SOLO – Penyakit jantung dan kanker masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia maupun di Indonesia. Secara global, penyakit ini dikenal sebagai cardiovascular disease (CVD), yakni gangguan fungsi maupun struktur jantung dan pembuluh darah.
Penyakit tersebut tidak hanya mencakup penyakit jantung koroner akibat penyempitan pembuluh darah, tetapi juga penyakit jantung bawaan atau kongenital, kelainan katup, serta penyakit pembuluh darah seperti stroke, dislipidemia, dan hipertensi.
Guru Besar Prodi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Mutalazimah, S.KM., M.Kes., Dietisien., menyebutkan bahwa di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI membatasi kategori penyakit jantung pada tiga kondisi utama, yaitu penyempitan pembuluh darah, kelainan struktur, dan kelainan irama jantung.
Dalam kaitannya dengan gaya hidup, fokus utama diarahkan pada penyakit jantung koroner yang berhubungan erat dengan penyempitan pembuluh darah koroner. Penyakit jantung ini harus ditegakkan oleh dokter melalui berbagai pemeriksaan sesuai jenis penyakitnya, seperti EKG, ekokardiografi, biomarker tertentu dan pemeriksaan relevan lainnya.
Data periode 2021–2022 tercatat sekitar 600 juta kasus atau sekitar tujuh kasus per 1.000 penduduk dunia. Sementara itu, di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penyakit jantung mencapai 15 per 1.000 penduduk dan menurun menjadi 8,5 per 1.000 penduduk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
Meskipun tampak ada penurunan, namun dengan catatan data tersebut didapat dari survei dari fasilitas kesehatan bukan berbasis riset pada populasi (jadi sangat mungkin angka sebenarnya lebih tinggi). Hal yang menarik dan perlu mendapat perhatian adalah bahwa ada pergeseran rata-rata umur penderita ke arah umur yang lebih muda yakni dari 48,5 tahun (2013) menjadi 43,2 tahun (2023).
Dari sisi angka kematian, penyakit tidak menular masih didominasi oleh penyakit jantung dan kanker. Pada level global, penyakit jantung menyumbang sekitar 35 persen kematian, disusul kanker sebesar 21 persen. Di Indonesia, penyakit jantung berkontribusi sekitar 34 persen dari total kematian, sementara kanker sekitar enam persen.
“Jadi sedemikian besar tingkat keseriusannya. Lalu kenapa masih belum disadari? Ini kembali ke faktor risiko atau etiologi, yaitu penyebabnya. Data di tingkat global, penyebab nomor satu adalah diet yang tidak sehat, kemudian hipertensi, lalu obesitas. Di Indonesia sendiri, faktor utamanya adalah hipertensi, kurangnya aktivitas fisik, dan obesitas,” jelas Mutalazimah, Senin (2/2/2026).
Faktor-faktor tersebut, menurutnya erat kaitannya dengan gaya hidup, yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini melalui perubahan pola hidup, meskipun penerapannya masih menghadapi berbagai tantangan di masyarakat.
“Kekurangannya adalah masyarakat kita pada penerapan praktiknya masih menghadapi tantangan untuk benar-benar memperbaiki pola hidup yang menjadi penyebab tersebut, meskipun upaya promotif dan preventif sudah banyak dilakukan,” tambahnya.
Pola makan menjadi salah satu faktor utama yang berperan dalam penyakit jantung. Berbagai data di tingkat global, diet tinggi lemak jenuh menjadi perhatian utama. Lemak jenuh, yakni lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap antar atom karbon, seperti yang terdapat pada daging berlemak. Selain lemak jenuh, juga lemak trans buatan (hasil hidrogenasi parsial), seperti margarin padat dan minyak goreng yang digunakan berulang kali, dapat meningkatkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) dalam darah.
LDL yang tinggi dapat menurunkan fungsi endotel (menghasilkan nitric oxide yang mengatur pelebaran pembuluh darah). Disfungsi endotel memudahkan pembentukan plak aterosklerosis dari LDL yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner pada jantung.
Sementara itu, kanker juga sangat berkaitan dengan gaya hidup, seperti paparan bahan kimia karsinogenik, radiasi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan obesitas. Faktor genetik dan virus turut berperan, tetapi sebagian besar kasus kanker dipicu oleh pola hidup.
Di Indonesia, tiga jenis kanker terbanyak adalah kanker payudara, kanker paru, dan kanker serviks. Data terbaru menunjukkan sekitar 400 ribu kasus baru kanker setiap tahun dengan angka kematian mencapai 250 ribu orang.
Kebiasaan mengonsumsi junk food atau fast food juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker. Makanan tersebut umumnya rendah serat, tinggi lemak jenuh, tinggi natrium, serta gula berlebih. Sebaliknya, biji-bijian dan kacang-kacangan dianjurkan karena merupakan sumber protein nabati rendah lemak jenuh, kaya magnesium, serta berperan menurunkan LDL yang menjadi indikator pembentukan plak pada pembuluh darah.
Selain itu juga dianjurkan konsumsi protein hewani dengan lemak tak jenuh seperti ikan, serta konsumsi prebiotik (sayur dan buah) juga probiotik untuk menjaga microbiota baik dalam saluran pencernaan.
Pada kanker, faktor karsinogenik seperti bahan kimia berlebihan, pengawet, dan pangan olahan dengan ultra-processed food (UPF) dapat memicu terjadinya mutasi DNA, mutasi gen, yang menyebabkan pertumbuhan sel abnormal, tidak terkontrol, dan berpotensi bermetastasis ke organ lain.
Untuk mencegah penyakit jantung dan kanker, banyak orang melakukan diet. Namun yang sering keliru adalah anggapan bahwa semua diet itu sehat. Pola makan yang sehat itu yang disesuaikan dengan kebutuhan, bergizi seimbang, memenuhi syarat hygiene dan sanitasi serta cara pengolahan yang sehat seperti dikukus/direbus.
“Dalam konteks promotif dan preventif, kebutuhan gizi untuk kelompok umur dapat dilihat pada standar Angka Kecukupan Gizi (AKG), sementara dalam konteks kuratif dan rehabilitatif, kebutuhan gizi disesuaikan dengan kebutuhan gizi individu sesuai hasil pengkajian dan diagnosis gizi. Selain itu perlu disadari, penyembuhan penyakit bersifat multidisiplin. Pola makan adalah salah satu penunjang penting, yang bila dikolaborasikan dengan pilar pengobatan lainnya akan sangat optimal hasilnya,” jelas Mutalazimah.
Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS ini menyebut, upaya pencegahan juga perlu dibarengi dengan deteksi dini. Strategi kesehatan mencakup langkah promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Edukasi dan skrining menjadi langkah awal yang penting sebelum masuk ke tahap pengobatan.
Saat ini, edukasi kesehatan semakin mudah diakses, sementara skrining sangat bergantung pada kesadaran individu. Selain itu, besar harapan kepada seluruh stakeholder terkait dapat meningkatkan fasilitas skrining khususnya di fasilitas kesehatan tingkat satu, untuk mengoptimalkan pencegahan tingkat morbiditas dan mortalitas karena penyakit jantung dan kanker.
Sebagai contoh, kanker payudara sebagai kanker terbanyak di Indonesia dapat dideteksi lebih awal melalui pemeriksaan mammografi (interpretasi kriteria BIRADS) dan USG payudara. Kanker serviks juga memiliki metode skrining, seperti pap smear yang di UMS telah difasilitasi rutin setiap tahun.
Jika terdeteksi sejak awal, maka 80-90 persen kanker dapat disembuhkan. Untuk penyakit jantung koroner, pemeriksaan profil lipid meliputi LDL, HDL, kolesterol total, dan trigliserida menjadi langkah deteksi dini yang penting.
Langkah konkret menjaga kesehatan jantung meliputi penerapan pola makan gizi seimbang sesuai kebutuhan, aktivitas fisik teratur, serta pola tidur yang cukup. Tidur kurang dari enam jam per hari dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatis, memicu inflamasi, mengganggu fungsi endotel, sehingga pembuluh darah berisiko mengalami penyempitan yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
Pada kanker, kurang tidur dapat menurunkan hormon melatonin, sehingga fungsi sebagai antioksidan yang berperan dalam pengendalian pertumbuhan sel abnormal juga menurun, dan meningkatkan risiko timbulnya kanker.
Mutalazimah menganjurkan, bagi masyarakat awam, kebutuhan gizi pada tingkat populasi dapat mengacu pada AKG dari Kemenkes tahun 2019 yang masih relevan digunakan. AKG ini mempertimbangkan kelompok usia, berat badan, tinggi badan, serta kebutuhan energi dan zat gizi makro maupun mikro yang sudah ditentukan.
Untuk kebutuhan individu, khususnya bagi pasien penyakit tertentu, perhitungan gizi dilakukan lebih spesifik oleh seorang Dietisien seperti berdasarkan umur, indeks massa tubuh, berat badan ideal, aktivitas, dan kondisi fisiologis lainnya, sehingga kebutuhan energi, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral dapat diberikan dengan tepat untuk mempercepat penyembuhan penyakit.
SOLO - Komandan Korem 074/Warastratama Kolonel Inf M. Arry Yudistira, S.I.P., M.I.Pol., M.Han., menegaskan pentingnya…
SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan, butuh keterlibatan para mahasiswa dalam upaya bersama-sama…
SOLO — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menegaskan kiprahnya di panggung global melalui penyelenggaraan…
SOLO – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Salwa Talitha Zahra…
SEMARANG — Pedagang bakso di Jawa Tengah berdasarkan catatan Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Nusantara…
SOLO - Agama Islam merupakan agama yang tidak berkutat pada urusan spiritual. Islam juga menekankan…
This website uses cookies.