
SOLO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjadi salah satu dari 12 perguruan tinggi di wilayah Surakarta, Jawa Tengah, yang akan membentuk konsorsium penanggulangan tuberkulosis (TBC). Pembentukan ini merupakan inisiasi Lembaga Layanan Dikti atau LLDikti Wilayah VI Jawa Tengah dan Dinas Kesehatan Kota Surakarta.
Audiensi pembentukan konsorsium penanggulangan TBC dilakukan di Balai Kota Surakarta pada Jumat (25/9/2026). Dalam kesempatan itu, UMS diwakili oleh Pusat Studi Tuberculosis and Health Disorder Control Program (TBHDCP).
Ketua Pusat Studi TB HDCP UMS Noor Alis Setiyadi, S.K.M., M.K.M., Ph.D., menjelaskan audiensi tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan komitmen antara LLDikti Wilayah VI dengan 12 perguruan tinggi di Surakarta.
“Konsorsium ini digagas sebagai bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Kota Surakarta dalam mempercepat eliminasi penyakit tuberkulosis melalui mobilisasi sumber daya akademis dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Noor Alis, Rabu (30/9/2026).
Noor Alis mengatakan audiensi tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran sekaligus menyamakan persepsi antara dunia akademik dan pemerintah daerah mengenai urgensi pembentukan konsorsium.
“Pembentukan konsorsium ini merupakan langkah strategis memperkuat kolaborasi penanggulangan TBC di Kota Surakarta,” imbuh dia.
Konsorsium penanggulangan TBC ini lahir dari kesenjangan urusan koordinasi institusi akademik. Hal tersebut berkaitan dengan fasilitas pendukung, akses dan jejaring lapangan, pemimpin penelitian atau intervensi, serta upaya menerjemahkan hasil penelitian menjadi rekomendasi untuk pengambilan keputusan.
Oleh sebab itu, konsorsium penanggulangan TBC berperan lebih dari sekadar forum keanggotaan. Ia adalah mekanisme orkestrasi kolaborasi yang menghubungkan kepakaran, sumber daya, kebutuhan program, dan peluang pendanaan.
“Dengan mekanisme tersebut, kapasitas yang sebelumnya tersebar dapat dikonsolidasikan menjadi kemampuan kolektif untuk menghasilkan penelitian, inovasi, intervensi, dan bukti kebijakan yang relevan bagi penanggulangan TBC,” imbuhnya.
Konsorsium ini nantinya akan dipimpin oleh Universitas Sebelas Maret sebagai anchor, dengan UMS sebagai co-anchor. Adapun peran UMS nantinya adalah mengonsolidasikan riset multidisiplin dan pengembangan inovasi konsorsium.
“Kami berkomitmen untuk melakukan penguatan riset multidisiplin, inovasi, dan jejaring kolaborasi,” tegas Noor Alis.











