
SOLO – Belajar akuntansi tidak selalu berarti duduk di ruang kelas, bergelut dengan angka, jurnal, dan laporan keuangan. Bagi Vika Yulvani, mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, proses belajar justru membawanya melintasi ribuan kilometer dari Indonesia hingga Tashkent, Uzbekistan.
Pada awal 2026, Vika mengikuti International Credit Transfer Program di Millat Umidi University, Tashkent, Uzbekistan. Selama Januari hingga Mei 2026, mahasiswa asal Pekalongan yang saat itu masih berada di semester empat tersebut menjalani perkuliahan sekaligus menghadapi pengalaman belajar di lingkungan internasional.
Kesempatan itu menjadi ruang bagi Vika untuk menguji kemampuannya di luar lingkungan yang selama ini dikenalnya. Tidak hanya menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahan yang berbeda, ia juga harus berkomunikasi di tengah keterbatasan bahasa serta beradaptasi dengan kehidupan sosial dan budaya di negara baru.
Meski berpindah negara dan kampus, Vika tetap menjaga agar pengalaman internasionalnya relevan dengan bidang keilmuan yang sedang ditekuninya. Ia memilih sejumlah mata kuliah yang linear dengan Program Studi Akuntansi.
“Namun, sistem pembelajaran yang ditemui di Millat Umidi University memberikan pengalaman berbeda. Perkuliahan tidak hanya berpusat pada penyampaian teori, tetapi juga dilengkapi sesi lecture untuk memahami konsep dan seminar yang memberikan ruang bagi mahasiswa membedah kasus serta menyelesaikan persoalan secara langsung di kelas,” ujar Vika (1/9/2026).
Pendekatan tersebut membuat Vika semakin terbiasa memahami materi melalui penerapan. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya datang dari mata kuliah Entrepreneurship.
Bersama mahasiswa lainnya, ia mengembangkan proyek bisnis rintisan. Melalui proses tersebut, Vika belajar memahami berbagai persoalan bisnis secara lebih praktis, mulai dari strategi penetapan harga hingga manajemen risiko.
Pengalaman itu membuatnya melihat akuntansi dari perspektif yang lebih luas. Akuntansi, menurutnya, bukan hanya berkaitan dengan angka yang harus dihitung secara tepat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan sebuah bisnis.
Perjalanan akademik Vika di Uzbekistan juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Keterlambatan keberangkatan membuatnya tiba ketika proses perkuliahan telah berlangsung. Ketika mahasiswa lain telah mengikuti ritme kelas, Vika harus mengejar materi yang tertinggal sekaligus menyelesaikan berbagai tuntutan akademik yang terus berjalan.
“Tantangan lainnya hadir di luar ruang kelas. Bahasa Inggris tidak selalu menjadi solusi ketika saya berinteraksi dengan masyarakat setempat. Sejumlah pedagang dan warga lebih nyaman menggunakan bahasa lokal sehingga aktivitas sederhana, seperti membeli kebutuhan sehari-hari maupun bepergian, menjadi bagian dari proses adaptasi,” tambahnya.
Kemandirian juga terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam urusan makan. Untuk menjaga pengeluaran selama tinggal di Uzbekistan, Vika bersama teman sekamarnya memilih memasak sendiri.
“Telur, kubis, makaroni, dan berbagai bahan makanan yang mudah diperoleh menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebiasaan sederhana tersebut sekaligus mempertemukan ilmu yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata, khususnya tentang menentukan prioritas dan mengelola sumber daya yang terbatas,” papar mahasiswa UMS itu.
Vika tidak ingin empat bulan tinggal di Uzbekistan hanya tersimpan sebagai cerita tentang kampus dan tugas. Di sela aktivitas perkuliahan, ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenal negara yang menjadi rumah sementaranya.
Bersama teman-temannya, Vika mengunjungi sejumlah tempat bersejarah, termasuk makam Imam Al-Bukhari di Samarkand. Perjumpaan dengan tempat, kebiasaan, dan masyarakat dari berbagai latar belakang memberikan perspektif baru yang tidak selalu diperoleh melalui buku maupun ruang kuliah.
Pengalaman berada dalam lingkungan internasional juga melatih kepercayaan dirinya. Melalui diskusi dan presentasi, Vika belajar menyampaikan gagasan di hadapan mahasiswa dari latar belakang yang beragam.
Ia tidak hanya belajar memahami materi akademik dalam konteks yang berbeda, tetapi juga belajar membawa dirinya sebagai mahasiswa Indonesia di tengah lingkungan global.
Sebelum berangkat ke Uzbekistan, perjalanan akademik Vika telah bertumbuh di lingkungan UMS. Sebagai mahasiswa Akuntansi UMS, ia berupaya memastikan kesempatan belajar di luar negeri tetap memberikan manfaat bagi bidang keilmuan yang sedang ditekuninya.
Di luar aktivitas akademik, Vika juga merupakan penerima BSI Scholarship. Berbagai pembinaan yang diikutinya turut memberikan ruang pengembangan diri dan mendorongnya untuk lebih berani mengambil kesempatan yang dapat memperluas kapasitas. Ketika akhirnya berada di Tashkent, seluruh bekal tersebut tetap harus dibuktikan melalui pengalaman nyata.
Empat bulan di Uzbekistan akhirnya memberikan Vika pengalaman yang tidak seluruhnya dapat tercantum dalam transkrip akademik. Baginya, kesempatan besar tidak selalu datang ketika seseorang merasa telah sepenuhnya siap. Terkadang, keberanian untuk mengambil langkah pertama justru menjadi bagian dari proses untuk mempersiapkan diri.
“Jangan pernah takut untuk mengambil kesempatan dan keluar dari zona nyaman,” pesan Vika.
Ia percaya mahasiswa perlu mempersiapkan kemampuan akademik dengan baik sekaligus membuka diri terhadap budaya dan pengalaman baru. Sebab, berbagai tantangan selama perjalanan bukan hanya sesuatu yang harus dilewati, melainkan juga ruang untuk belajar mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan mengenali kemampuan diri sendiri.











