
SOLO – Masa Ta’aruf (MASTA) Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 2026 berlangsung di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Kamis (3/9/2026). Setelah seremoni pembukaan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Orasi Ilmiah yang menghadirkan Ismail Fahmi, Ph.D., Founder Drone Emprit, sekaligus Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kehadiran Ismail Fahmi memberikan perspektif kepada mahasiswa baru mengenai perkembangan teknologi, informasi, dan transformasi digital yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.
Materi tersebut menjadi relevan dengan perjalanan mahasiswa sebagai generasi masa depan yang tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga dituntut mampu membaca perubahan, memanfaatkan teknologi secara bijak, mengembangkan literasi digital, serta menghasilkan gagasan dan inovasi yang memberikan dampak.
Dalam materinya, Ismail Fahmi menyoroti penggunaan media sosial di kalangan generasi Z. Ia menyampaikan bahwa Gen Z Indonesia menghabiskan sekitar empat hingga enam jam per hari di media sosial.
“Jika waktu tersebut dihitung selama empat tahun masa kuliah, empat jam per hari dapat setara dengan lebih dari dua semester yang dihabiskan untuk scrolling,” ujarnya.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti pada konsumsi informasi di media sosial. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis dan mampu menentukan informasi serta gagasan yang layak dikembangkan.
“Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people,” ungkapnya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa algoritma media sosial dapat membawa pengguna pada pola konsumsi informasi tertentu.
“Algoritma medsos menjebak kita di level paling bawah,” lanjutnya.
Selain literasi digital, Ismail Fahmi mengajak mahasiswa melihat perubahan peradaban dan perkembangan pusat ilmu pengetahuan dari masa ke masa.
“Pada QS. Ali Imran ayat 140 yang menjelaskan tentang pergiliran masa kejayaan di antara manusia. Maka dari itu, kalian sebagai mahasiswa harus mengambil peran dalam perkembangan masa depan,” katanya.
Menurut Ismail Fahmi, mahasiswa juga perlu membangun solidaritas dan tujuan bersama.
“Hal tersebut sesuai dengan konsep ‘ashabiyyah dari Ibnu Khaldun yang dimaknai sebagai solidaritas kolektif serta tujuan bersama yang lebih besar dari diri sendiri,” lanjutnya.
Pembahasan kemudian berlanjut pada cara gagasan menyebar di tengah generasi muda. Ismail Fahmi mengaitkan konsep meme sebagai unit ide yang dapat mereplikasi diri dengan cara penyebaran nilai melalui media yang dekat dengan masyarakat.
“Sebagai contoh, Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang dan Sunan Bonang yang menggunakan tembang sebagai media menyampaikan nilai,” pesannya.
Dari pembahasan tersebut, ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya terampil membuat konten, tetapi juga memikirkan gagasan yang dibawa.
“Kalian jago bikin meme. Tapi apa isinya?” tanyanya di depan ribuan mahasiswa.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Ismail Fahmi juga mendorong mahasiswa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai sarana untuk menghasilkan karya dan inovasi.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi didorong menjadi kreator. Bukan cuma pengguna AI. Jadi kreator,” tegas Ismail Fahmi.
Ia menunjukkan sejumlah contoh pemanfaatan AI, mulai dari game edukatif tentang keislaman dan kemuhammadiyahan, kalkulator zakat penghasilan interaktif, tanya jawab fatwa sehari-hari, smart farming berbasis IoT, hingga AI untuk clinical decision support system.
Untuk membekali mahasiswa menghadapi perubahan tersebut, Ismail Fahmi merumuskan empat hal yang perlu dimiliki mahasiswa.
“Yang harus kalian lakukan adalah berpikir kritis, membangun komunitas, menggunakan alat zaman ini, dan mengambil tanggung jawab,” pesannya.
Pesan tersebut juga dikaitkan dengan keteladanan KH Ahmad Dahlan yang tidak menunggu kondisi ideal untuk bergerak. Dari langkah kecil yang berani, lahir berbagai amal usaha Muhammadiyah, termasuk UMS.
Dalam konteks tema I’M UMS, kemampuan membaca perubahan, memanfaatkan teknologi secara bijak, mengembangkan literasi digital, serta menghasilkan gagasan dan inovasi menjadi bagian dari karakter mahasiswa yang unggul dan mendunia.
Seluruh kemampuan tersebut tetap ditempatkan dengan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dalam menghadapi perkembangan zaman.
Pada bagian akhir materi, Ismail Fahmi mengajak mahasiswa menentukan posisi mereka dalam perubahan yang sedang berlangsung.
“Apakah mahasiswa hanya akan menjadi penonton atau mengambil peran dalam menggerakkan perubahan?,” pungkasnya.











