Categories: GagasanIndeks

Guru Besar UMS Tawarkan Cara Kelola Stres Melalui Pendekatan Revitalisasi Energi Otak

Guru Besar bidang kepakaran Ilmu Keperawatan Jiwa FIK UMS, Prof Arum Pratiwi S.Kp M.Kes Ph.D saat memberikan pemaparan di depan wartawan. Foto : Ist.kesehata

SURAKARTA – Isu kesehatan mental yang kian kompleks di tengah tekanan kehidupan modern mendorong pentingnya pendekatan baru dalam menjaga keseimbangan jiwa. Revitalisasi energi otak melalui manajemen stres menjadi salah satu strategi kunci untuk mencapai kesehatan jiwa yang optimal.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof Arum Pratiwi S.Kp M.Kes Ph.D, dalam jumpa pers pengukuhan Guru Besar ke – 72 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Senin (27/4/2026). Ia akan dikukuhkan bersama Prof Kussudyarsana pada Rabu (29/4/2026) di Auditorium Moh Djazman.

Dalam pemaparannya, Arum menekankan bahwa revitalisasi bukan sekadar “mengisi ulang” energi seperti konsep recharge, melainkan proses memperbaiki sekaligus meningkatkan fungsi otak. Otak manusia, menurutnya, memiliki sistem energi internal yang terus diperbarui melalui metabolisme berbasis glukosa dan oksigen yang kemudian diubah menjadi energi untuk aktivitas neuron.

“Energi otak yang optimal sangat menentukan bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Ketika energi ini terganggu, maka fungsi kognitif dan emosional juga ikut terdampak,” jelas Guru Besar bidang kepakaran Ilmu Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK).

Ia menambahkan, fungsi otak dalam mengelola emosi melibatkan berbagai struktur penting seperti amigdala, hippocampus dan prefrontal cortex. Ketidakseimbangan pada sistem ini dapat memicu berbagai respons seperti kecemasan, ketakutan, hingga gangguan jiwa yang lebih berat.

Arum menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak bersifat statis, melainkan berada dalam sebuah spektrum atau rentang. Mulai dari kondisi sehat, stres, gangguan penyesuaian, gangguan kecemasan, gangguan mood, hingga gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.
Setiap kondisi tersebut memiliki mekanisme aktivitas listrik dan kimia otak yang berbeda. “Individu bisa bergerak dari satu kondisi ke kondisi lain tergantung pada tingkat stres dan kemampuan adaptasi. Di sinilah pentingnya intervensi yang tepat, termasuk terapi untuk merevitalisasi fungsi otak,” jelasnya.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah terapi kognitif sebagai strategi revitalisasi energi kejiwaan. Terapi ini berfokus pada perubahan pola pikir negatif menjadi positif melalui stimulasi berulang yang dapat memperkuat koneksi antar neuron.

Menurut Arum, proses tersebut tidak hanya melibatkan aspek biologis, tetapi juga psikologis, sosial dan spiritual. Dalam perspektif Islam, ia mengutip makna dari Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 216 yang menekankan pentingnya berpikir positif terhadap setiap ketetapan.

Selain itu, ia juga menyinggung hadis riwayat Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya hati (kalbu) sebagai pusat kendali perilaku manusia. “Kalbu yang baik akan menghasilkan perilaku yang baik. Maka revitalisasi energi otak harus selaras dengan kebersihan hati dan kekuatan spiritual,” imbuhnya.

Dalam praktiknya, terapi kognitif dilakukan melalui beberapa tahapan, di antaranya identifikasi pikiran negatif, reframing atau mengubah sudut pandang, serta teknik relaksasi seperti meditasi, murotal dan musik yang merangsang gelombang otak.

Arum juga memaparkan berbagai hasil riset yang telah dilakukannya dalam lima tahun terakhir, mulai dari studi pada pasien psikosis, penderita tuberkulosis dengan stigma sosial, hingga keluarga pasien gangguan jiwa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa intervensi berbasis manajemen stres dan pendekatan spiritual mampu membantu meningkatkan kondisi psikososial pasien.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua kondisi dapat sepenuhnya dipulihkan, khususnya pada kasus degenerasi otak akibat penuaan atau penyakit neurodegeneratif. Upaya revitalisasi dalam kondisi ini lebih difokuskan pada peningkatan fungsi optimal dan kualitas hidup pasien.

“Tidak ada cara untuk membalikkan proses penuaan, tetapi kita tetap bisa mengoptimalkan fungsi otak yang ada melalui pendekatan yang tepat,” jelasnya.

Arum menegaskan bahwa sumber energi psikis sejatinya berasal dari dalam diri manusia, termasuk dari kekuatan kalbu yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Ia berharap keperawatan jiwa dapat terus berkontribusi dalam membantu individu dengan masalah psikososial maupun gangguan jiwa untuk mencapai kondisi mental yang lebih optimal.

“Revitalisasi energi otak bukan hanya konsep ilmiah, tetapi juga ikhtiar holistik untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, emosi dan spiritualitas,” pungkasnya.

Indospektrum

Recent Posts

FMTI 2026 Jangkau 10 Kota di Indonesia: Upaya Merawat dan Mengembangkan Ekosistem Musik Tradisi

SOLO — Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 kembali hadir sebagai ruang penguatan ekosistem musik…

37 menit ago

Jokowi Soal Gugatan Keabsahan Pencalonan Wapres Gibran, Beberkan Riwayat Pendidikan Sang Putra

SOLO - Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara mengenai gugatan keabsahan pencalonan Wakil Presiden…

3 jam ago

Borong 36 Gelar di MTQ Nasional XXXI, Kafilah Jateng Terima Bonus Uang hingga Hadiah Umrah

SEMARANG – Perjuangan kafilah Jawa Tengah di gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun…

4 jam ago

FEB UMS Lepas 270 Calon Alumni, Lulusan Dimotivasi agar Terus Berkarya

SURAKARTA - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melepas 270 calon…

23 jam ago

Pemprov Kejar Penurunan Angka Kemiskinan Jateng jadi 8,70 Persen Sampai Akhir 2026

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah manergetkan angka kemiskinan di wilayahnya turun menjadi 8,70 persen…

24 jam ago

Dukung Timnas, Pemprov Jateng Ajak Warganya Nobar FIFA ASEAN Cup 2026 di Halaman Kantor Gubernur

SEMARANG — Guna memberikan dukungan kepada timnas Indonesia yang berlaga di ajang FIFA ASEAN Cup…

24 jam ago

This website uses cookies.