
SOLO – Di tengah ribuan jamaah yang menghadiri Tabligh Akbar Hari Jadi ke-68 Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS), kepedulian terhadap korban bencana di Indonesia turut menjadi perhatian. Lazismu UMS menggelar penggalangan infak kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Tabligh Akbar yang menghadirkan Ustaz Dr. H. Das’ad Latif, M.Si., yang diadakan di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Minggu (18/10/2026). Melalui momentum berkumpulnya warga Muhammadiyah dan masyarakat, Lazismu UMS mengajak jamaah untuk berbagi dan membantu saudara-saudara yang tengah menghadapi musibah.
Ketua Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., menjelaskan bahwa penggalangan dana tersebut merupakan inisiatif Lazismu UMS untuk menghimpun infak kemanusiaan.
Dana yang terkumpul direncanakan untuk membantu korban bencana, termasuk masyarakat terdampak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
“Dana yang nanti terkumpul itu akan digunakan di antaranya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah, baik itu yang di NTT maupun yang terdampak kebakaran hutan di Kalimantan,” jelasnya, Senin (19/10/2026).
Mahasri menambahkan, bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan kondisi masyarakat terdampak, termasuk perbaikan rumah dan pemenuhan kebutuhan pendidikan. Menurutnya, proses pemulihan pascabencana membutuhkan dukungan berbagai pihak dan dana yang tidak sedikit.
Ia menjelaskan bahwa penggalangan infak kemanusiaan ini dilakukan setelah Lazismu UMS memperoleh izin dari panitia Milad ke-68 UMS untuk memanfaatkan momentum Tabligh Akbar. Pengumpulan dana dilakukan melalui kode QRIS dan stan yang disediakan di area depan lokasi kegiatan, sehingga jamaah dapat menyalurkan infak dengan lebih mudah.
“Alhamdulillah diizinkan oleh panitia besar. Kemudian kami siapkan dalam bentuk penggalangan lewat QRIS dan juga stan di bagian depan,” ungkapnya.
Terkait karhutla yang kembali menjadi perhatian masyarakat, Mahasri menilai bahwa penanganan bencana perlu disertai evaluasi dan langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Ia menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak untuk mengurangi risiko bencana sekaligus melindungi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.
“Kepedulian terhadap korban bencana tidak hanya diwujudkan melalui bantuan setelah musibah terjadi, tetapi juga perlu diiringi upaya pencegahan dan penanganan yang lebih baik,” katanya.
Mahasri mengatakan, Lazismu UMS tidak menetapkan target nominal khusus dalam penggalangan infak tersebut. Kegiatan ini dilakukan secara spontan dengan memanfaatkan kesempatan berkumpulnya banyak jamaah. Meski demikian, ia berharap dana yang terkumpul dapat menambah bantuan kemanusiaan yang telah dihimpun sebelumnya.
“Seberapa pun dana yang terkumpul, tentu kami berharap bisa membantu. Warga Muhammadiyah biasanya sudah terbiasa mengisi kotak infak ketika menghadiri pengajian,” tuturnya.
Infak kemanusiaan yang dilaksanakan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp9.198.500. Melalui penggalangan infak kemanusiaan ini, lanjutnya, Lazismu UMS berharap semangat berbagi dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Momentum Milad ke-68 UMS pun tidak hanya menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai keislaman, tetapi juga kesempatan untuk menghadirkan kepedulian nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.











