
SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terus mendorong peningkatan nilai jual produk pangan lokal melalui upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayahnya. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui berbagai pelatihan, memperluas cakupan pasar, hingga mengangkat potensi desa yang beraneka ragam.
Hal itu disampaikan saat menghadiri acara Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis (1/10/2026). Sebab, berdasarkan pendataan Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM Tahun 2025, Jawa Tengah memiliki sekitar 4,06 juta UMKM yang tersebar dari berbagai daerah. Dari jumlah itu, sebesar 97,95 persen merupakan usaha mikro. Banyak produk UMKM berupa olahan pangan khas masing-masing daerah.
Luthfi berharap, bahan pangan lokal tersebut diolah menjadi produk yang memiliki kualitas, citra, legalitas, sertifikasi, dan akses pasar yang kuat. Dengan begitu, mampu menumbuhkan ekonomi daerah.
“Pangan lokal tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku yang ada di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, menciptakan peluang usaha, dan membuka pasar yang lebih luas,” kata Luthfi.
Oleh karena itu, Pemprov Jateng telah memberikan dukungan melalui pendampingan dan pembinaan UMKM. Bank Jateng juga sudah memberikan kredit dengan suku bunga rendah kepada UMKM agar dapat berkembang dan naik kelas.
Di satu sisi, keterlibatan stakeholder atau instansi lain juga penting. Misalnya seperti event Lumbung Karya Indonesia yang telah mengkurasi serta memberikan pembinaan kepada para pelaku UMKM. “Saya mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia. Kalau bisa event seperti ini bisa dilakukan setiap bulan,” katanya.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Maritim Kementerian Koordnator Bidang Pangan, Sugeng Santoso mengatakan, acara Lumbung Karya Indonesia memang sangat diperlukan untuk pengembangan UMKM. Terlebih tema yang diangkat kali ini berkaitan dengan pengolahan produk pangan lokal dan ketahanan pangan.
“Kami senang hadir ke sini untuk acara Lumbung Karya Indonesia ini, karena ada start up, ekonomi kreatif subsektor kuliner dan UMKM. Tiga hal ini diharapkan dapat berkontribusi dalam perekonomian. Apalagi di Jawa Tengah ini industri pengolahan, pertanian, dan pertanian menjadi penopang,” katanya.
Dalam event tersebut juga diberikan penghargaan untuk enam kategori. Meliputi best local roots innovation yang diraih oleh Tococo Indonesia, best innovation and transformation diterima oleh Nirbaya Mocaf, best business readiness diterima PT Allisha Gesang Sejahtera, most impactful and replicable diterima Dalem Wangi, dan best growth potential diterima oleh Cumi Item Rasa Yang Berkah.
Semua UMKM penerima penghargaan dalam Lumbung Karya Indonesia tersebut memiliki kelebihan masing-masing. Seperti halnya Nirbaya Mocaf, merupakan UMKM yang diinisiasi oleh Lapas Nirbaya di Nusakambangan. UMKM tersebut melibatkan warga binaan lapas untuk membuat beraneka macam produk olahan dari singkong. Mulai dari tepung mocaf, gula dari kulit singkong yang kemudian diolah menjadi kombucha, sampai olahan ampas kulit singkong untuk pakan ayam petelur.
“Bahan singkong diambil dari Wilayah Cilacap dan sekitarnya, termasuk kebun singkong yang ditanam sendiri oleh warga binaan. Kami beli harga sesuai yang ditetapkan pemerintah. Satu minggu produksi kami sampai 2 ton singkong. Tepung mocaf juga kami olah menjadi es krim, jadi 80 persen bahan es krim dari singkong” ujar Kalapas Nirbaya Nusakambangan, Helmi Najih.











