Categories: IndeksNews

Kisah Alumni FK UMS di Pelosok Maluku: Mengabdi Tanpa Batas Melalui Nusantara Sehat

Alumni FK UMS Ferianis Setiawati (baju coklat) Melakukan Pengabdian Nusantara Sehat di Pedalaman Seram, Maluku. Foto: Ist.

SOLO – Ferianis Setiawati, salah satu alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berhasil lolos pada program Nusantara Sehat, sebuah program Kementerian Kesehatan yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup melalui kesehatan. Pedalaman Pulau Seram, Maluku, menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya kepada masyarakat.

Ferianis ialah alumni angkatan FK UMS tahun 2009. Sejak awal menempuh pendidikan, ia berkeinginan untuk dapat membantu masyarakat secara langsung melalui pelayanan kesehatan.

“Lingkungan akademik FK UMS yang menanamkan nilai keilmuan, kemanusiaan, dan pengabdian masyarakat semakin menguatkan motivasi saya untuk menekuni profesi dokter, tidak hanya sebagai profesi klinis tetapi juga sebagai bentuk pengabdian sosial,” ungkapnya, Sabtu (17/1/2026).

Baginya mengabdi kepada masyarakat sejalan dengan kiprahnya sebagai dokter. Melalui program ini memberi kesempatan dalam berkontribusi secara langsung di daerah terpencil dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.

“Saya melihat Nusantara Sehat bukan sekadar penugasan, tetapi sebagai ruang belajar yang sangat berharga untuk memahami kondisi kesehatan masyarakat secara komprehensif, baik dari aspek klinis, sosial, maupun budaya,” jelasnya.

Untuk dapat mengikuti program, Ferianis telah melewati serangkaian seleksi ketat dalam mempersiapkan kemampuan diri terhadap kondisi lapangan yang penuh keterbatasan.

Menurutnya, melalui kurikulum berbasis komunitas di FK UMS berperan dalam memperkuat nilai empati dan profesionalisme bertugas.

Ia mengungkapkan kesannya ketika pertama kali tiba di pedalaman Seram, Maluku. Melihat kondisi geografis dan fasilitas kesehatan yang terbatas memunculkan rasa haru terhadap tanggung jawab besar profesinya. Namun, sambutan hangat serta kepercayaan masyarakat kepada bantuan tenaga kesehatan menjadi kekuatan bagi Ferianis.

Fasilitas pelayanan kesehatan tergolong tidak memadai, baik dalam peralatan, obat, maupun sarana penunjang. Dengan kondisi tersebut, Ferianis dan tim melakukan kolaborasi antar-dinas kesehatan setempat dan melalui dukungan program Nusantara Sehat, pelayanan kesehatan dapat berjalan secara optimal.

“Realitas di lapangan mengajarkan saya bahwa keterbatasan tidak menghalangi pelayanan yang berkualitas jika disertai niat dan kerja sama yang baik,” ujarnya.

Berada di daerah perifer menjadi tantangan tersendiri bagi Ferianis, momen paling berkesan adalah ketika menangani seorang pasien dengan kondisi kritis dan memerlukan askes rujukan, namun untuk dapat pergi ke rumah sakit terdekat membutuhkan perjalanan yang tidak singkat.

“Sehingga keputusan klinis harus diambil dengan cermat berdasarkan pemeriksaan dan sumber daya yang ada. Keberhasilan penanganan kasus tersebut, serta rasa syukur dan kepercayaan dari pasien dan keluarganya, menjadi pengalaman yang sangat bermakna dan menguatkan alasan saya memilih profesi ini,” tuturnya.

Program Nusantara Sehat memberikan dampak signifikan masyarakat Pulau Seram, kehadiran tenaga kesehatan memudahkan mereka dalam akses pelayanan medis mulai dari pemeriksaan kesehatan, pengobatan, hingga edukasi kesehatan, dan mendorong perilaku hidup sehat. Berdasarkan pengalaman ini mengubah cara pandang Feranis terhadap sistem kesehatan di Indonesia.

“Di lapangan, terlihat jelas bahwa tantangan kesehatan tidak hanya bersifat medis, tetapi juga struktural dan sosial. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, pemerataan sumber daya manusia kesehatan, serta kebijakan yang berpihak pada daerah terpencil agar sistem kesehatan nasional dapat berjalan secara lebih adil dan merata,” ujarnya.

Ferianis menegaskan bahwa setiap daerah memiliki hak yang sama dalam pemerataan akses kesehatan yang memadai. Melalui Nusantara Sehat dapat mewujudkan pemenuhan kebutuhan masyarakat disetiap daerah melalui kolaborasi dan komitmen bersama.

Kepada masyarakat luas, Roselia menekankan bahwa pemerataan akses kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar setiap warga negara dapat memperoleh hak yang sama atas pelayanan kesehatan yang layak.

“Pemerataan akses kesehatan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tenaga kesehatan atau pemerintah semata. Dukungan masyarakat, pemangku kebijakan, dan institusi pendidikan sangat dibutuhkan agar setiap warga negara, tanpa memandang lokasi geografis,” pungkasnya.

Indospektrum

Recent Posts

Mahasiswa Teknik Mesin UMS Pamerkan Inovasi Teknologi Tepat Guna di Mechanical Innovation Fair 2026

SOLO - Pameran menjadi cara mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id dalam menunjukkan…

7 jam ago

Terima Penghargaan Nugraha Sakanti, Polda Jateng Komitmen Tingkatkan Pelayanan Masyarakat

SEMARANG - Polda Jawa Tengah menerima Penghargaan Tanda Kehormatan Nugraha Sakanti dalam Upacara Hari Bhayangkara…

8 jam ago

Bantu Ungkap Kasus Curanmor, Satpam UMS Terima Penghargaan dari Polda Jateng

SOLO - Dedikasi Satpam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam menjaga keamanan kampus mendapat apresiasi dari…

9 jam ago

Ahmad Luthfi Dorong Percepatan Raperda Perlindungan Pekerja Informal di Jawa Tengah

SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mendorong DPRD setempat agar melakukan percepatan penyusunan Rancangan…

9 jam ago

Mahasiswa UMS dan UNAIR Raih Juara II Lomba Esai Nasional Berkat Gagasan Biomarker Osteoporosis

SOLO - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id meraih Juara II lomba esai…

9 jam ago

Gubernur Ahmad Luthfi Siapkan Konsep Futuristik untuk Revitalisasi PRPP Semarang

SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi berencana melanjutkan revitalisasi kawasan Pusat Rekreasi dan Promosi…

10 jam ago

This website uses cookies.