
SURAKARTA – Masa peralihan dari sekolah rendah ke sekolah menengah berasrama bukan hanya sekadar menandakan perubahan jenjang pendidikan. Dalam fase ini, siswa juga berhadapan dengan lingkungan pergaulan baru, membangun identitas diri, dan mencari penerimaan teman sebaya.
Dalam proses tersebut, ejekan atau candaan negatif yang tidak ditangani sejak awal dapat berpotensi berkembang menjadi sebuah pola hubungan sosial yang tidak sehat. Persoalan tersebut menjadi perhatian tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) Kemitraan Internasional (KI) Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id.
Tim tersebut memperoleh pendanaan hibah internal 2026 untuk program bertajuk “Pendampingan Psikososial Integratif Berbasis Tazkiyatun Nafs untuk Reduksi Bullying Verbal Siswa Transisi di MITTIS Selangor, Malaysia”.
Melalui program tersebut, tim pengabdian berupaya menghadirkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penyelesaian perilaku bullying, tetapi juga membangun lingkungan pendidikan yang lebih sehat melalui penguatan karakter, kesadaran spiritual, dan hubungan sosial yang harmonis.
Ketua tim pengabdian, Dr Triono Ali Mustofa S.Pd.I M.Pd.I mengatakan, bullying verbal dipilih karena persoalan tersebut cukup sering muncul dan dialami pada siswa tingkatan 1 yang sedang beradaptasi dengan lingkungan sekolah menengah berasrama, yang tengah menjalani masa transisi, yang tengah membangun identitas diri dan mencari penerimaan dari teman sebaya.
“Kami memilih bullying verbal karena masalah ini cukup sering muncul pada siswa tingkatan 1 yang sedang beradaptasi dari sekolah rendah ke sekolah menengah berasrama. Pada fase ini, siswa sedang membangun identitas diri, mencari penerimaan teman sebaya, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru,” kata Triono, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, penanganan sejak awal diperlukan agar ejekan atau candaan negatif tidak berkembang menjadi pola hubungan sosial yang tidak sehat. Karena itu, tim mengintegrasikan pendekatan psikososial dengan nilai-nilai Islam melalui konsep tazkiyatun nafs dan psikologi perkembangan.
Pendekatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman bahwa bullying merupakan perilaku yang salah. Siswa juga diajak mengenali emosi, mengendalikan diri, menjaga ucapan, membangun empati, dan menghargai orang lain.
“Keunikannya terletak pada integrasi antara psikologi perkembangan dan nilai-nilai Islam. Siswa tidak hanya diberi pemahaman bahwa bullying itu salah, tetapi juga diajak mengenali emosi, mengendalikan diri, menjaga ucapan, membangun empati, dan menghargai orang lain. Jadi, perubahan perilaku diharapkan muncul dari kesadaran diri, bukan hanya karena takut terhadap aturan sekolah,” ujar Triono.
Dalam mengukur perkembangan program, tim akan menggunakan pre-test, post-test, observasi selama kegiatan, serta refleksi masing-masing siswa. Pengukuran mencakup perubahan sikap dan pemahaman tentang bullying verbal, kemampuan berempati, komunikasi positif, regulasi emosi, serta kesadaran menjaga perilaku terhadap teman sebaya.
Tim pengabdian terdiri atas Dr Triono Ali Mustofa S.Pd.I M.Pd.I, Fiska Puspa Arinda S.Psi M.Psi, Dr Hakimuddin Salim Lc M.A, dan Maharsi Shobabiya S.Pd.I S.Psi, M.Psi. Kegiatan ini juga melibatkan lima mahasiswa MPAI UMS, yakni Tamam Sholahudin S.Pd, Abil Fida Muhammad Qois Al Hadi S.Pd, Adinda Cantika Rini S.Pd, Nizar Naufal, S.Pd dan Namira Salsabila S.Pd.
Model pendampingan tersebut memungkinkan dikembangkan di madrasah, pesantren, sekolah berasrama, maupun sekolah umum. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan budaya sekolah, karakter siswa, dan kebutuhan masing-masing lembaga.
Tim berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi siswa di MITTIS Selangor Malaysia, sekaligus menjadi model pengembangan pendampingan pendidikan berbasis nilai Islam yang dapat diterapkan secara lebih luas.
“Target jangka panjangnya adalah membangun lingkungan sekolah yang aman, positif, dan mendukung perkembangan karakter siswa,” kata Triono.











