Categories: Gaya HidupIndeks

Hari Gizi Nasional 2026: Dokter UNS Tekankan Pentingnya Gizi Seimbang Dibanding Sekadar Kenyang

Dokter UNS Solo, dr. Dewi Wulandari, M.K.M. Foto: Ist.

SOLO – Peringatan Hari Gizi Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk kembali merefleksikan peran gizi dalam membangun kesehatan masyarakat dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mengambil peran aktif dalam momentum tersebut melalui diskusi edukatif bertajuk “Makan Bukan Asal Kenyang, Yuk Kenali Gizi Seimbang!” bersama Dokter UNS, dr. Dewi Wulandari, M.K.M.

Diskusi bertujuan memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa gizi bukan sekadar pemenuhan rasa lapar, tetapi fondasi penting dalam mendukung kesehatan optimal dan kemajuan bangsa. Dalam paparannya, dr. Dewi menekankan bahwa permasalahan gizi di Indonesia hingga saat ini masih menjadi tantangan serius.

Beberapa masalah gizi yang paling menonjol antara lain stunting pada balita dan obesitas. Meskipun prevalensi stunting menunjukkan tren penurunan pada tahun 2023, upaya berkelanjutan tetap dibutuhkan agar penurunan tersebut dapat terus terjadi di tahun-tahun mendatang. Sementara itu, angka obesitas mengalami peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir, dari 10,5 persen pada tahun 2007 menjadi 21,8 persen pada tahun 2018. Obesitas sendiri merupakan faktor risiko utama penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus yang banyak ditemui di Indonesia.

Lebih lanjut, dr. Dewi menjelaskan konsep gizi seimbang, yaitu pola konsumsi harian yang mampu memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien tubuh. Makronutrien meliputi protein (15–20 persen), lemak (25–30 persen), dan sisanya karbohidrat sebagai sumber energi utama. Sedangkan mikronutrien mencakup vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam jumlah lebih kecil namun sangat esensial bagi fungsi tubuh.

Untuk memudahkan penerapan gizi seimbang, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan pedoman “Isi Piringku”, yang merekomendasikan pembagian porsi makan meliputi sumber protein hewani dan nabati, karbohidrat, buah-buahan, serta sayur-sayuran. “Pedoman ini menjadi acuan sederhana bagi masyarakat dalam menyusun menu makan sehari-hari yang sehat dan seimbang,” terang dr. Dewi, Minggu (25/1/2026).

Namun demikian, dalam praktiknya masih banyak kesalahan yang kerap ditemui di masyarakat. Di antaranya adalah penerapan diet ekstrem yang tidak memenuhi kebutuhan makronutrien, kurangnya variasi makanan, rendahnya konsumsi buah dan sayur, serta tingginya konsumsi ultra processed food (UPF) akibat kesibukan sehari-hari. Padahal, UPF cenderung memiliki kandungan gizi yang lebih rendah dibandingkan makanan segar yang diolah secara langsung.

Menanggapi maraknya informasi seputar pola makan sehat, dr. Dewi mengajak masyarakat untuk kembali memanfaatkan pangan lokal sebagai sumber gizi seimbang. Indonesia memiliki kekayaan pangan yang melimpah, mulai dari sumber karbohidrat seperti ubi, singkong, dan talas, hingga sumber protein hewani dan nabati. Ikan kembung, misalnya, memiliki kandungan gizi yang setara dengan ikan salmon, sementara ikan gabus kaya akan albumin yang bermanfaat dalam proses pemulihan tubuh pasca operasi. Tempe juga menjadi contoh pangan lokal unggulan yang berperan sebagai sumber protein sekaligus prebiotik alami.

Meski demikian, tantangan dalam pemenuhan gizi seimbang masih dihadapkan pada rendahnya pengetahuan masyarakat, pengaruh media sosial yang mendorong konsumsi UPF, ketimpangan akses pangan di luar Pulau Jawa, serta harga sumber protein yang relatif lebih tinggi dibandingkan makanan tinggi lemak dan tepung.

Bagi generasi muda produktif yang kerap disibukkan dengan berbagai aktivitas dan tenggat waktu, dr. Dewi memberikan sejumlah tips praktis, antara lain menerapkan pedoman Isi Piringku, mengurangi konsumsi UPF dan makanan gorengan, membatasi minuman tinggi gula, memvariasikan jenis makanan, serta mencukupi kebutuhan air minum sekitar 8–10 gelas per hari.

Pada kesempatan tersebut, masyarakat juga diajak untuk kembali mengevaluasi piring makannya masing-masing dengan memperhatikan porsi dan jenis makanan, serta memastikan konsumsi gula, garam, dan lemak tetap dalam batas anjuran Kementerian Kesehatan.

Sebagai institusi pendidikan, UNS secara konsisten menjalankan peran tridarma perguruan tinggi dalam mendukung program gizi nasional, melalui pengabdian masyarakat di tingkat desa, edukasi gizi bagi keluarga dan kader kesehatan, penelitian ilmiah di bidang kedokteran dan gizi, serta penyelenggaraan pendidikan dan seminar untuk publik.

“Melalui peringatan Hari Gizi Nasional 2026 ini, UNS mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali bertanya dan merefleksikan, ‘Apakah piring kita sudah sehat dan memenuhi kebutuhan gizi seimbang?’,” pungkasnya.

Indospektrum

Recent Posts

Ahmad Luthfi Instruksikan Pemetaan Potensi Ekonomi Kreatif di Jateng

SALATIGA — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh kabupaten/kota segera memetakan potensi ekonomi kreatif…

4 jam ago

Polri Perluas Layanan Perpanjangan SIM Online di Jateng, Ini Daftar Wilayahnya

SOLO - Polri menghadirkan kemudahan dalam proses perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagai upaya meningkatkan…

4 jam ago

UNS dan East China Normal University Tandatangani Kesepakatan Kerja Sama Akademik

SOLO - Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menjalin kerja sama dengan East China Normal University…

4 jam ago

Jaga Stabilitas Pangan, TPID Jateng Pertemukan 111 Produsen dan 99 Pembeli Komoditas

SEMARANG — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah mempertemukan 111 produsen dan 99 offtaker…

5 jam ago

Webinar UMS: Mengubah Tantangan AI Menjadi Peluang Belajar Matematika

SOLO - Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta…

6 jam ago

Ekspor Satu Pintu BUMN: Solusi Amankan Devisa atau Potensi Beban Pengusaha? Ini Kata Pakar UMS

SOLO - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Dr. Akbar…

8 jam ago

This website uses cookies.