
SOLO — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menegaskan kiprahnya di panggung global melalui penyelenggaraan webinar internasional Meet the Mind: Nobel Laureate Series. Kegiatan menghadirkan ekonom terkemuka dunia, sekaligus Peraih Nobel Ekonomi 2024, Prof. Daron Acemoglu.
Kegiatan ini menjadi bagian istimewa dalam rangkaian perayaan Dies Natalis ke-50 UNS. Webinar yang digelar secara daring tersebut diikuti lebih dari 1.500 peserta dari 31 negara yang berasal dari kawasan Asia, Eropa, Afrika, Australia, hingga Amerika. Antusiasme peserta dari berbagai belahan dunia menunjukkan besarnya relevansi isu yang dibahas sekaligus semakin kuatnya posisi UNS sebagai ruang perjumpaan gagasan dan pertukaran akademik internasional.
Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan kehormatan atas kehadiran Prof. Daron Acemoglu di tengah sivitas akademika UNS dan peserta global. Menurutnya, momentum ini bukan sekadar perayaan ulang tahun universitas, tetapi juga peneguhan komitmen UNS untuk terus menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat luas.
“Di usia ke-50 tahun, UNS tidak hanya merayakan capaian, tetapi juga menegaskan kembali komitmen untuk memajukan pengetahuan yang bermakna, memperkuat institusi yang inklusif, serta menyiapkan pemimpin masa depan yang mampu memahami hubungan kompleks antara teknologi, kebijakan, dan masyarakat,” kata Hartono melalui keterangan tertulis, Jumat (17/4/2026).
Dalam paparannya, Prof. Daron Acemoglu mengangkat tema besar mengenai perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), arah inovasi, produktivitas, hingga masa depan kesejahteraan global. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak bersifat netral, melainkan sangat dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat merancang, mengatur, dan memanfaatkannya.
Prof. Acemoglu menjelaskan bahwa teknologi dapat menjadi kekuatan besar untuk memperluas kesempatan, meningkatkan produktivitas, dan mendorong kemajuan bersama. Namun di sisi lain, tanpa tata kelola yang tepat, teknologi juga berpotensi memperdalam kesenjangan sosial serta memusatkan kekuasaan pada segelintir pihak.
Ia juga menyoroti pentingnya institusi yang inklusif, yaitu institusi yang membuka partisipasi, mendorong inovasi, dan menghadirkan manfaat secara luas. Sebaliknya, institusi yang eksklusif atau ekstraktif cenderung menciptakan ketimpangan dan menghambat kemajuan jangka panjang.
Dalam sesi tersebut, Prof. Acemoglu turut mengulas perubahan dunia kerja akibat otomatisasi, perlunya model bisnis yang berorientasi pada kepentingan publik, hingga pentingnya kolaborasi antara manusia dan teknologi. Menurutnya, masa depan terbaik bukanlah ketika mesin menggantikan manusia, melainkan ketika teknologi memperkuat kemampuan manusia untuk berkarya dan berinovasi.
Diskusi yang berlangsung hangat dan inspiratif ini memberikan wawasan berharga bagi mahasiswa, dosen, peneliti, pembuat kebijakan, serta masyarakat umum mengenai tantangan dan peluang di era transformasi digital.
Melalui forum internasional ini, UNS kembali menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi yang terbuka terhadap gagasan besar dunia, aktif membangun jejaring global, dan konsisten menghadirkan ruang belajar yang relevan dengan perkembangan zaman.
Perayaan setengah abad UNS pun menjadi semakin bermakna, tidak hanya mengenang perjalanan panjang institusi, tetapi juga menatap masa depan dengan optimisme, kolaborasi, dan semangat untuk terus memberi kontribusi bagi Indonesia serta dunia.










