
SURAKARTA – Perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis mendorong Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat pemetaan perjalanan karier lulusan sekaligus menyiapkan mahasiswa menghadapi pasar kerja global. Upaya tersebut dilakukan UMS melalui penjajakan kolaborasi dengan LinkedIn untuk mengembangkan ekosistem karier, alumni, kemitraan industri, dan reputasi internasional berbasis data.
Penjajakan kolaborasi tersebut mempertemukan kepentingan strategis UMS di bidang pengembangan karier, tracer study, alumni, kurikulum, kemitraan industri, dan reputasi internasional dengan ekosistem profesional LinkedIn yang memiliki jangkauan global.
Dalam materi yang disampaikan kepada UMS, LinkedIn mencatat memiliki 1,3 miliar anggota secara global dan lebih dari 40 juta anggota di Indonesia. Ekosistem tersebut juga mencakup sekitar 71 juta perusahaan, 42 ribu keterampilan, dan 142 ribu institusi pendidikan.
Besarnya ekosistem profesional tersebut membuka peluang bagi UMS untuk melihat perjalanan lulusan secara lebih luas. Profil profesional alumni, misalnya, dapat memberikan gambaran mengenai tempat alumni bekerja, sektor dan perusahaan yang dimasuki, posisi yang dijalankan, persebaran wilayah karier, hingga perkembangan profesional mereka.
Data tersebut berpotensi melengkapi tracer study yang selama ini dikembangkan UMS. Tidak hanya mengetahui status lulusan setelah menyelesaikan pendidikan, UMS dapat memperoleh gambaran mengenai diaspora alumni, baik yang berkarier di tingkat nasional maupun internasional.
Ketua LP3A UMS, Dr Bambang Sukoco S.H M.H menegaskan bahwa penguatan jejaring alumni perlu diarahkan lebih jauh dari sekadar pendataan lulusan. Sebab, alumni bukan sekadar data yang dicatat setelah mahasiswa menyelesaikan studi. Alumni adalah bagian dari ekosistem UMS yang terus tumbuh dan tersebar di berbagai bidang.
“Karena itu, pemetaan alumni perlu kita kembangkan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk memperkuat persiapan karier mahasiswa, membangun jejaring profesional, dan membuka peluang kontribusi alumni bagi almamater,” jelasnya, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, pemanfaatan data alumni tersebut sejalan dengan peran LP3A UMS dalam mengoordinasikan tracer study, kerja sama, persiapan karier mahasiswa, serta pengembangan diaspora alumni.
Sementara itu, Kepala Pusat Karir dan Hubungan Alumni UMS, Dr Moh. Indra Bangsawan M.H menyampaikan, penguatan data alumni dapat menjadi dasar dalam mengembangkan layanan karier yang lebih tepat sasaran.
“Pusat Karir tidak hanya ingin mengetahui apakah alumni sudah bekerja atau belum. Yang lebih penting adalah memahami perjalanan karier mereka, bidang yang mereka masuki, keterampilan yang dibutuhkan, serta bagaimana mahasiswa yang masih berada di kampus dapat dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja tersebut. Karena itu, data alumni harus kita ubah menjadi insight yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, informasi mengenai perjalanan profesional alumni juga dapat digunakan untuk mengembangkan pendekatan career intelligence. Pendekatan tersebut memanfaatkan informasi mengenai perkembangan karier alumni dan kebutuhan dunia kerja sebagai salah satu dasar dalam merancang layanan pengembangan karier mahasiswa.
“Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai lowongan pekerjaan, tetapi juga dapat memahami kompetensi, keterampilan, bidang pekerjaan, serta jalur karier yang relevan dengan bidang studinya,” tegasnya.
Penjajakan kolaborasi yang berlangsung pada pekan lalu, turut melibatkan Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS. Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting untuk menempatkan peluang kolaborasi dengan platform profesional global dalam strategi penguatan reputasi dan jejaring internasional UMS.
Direktur DRKUI UMS, Nurgiyatna S.T M.Sc Ph.D menyampaikan, kolaborasi internasional perlu diarahkan pada kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan institusi dan civitas akademik.
“Kolaborasi dengan mitra global harus kita lihat bukan hanya sebagai bentuk kerja sama kelembagaan, tetapi sebagai peluang untuk membuka akses UMS terhadap ekosistem profesional internasional. Jika dapat diimplementasikan dengan baik, kerja sama ini dapat memperluas jejaring mahasiswa dan alumni sekaligus memperkuat visibilitas UMS di tingkat global,” ujarnya.
Ia menambahkan, reputasi perguruan tinggi saat ini juga semakin berkaitan dengan kemampuan universitas menunjukkan outcome dan kontribusi lulusannya.
“Reputasi universitas tidak hanya dibangun dari apa yang terjadi di dalam kampus, tetapi juga dari bagaimana lulusan UMS berkiprah setelah mereka menyelesaikan pendidikan. Karena itu, keberadaan alumni di berbagai sektor dan wilayah merupakan bagian penting dari reputasi UMS yang perlu dipetakan, dikembangkan, dan dihubungkan kembali dengan almamater,” tambahnya.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya DRKUI UMS dalam memperluas jejaring kemitraan dan reputasi institusi, termasuk penjajakan kerja sama yang berkaitan dengan peluang karier mahasiswa dan alumni serta akses peluang kerja luar negeri.
Dalam konteks tersebut, kolaborasi dengan LinkedIn berpotensi menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat keterhubungan antara kampus, mahasiswa, alumni, industri, dan jejaring profesional global.
Bagi mahasiswa, keterhubungan tersebut dapat membuka akses terhadap informasi profesi, perusahaan, keterampilan yang dibutuhkan industri, serta jejaring profesional. Bagi alumni, jejaring tersebut dapat menjadi ruang untuk tetap terhubung dengan almamater sekaligus berkontribusi dalam pengembangan mahasiswa.
Sementara bagi UMS, pemanfaatan data dan jejaring profesional dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam pengembangan kurikulum, layanan karier, tracer study, kemitraan industri, pengelolaan alumni, hingga strategi reputasi institusi.
Penjajakan dengan LinkedIn menjadi bagian dari upaya UMS membangun ekosistem pendidikan tinggi yang semakin responsif terhadap perubahan dunia kerja. Ke depan, penguatan ekosistem tersebut tidak hanya diarahkan pada bagaimana mahasiswa memperoleh pekerjaan setelah lulus, tetapi juga bagaimana UMS memahami perjalanan karier lulusan, menghubungkan diaspora alumni, membaca kebutuhan dunia kerja, serta menyiapkan mahasiswa agar mampu berkompetisi di pasar kerja global.
Dengan demikian, alumni tidak berhenti sebagai output pendidikan, tetapi menjadi bagian dari jejaring profesional UMS yang terus tumbuh, terhubung, dan memberikan kontribusi bagi pengembangan almamater serta masyarakat.











