SOLO – Koleksi binatang di Solo Safari bertambah menyusul lahirnya anak zebra dengan jenis kelamin betina. Anak zebra tersebut selanjutnya diberi nama Gayatri Loreng.
Nama diberikan oleh Ketua Persatuan wartawan Indonesia (PWI) Surakarta, Sri Hartanto. Anak zebra lahir pada 18 September 2026 dari pasangan induk bernama Oci dan Ojet.
Direktur Utama TSTJ, Ahmad Syukri Prihanto didampingi GM Solo Safari Miyana mengemukakan, zebra bukan hewan endemik Indonesia namun dari Afrika. Meski demikian, Solo Safari berhasil melakukan breeding atau pengembangbiakan.
“Hari ini kita lihat bersama kondisi anak zebra sudah satu bulan dan sehat,” kata Ahmad Syukri Prihanto di sela-sela acara pemberian nama zebra yang baru saja lahir, Rabu (14/10/2026).
Pihaknya tidak langsung mempublikasikan lahirnya anak zebra tersebut. Sebab, terlebih dahulu harus dilakukan observasi, pengamatan, dan kontrol penuh atas kesehatan. Setelah melewati fase tersebut, baru dilakukan publikasi mengenai kelahirannya.
Saat ini, anak zebra sudah bermain-main, dan makan sendiri. Dengan demikian, ini menunjukkan keberhasilan bahwa satu zebra telah lahir di Solo Safari.
Selain zebra, sejumlah hewan koleksi Solo Safari sebelumnya ada juga yang telah melahirkan, di antaranya harimau benggala, dan rusa.
Terdapat juga beberapa hewan eksotik yang masuk kategori sulit untuk dikembangbiakkan, namun di Solo Safari berhasil. Hewan itu antara lain banteng Jawa yang masuk kategori dilindungi.
Kurator Solo Safari, Muhammad Nur Hudayanto mengatakan, pemantauan dilakukan rutin selama induk zebra hamil dan kelahiran. Sebelumnya, induk zebra mulai kawin pada akhir tahun 2025. Tanda-tanda hamil terdeteksi ketika induk tidak mau kawin lagi.
Dikatakannya, anak zebra lahir dari program pengembangbiakan zebra Chapman. Empat zebra dewasa yang menjadi indukan di Solo Safari adalah Oci, Ojet, Praja, dan Wita. Keempatnya didatangkan dari Taman Safari Bogor pada Januari 2023, saat masa awal pembukaan Solo Safari.
Dikatakannya, zebra Chapman merupakan salah satu subspesies zebra dataran yang memiliki ciri khas berupa garis-garis hitam dan putih dengan bayangan kecokelatan di antara sebagian garisnya. Pola tersebut dikenal sebagai shadow stripes.
Berbeda dengan zebra Grevy yang memiliki tubuh lebih besar dan pola garis yang cenderung lebih rapat, zebra Chapman memiliki karakteristik loreng tersendiri yang membuatnya mudah dikenali.
Di habitat alaminya di Afrika, zebra chapman masih dikategorikan berstatus konservasi Least Concern atau berisiko rendah berdasarkan klasifikasi yang digunakan. Meski demikian, status tersebut bukan berarti satwa ini bebas dari ancaman.
Ketua PWI Solo Sri Hartanto mengatakan, zebra merupakan hewan yang memiliki kombinasi warna berbeda pada tubuhnya, seperti coklat dengan hitam, atau hitam dengan putih. Nama loreng disematkan karena memiliki makna yang berbeda-beda.
Sedangkan nama Gayatri dari Bahasa Sansekerta yang memiliki filosofi perempuan yang pemberani, cantik, dan suci.
DEMAK – Wakil Menteri Dalam Negeri Ahmad Wiyagus terkesan dengan model penanganan tuberkulosis (TB) di…
SOLO - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Surakarta (Solo) siap menghadapi gugatan terkait syarat…
SEMARANG – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengapresiasi inisiatif Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia…
SOLO - Presenter Gilang Dirga datang ke kediaman mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kota…
SOLO - Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menorehkan prestasi dalam ajang Putra-Putri Lawu…
SOLO - Memantau pemulihan cedera olahraga tidak cukup hanya dengan melihat kemampuan seseorang kembali bergerak.…
This website uses cookies.