementara di sini, saya berhadapan dengan anak-anak yang dunia berpikirnya masih dalam proses perkembangan kognitif, namun justru di situlah letak kerumitannya,” katanya.

Selama hampir dua bulan mengajar (mata pelajaran Kemuhammadiyahan), Alfin merasakan bahwa pendidikan tidak selalu soal transfer ilmu. Di banyak momen, pendidikan itu justru tentang membentuk sikap.

Alfin melihat secara langsung bagaimana anak-anak di sekolah tempatnya mengajar memiliki tantangan yang cukup berbeda dibandingkan dengan anak-anak di Pulau Jawa yang sejauh ini pernah ia jumpai.

Bukan soal kecerdasan, melainkan soal fondasi karakter. Bahasa kasar yang terlontar dengan ringan, emosi yang mudah meledak, hingga kurangnya penghormatan kepada yang lebih tua, semuanya menjadi pemandangan yang cukup sering ia jumpai.

Di titik itulah, Alfin mulai bertanya pada diri sendiri, “apa arti pendidikan jika tidak mampu menyentuh sisi paling dasar dari manusia?”

Menurutnya, pendidikan karakter bukan sekadar jargon yang sering diulang dalam sebuah diskusi, seminar, atau kurikulum. Pendidikan karakter adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keteladanan.

Ia menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Bahkan mungkin, dalam satu tahun pengabdian ini, Alfin tidak akan melihat hasil yang signifikan.

“Namun, saya percaya pada satu hal kecil, bahwa setiap kata yang kita ucapkan, setiap sikap yang kita tunjukkan, akan meninggalkan jejak. Mungkin hari ini mereka belum mengerti, tetapi suatu saat nanti, bisa jadi mereka akan mengingat, bahwa pernah ada seseorang di ruang kelas yang mencoba memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda,” ungkap Alfin penuh harap.

Selain mengajar di sekolah, Alfin juga mengabdikan diri untuk mengajarkan ngaji kepada anak-anak di dekat tempat tinggalnya. Mayoritas dari mereka masih berusia sekolah dasar. Dalam konteks Papua, dengan mayoritas penduduknya bukan beragama Islam, baginya aktivitas ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Mengajarkan Alquran di sini bukan hanya soal membaca huruf demi huruf. Itu adalah upaya menjaga keberlanjutan identitas, sekaligus menanamkan nilai-nilai dasar kepada generasi muda Muslim yang hidup dalam lingkungan yang berbeda,” ujarnya.

Tantangannya tentu tidak kecil. Minat belajar yang naik turun, tempat yang seadanya, hingga lingkungan sosial yang tidak selalu mendukung menjadi bagian dari dinamika yang harus Alfin hadapi. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang selalu membuatnya bertahan yaitu harapan.

Alfin melihat di mata anak-anak itu sebuah kemungkinan. Bahwa dengan pendekatan yang tepat, dengan kesabaran yang cukup, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mampu membaca Alquran, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Mengaji, dalam konteks ini, bukan sekadar aktivitas religius. Karena ada proses membangun kedekatan antara manusia dengan Tuhannya, dan antara sesama manusia. Ia juga belajar bahwa mengajarkan Alquran tidak bisa hanya mengandalkan metode tetapi membutuhkan hati.

“Dan mungkin, di sinilah letak esensi dari pengabdian itu sendiri. Diri saya tidak selalu diukur dari seberapa besar perubahan yang akan saya hasilkan, tetapi dari seberapa tulus diri ini menjalani prosesnya,” katanya.

Dua bulan mungkin masih terlalu singkat untuk menarik kesimpulan besar. Akan tetapi, bagi Alfin telah cukup untuk memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang mengubah Papua, melainkan tentang mengubah diri pribadi Alfin.

“Di tanah yang jauh dari rumah ini, saya belajar menjadi manusia, yang berarti siap untuk terus belajar tentang perbedaan, tentang kewaspadaan, dan tentang makna dari sebuah pengabdian,” pungkasnya.

Tags: UMSUniversitas Muhammadiyah Surakarta
Previous Post

Aksi Kemanusiaan, Ahmad Luthfi Tolong Korban Kecelakaan di Gombel Semarang

Next Post

Libur Lebaran Usai, Ahmad Luthfi Minta ASN Jateng Gas Pol Berikan Pelayanan

Indospektrum

Indospektrum

Related Posts

Suasana audiensi PPK Ormawa UMS bersama Pemkab Boyolali, Jumat (7/8/2026). Foto: Ist.
Indeks

UMS Gandeng Pemkab Boyolali Perkuat Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Lewat PPK Ormawa 2026

by Indospektrum
7 Agustus 2026
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat berbincang dengan Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono. Foto: Ist.
Indeks

Jajaki Peluang Investasi dan Kolaborasi, Pemprov Jateng Boyong Kepala Daerah Kunjungi IKN

by Indospektrum
7 Agustus 2026
Sebanyak 17 mahasiswa UMS  menyelesaikan kegiatan PLP 2 di SMA Batik 1 Surakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: Ist.
Indeks

Resmi Ditarik, Mahasiswa PLP UMS Sukses Jalankan Praktik Mengajar di SMA Batik 1 Surakarta

by Indospektrum
7 Agustus 2026
Dosen Hukum Ekonomi Syari’ah UMS, Fauzul Hanif Noor Athief, Lc., M.Sc. Foto: Ist.
Gagasan

Ingatkan Fenomena FOMO Kripto, Dosen UMS: Pelajari Ilmunya dan Risiko Sebelum Berinvestasi

by Indospektrum
7 Agustus 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin saat Rapat Koordinasi Daerah Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, Kamis, 6 Agustus 2026. Foto: Ist.
Indeks

Capaian Sudah 81%, Taj Yasin Dorong Percepatan Sensus Ekonomi 2026 di Jateng

by Indospektrum
6 Agustus 2026
Next Post
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi memimpin apel kerja bersama jajaran ASN, di halaman kantor Gubernur Jateng pada Rabu, 25 Maret 2026. Foto: Ist.

Libur Lebaran Usai, Ahmad Luthfi Minta ASN Jateng Gas Pol Berikan Pelayanan

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Currently Playing

Kategori

  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Indeks
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Uncategorized
  • Video

Rekomendasi

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Foto: Ist.
Uncategorized

Tekan Kasus Bullying di Jawa Tengah, Taj Yasin Dorong Sinergi Sekolah dan Orang Tua

7 Agustus 2026
Suasana audiensi PPK Ormawa UMS bersama Pemkab Boyolali, Jumat (7/8/2026). Foto: Ist.
Indeks

UMS Gandeng Pemkab Boyolali Perkuat Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Lewat PPK Ormawa 2026

7 Agustus 2026
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat berbincang dengan Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono. Foto: Ist.
Indeks

Jajaki Peluang Investasi dan Kolaborasi, Pemprov Jateng Boyong Kepala Daerah Kunjungi IKN

7 Agustus 2026
Sebanyak 17 mahasiswa UMS  menyelesaikan kegiatan PLP 2 di SMA Batik 1 Surakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: Ist.
Indeks

Resmi Ditarik, Mahasiswa PLP UMS Sukses Jalankan Praktik Mengajar di SMA Batik 1 Surakarta

7 Agustus 2026
Dosen Hukum Ekonomi Syari’ah UMS, Fauzul Hanif Noor Athief, Lc., M.Sc. Foto: Ist.
Gagasan

Ingatkan Fenomena FOMO Kripto, Dosen UMS: Pelajari Ilmunya dan Risiko Sebelum Berinvestasi

7 Agustus 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin saat Rapat Koordinasi Daerah Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, Kamis, 6 Agustus 2026. Foto: Ist.
Indeks

Capaian Sudah 81%, Taj Yasin Dorong Percepatan Sensus Ekonomi 2026 di Jateng

6 Agustus 2026
Facebook Instagram Twitter Youtube
Indospektrum

Indospektrum adalah portal berita yang mengonfirmasi data dan fakta dengan sumber informasi.

Kategori

  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Indeks
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Uncategorized
  • Video
  • Tentang Kami
  •  
  • Tim Redaksi
  •  
  • Kontak Kami

© 2026 - Indospektrum

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Gagasan
  • Indeks
  • Galeri
    • Foto
    • Video

© 2026 - Indospektrum