Categories: EkonomiIndeks

BUMD Digadang-gadang Jadi Katrol Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait pengawasan terhadap BUMD dan bank daerah, di gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (1/4/2026). Foto : Ist.

SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di wilayahnya agar menjadi katrol pendapatan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Hal tersebut terpicu dari kinerja sepanjang Tahun 2025 yang menunjukkan tren positif.

Hal itu disampaikan saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait pengawasan terhadap BUMD dan bank daerah, di gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (1/4/2026).

Luthfi membeberkan, BUMD kabupaten/kota di Jawa Tengah saat ini berjumlah 122 entitas, yang terdiri atas 33 BUMD lembaga keuangan, 54 BUMD aneka usaha dan 35 BUMD air minum. Total aset tercatat Rp15,445 triliun, laba bersih Rp587,684 miliar dan Return on Asset (ROA) 3,80 persen, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 173 dewan komisaris, 186 direksi dan 11.625 pegawai.

Sementara untik BUMD milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berjumlah 41 entitas. Hingga 2025, total aset BUMD provinsi mencapai Rp118,038 triliun, laba bersih Rp1,775 triliun dan ROA 1,50 persen. Pada tahun yang sama, dividen hasil usaha tercatat Rp732,388 miliar dengan Return on Investment (ROI) 18,31 persen.

Berdasarkan hasil Rakor RPJMD tanggal 13 Maret 2025, target setoran dividen Tahun 2026 – 2030 juga diproyeksikan terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 10,58 persen. “Prinsipnya BUMD adalah harus untung. Ora untung, ora usah dadi BUMD,” tegas Luthfi.

Luthfi menyebutkan, Bank Jateng menjadi tulang punggung penguatan keuangan daerah di Jawa Tengah. Selain menopang transaksi keuangan pemerintah daerah, Bank Jateng juga didorong mendukung sektor produktif, UMKM, ketahanan pangan, pembiayaan perumahan, hingga digitalisasi layanan keuangan daerah.

Luthfi juga menunjukkan keberpihakan BUMD keuangan terhadap UMKM. Sebaran kredit PT BPR BKK (Perseroda) pada 2025 mencapai Rp10,823 triliun, dengan komposisi 71 persen kredit produktif dan 29 persen kredit lainnya. Sementara penjaminan produktif tercatat Rp1,630 triliun, dengan porsi terbesar untuk sektor UMKM.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima menilai, BUMD di Jateng, terutama yang bergerak dalam bidang perbankan berpeluang menjadi percontohan nasional apabila mampu menjaga kinerja tetap sehat, akuntabel dan berdampak langsung terhadap pembangunan daerah.

Menurut dia, bank daerah tidak boleh hanya dipandang sebagai institusi perbankan yang mengejar keuntungan semata. Namun juga sebagai alat pembangunan daerah, penggerak ekonomi lokal, mitra pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan, penopang pembiayaan sektor produktif, sekaligus sumber kontribusi nyata terhadap pendapatan asli daerah.

“Bank daerah tidak boleh dilihat hanya sebagai institusi perbankan biasa yang mengejar keuntungan semata. Bank daerah adalah BUMD yang dibentuk dengan mandat yang lebih luas,” kata Aria Bima.

Ia menilai ukuran keberhasilan bank daerah tidak cukup hanya dilihat dari laba dan setoran dividen, tetapi juga dari dampaknya terhadap pembangunan, pemerataan ekonomi, dan penguatan kapasitas fiskal daerah.

Karena itu, mereka mendorong agar kontribusi bank daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) benar-benar sehat, berkelanjutan, serta diperoleh melalui tata kelola yang baik, ekspansi usaha yang prudent dan manajemen risiko yang kuat.

Anggota Komisi II DPR RI, Edy Oloan Pasaribu menambahkan, Jawa Tengah berpeluang menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan BUMD. “Jawa Tengah bisa menjadi pilot project untuk melihat bagaimana bank daerah dapat mempertanggungjawabkan setiap kebijakan dan keputusan strategisnya, baik dari aspek fiskal maupun sosial kepada publik,” ujarnya.

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki peluang besar melahirkan daerah percontohan yang mampu bertahan, tumbuh, dan mandiri secara fiskal di tengah tantangan nasional.

Ia menambahkan, tantangan terbesar pemerintah daerah saat ini adalah menurunkan angka kemiskinan. Karena itu, kepala daerah didorong memiliki visi besar, inovasi, dan sense of entrepreneurship dalam menjalankan pemerintahan, termasuk mengaktifkan aset-aset daerah agar dapat memberi kontribusi terhadap PAD dan kesejahteraan masyarakat.

Melalui kunjungan kerja ini, Komisi II DPR RI berharap Jawa Tengah dapat terus memperkuat tata kelola BUMD dan bank daerah, sekaligus menjadikannya instrumen strategis untuk mendorong pembangunan daerah, meningkatkan PAD, dan memperluas kesejahteraan masyarakat.

Indospektrum

Recent Posts

Viral Aksi Moshing Mahasiswa di Pendopo, Rektor ISI Solo Minta Maaf dan Siapkan Sanksi

SOLO - Aksi sejumlah orang diduga mahasiswa melakukan moshing di Pendopo Institut Seni Indonesia (ISI)…

24 menit ago

FAI UMS Perluas Jejaring Internasional Lewat Program Student Mobility 2026 ke PSU Thailand

SOLO - Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperluas jejaring akademik internasional…

5 jam ago

Jateng Uji Coba Taksi Listrik dan Siapkan Elektrifikasi Trans Jateng

SEMARANG - Jawa Tengah mulai menggeser wajah transportasinya ke arah energi bersih. Sebanyak sekitar 10…

7 jam ago

Jateng Bersholawat: Ribuan Warga Doakan Kesejahteraan Daerah dan Korban Bencana Nasional

SEMARANG - Ribuan warga memadati halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah dalam gelaran Jateng Bersholawat pada…

11 jam ago

Aksi Interaktif Raim Laode Sukses Bikin Ribuan Mahasiswa Baru UNS Sing Along di Semar Night Festival 2026

SOLO — Kehadiran penyanyi dan komedian Raim Laode berhasil memeriahkan Semar Night Festival 2026 yang…

1 hari ago

Menteri PPPA Dorong Kampung Dolanan Sidowayah Jadi Model Ruang Ramah Anak dan Perempuan

SOLO — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi menegaskan pentingnya kolaborasi…

1 hari ago

This website uses cookies.