Categories: GagasanIndeks

Krisis Perawat Global 2030: Guru Besar UMS Ingatkan Urgensi Pemerataan dan Kompetensi di Indonesia

Guru Besar Ilmu Keperawatan Jiwa FIK UMS, Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D. Foto: Ist.

SOLO – Krisis kekurangan tenaga perawat dunia diprediksi masih menjadi tantangan serius hingga 2030. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut dunia masih akan mengalami kekurangan sekitar 4,5 juta perawat dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm penting bagi Indonesia untuk memperkuat kualitas, distribusi, dan daya saing tenaga keperawatan nasional.

Guru Besar Ilmu Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D., mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar karena jumlah institusi pendidikan keperawatan cukup banyak dan minat generasi muda terhadap profesi perawat masih tinggi. Namun, tantangan utama bukan sekadar jumlah lulusan, melainkan pemerataan tenaga kesehatan dan kualitas kompetensi.

“Indonesia bisa menghadapi paradoks. Lulusan perawat banyak, tetapi kebutuhan layanan kesehatan berkualitas belum sepenuhnya terpenuhi karena persoalannya ada pada distribusi, kompetensi, dan keberlanjutan profesi,” ujar Arum, Rabu (20/5).

Menurutnya, hingga kini masih terjadi ketimpangan jumlah tenaga perawat antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Selain itu, sebagian perawat juga dinilai belum bekerja sesuai kompetensi optimal akibat keterbatasan jenjang karir maupun kesejahteraan profesi.

Di tengah transformasi dunia kesehatan berbasis teknologi, Arum menilai peran perawat juga akan berkembang signifikan. Pemanfaatan artificial intelligence (AI), telemedicine, digital health, hingga electronic medical records disebut akan menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan masa depan.

Meski demikian, ia menegaskan teknologi tidak akan menggantikan peran dasar seorang perawat. Menurutnya, empati, komunikasi terapeutik, sentuhan kemanusiaan, dan nilai spiritual tetap menjadi aspek utama yang tidak dapat digantikan mesin.

“AI bisa membantu membaca data kesehatan, tetapi tidak bisa menggantikan ketulusan perawat saat mendampingi pasien atau keluarga dalam situasi sulit. Teknologi harus tetap diarahkan untuk memuliakan manusia,” jelasnya.

Arum menjelaskan, perawat masa depan dituntut tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan global. Kompetensi yang harus diperkuat meliputi literasi digital, kemampuan berpikir kritis, komunikasi interpersonal, kolaborasi interprofesional, hingga sensitivitas budaya dan kecerdasan spiritual serta etika profesi.

Dalam perspektif Muhammadiyah, lanjutnya, ilmu pengetahuan dan akhlak tidak dapat dipisahkan. Karena itu, UMS terus mengembangkan pendidikan keperawatan berbasis integrasi ilmu, teknologi, dan nilai kemanusiaan.

“Mahasiswa tidak hanya dibekali keterampilan klinik, tetapi juga penguatan riset, teknologi kesehatan, evidence-based nursing, komunikasi profesional, serta kepedulian sosial. Kami ingin lulusan UMS menjadi tenaga kesehatan yang profesional sekaligus humanis,” tuturnya.

Arum juga mengingatkan bahwa penguatan profesi perawat harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Jika tidak, dampaknya akan besar terhadap ketahanan sistem kesehatan nasional, mulai dari meningkatnya beban kerja tenaga kesehatan, burnout, hingga penurunan mutu pelayanan kesehatan masyarakat.

Ia menambahkan, pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting bahwa perawat merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan yang mendampingi pasien selama 24 jam. Karena itu, investasi terhadap profesi perawat dinilai sama pentingnya dengan investasi terhadap masa depan kesehatan bangsa.

“Ketahanan sistem kesehatan tidak hanya ditentukan teknologi atau fasilitas rumah sakit, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya. Memuliakan profesi perawat berarti memuliakan upaya menjaga kehidupan masyarakat,” pungkasnya.

Indospektrum

Recent Posts

Sungkeman dan Sengkeran Awali Rangkaian Dhaup Ageng di Pura Mangkunegaran Solo

SOLO - Acara Sungkeman dan Sengkeran yang dijalani G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) mengawali…

13 jam ago

Musim Hujan Tiba, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Mitigasi Bencana dan Infrastruktur Diperkuat

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta penguatan mitigasi bencana seiring mulai datangnya musim…

13 jam ago

Cegah Korupsi, Pemprov Jateng Perkuat Sistem Pengawasan Terintegrasi Bareng KPK dan BPK

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat sistem pengawasan terintegrasi sebagai upaya mencegah praktik korupsi…

13 jam ago

Pemprov Jateng Gelontorkan Rp65,5 Miliar untuk Rehabilitasi Irigasi dan Perpipaan Pertanian

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan anggaran Rp65,5 miliar pada 2026 untuk rehabilitasi jaringan…

14 jam ago

Pemprov Jateng Salurkan 1.507 Alsintan demi Perkuat Lumbung Pangan Nasional

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyalurkan 1.507 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) selama…

14 jam ago

Penggeledahan di Sukoharjo, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Masyarakat Jaga Kondusivitas

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengingatkan masyarakat agar tidak gegabah oleh informasi yang…

17 jam ago

This website uses cookies.