Categories: GagasanIndeks

Dosen UMS: Islam Tegaskan Pentingnya Siapkan Generasi Mandiri secara Finansial

Dosen FAI UMS, Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. Foto: Ist.

SOLO – Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Kedamaian, kasih sayang, hingga kesejahteraan termuat dalam konsep Islam rahmatan lil alamin. Islam memandang pentingnya membentuk generasi kuat. Kuat secara fisik, pendidikan, hingga finansial atau ekonomi.

Dalam Q.S. An-Nisa ayat 9 menegaskan bahwa terdapat kewajiban bagi umat muslim untuk membentuk generasi yang kuat. Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., menyebutkan bahwa ayat tersebut menekankan pada penguatan finansial untuk anak sebagai generasi penerus orang tua.

Hakimudin menerangkan bahwa asbabun nuzul ayat ini bermula pada saat seorang laki-laki yang berada dalam fase sakaratul maut dan akan meninggalkan harta banyak. Harta peninggalan tersebut akan diwasiatkan penuh kepada orang-orang kurang mampu di luar keluarga kandungnya. Namun, keinginan tersebut mendapat teguran dari Allah.

Hal demikian juga terjadi pada sebuah kisah Sa’ad bin Abi Waqqash yang meminta izin kepada Rasulullah untuk mewasiatkan dua pertiga hingga sepertiga hartanya untuk diberikan kepada orang lain. Akan tetapi, Rasulullah juga melarangnya, serta memberikan perintah untuk lebih mengutamakan meninggalkan harta banyak kepada anak-anak keturunannya, agar tidak hidup pada kemiskinan setelah ditinggalkannya.

“Dalam pembahasan fiqih warisan, disebutkan bahwa seseorang tidak boleh mewasiatkan hartanya lebih dari sepertiga kepada selain keluarganya. Agar ahli waris tidak berkurang haknya,” jelasnya, Rabu (9/9/2026).

Ia mengatakan ayat tersebut menunjukkan syariat yang memperhatikan terhadap generasi mandiri dan aman secara finansial. Ketika kebutuhan finansial keluarga terpenuhi, akan menciptakan kehidupan yang sejahtera pasca-ditinggal oleh keluarga terdekatnya.

Secara implisit, ayat tersebut menekankan kepada orang tua untuk memberikan perhatian dan pendidikan manajerial finansial. Menurutnya, pendidikan ekonomi masih sering dikesampingkan oleh orang tua ketika seorang anak dalam fase berkembang ke masa dewasa.

“Para orang tua seringkali melihat kedewasaan seorang anak dinilai pada perubahan biologisnya saja, jauh daripada itu, mempersiapkan kedewasaan dalam beragama dan kesiapan finansial juga perlu diperhatikan,” terangnya.

Minimnya pemahaman pengelolaan finansial memberikan dampak negatif dalam keberlanjutan kehidupan anak. Ketergantungan dan ketidakmandirian anak dalam mengelola finansial turunan dari orang tuanya, menjadi salah satu contoh penyebab tidak terdapat pemahaman tata kelola finansial

“Salah satu permasalahan pendidikan kedewasaan saat ini terletak pada pendidikan ekonomi anak. Banyak anak yang telah duduk di bangku perkuliahan, bahkan hingga telah berkeluarga sendiri, masih menggantungkan dirinya kepada orang tuanya,” ujar Hakimuddin

Dalam pandangan Islam, kewajiban orang tua dalam menafkahi anak terdapat batasannya. Pada kitab Subulus Salam karya Imam Ash-Shan’ani dijelaskan bahwa kewajiban orang tua memberikan nafkah kepada anak cukup sampai pada usia baligh atau sampai menikah bagi anak perempuan, kecuali jika anaknya sakit parah.

“Artinya, setelah anak-anak kita menginjak masa baligh, tidak menjadi kewajiban untuk memberi nafkah keepada anak. Ini merupakan konsep pendidikan Islam,” tuturnya.

Pembatasan Islam dalam memberikan nafkah kepada anak, bukan berarti menjadi sebuah larangan. Menurut Hakimuddin, Islam tetap memperbolehkan orang tua memberikan nafkah kepada anak, sebagai bentuk ihsan atau kebaikan tambahan.

Di antara nilai-nilai pendidikan ekonomi Islam adalah menanamkan tauhid rububiyah bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Hakimuddin mengatakan bahwa penanaman ini menjadi antisipasi dari praktik korupsi atau praktik kemaksiatan yang lainnya dalam proses memperoleh penghasilan.

Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa kehidupan sejahtera hanya diperoleh dengan gaya hidup yang sederhana. Banyak masyarakat yang menderita hanya karena terjerat oleh hedonisme hidup yang diturutinya. Hal ini sejalan dengan konsep hidup Rasulullah yang selama menjadi pemimpin dengan kesederhanaan hidupnya.

Indospektrum

Recent Posts

Kuliah Umum di UMS, Wamenkes Soroti Pemerataan Dokter dan Kebutuhan Tenaga Medis di Daerah

SOLO - Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar kuliah umum pada Rabu…

59 menit ago

Pemprov Jateng Raih Penghargaan Layanan Investasi Terbaik Ketiga di Nasional pada ALI 2026

JAKARTA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerima penghargaan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi sebagai provinsi…

1 jam ago

Belajar Kepemimpinan, Puluhan Santri Isy Karima Karanganyar Temui Gus Yasin

SEMARANG — Puluhan santri Ma'had Tahfidzul Quran Isy Karima IMTAQ Shighor Program Khusus Kabupaten Karanganyar,…

6 jam ago

Taj Yasin Ajak Generasi Muda Kenali Sejarah dan Peradaban Lewat Museum

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak generasi muda untuk lebih mengenal…

6 jam ago

Inovasi Platform BenerinAja Karya Mahasiswa UMS Lolos ke KMI Expo 2026

SOLO - Berangkat dari kebutuhan masyarakat terhadap layanan reparasi perangkat elektronik yang mudah dan terpercaya,…

7 jam ago

Mahasiswa Pendidikan Geografi UMS Sabet 2 Medali Emas di Ajang Internasional IIIEX 2026

SOLO - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali menorehkan prestasi…

8 jam ago

This website uses cookies.