
SOLO – Kemampuan komunikasi persuasif menjadi salah satu keterampilan penting bagi guru dan karyawan dalam memperkenalkan program serta keunggulan sekolah kepada calon siswa dan orang tua.
Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id di SMK Muhammadiyah 2 Sleman, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan bertema “Pendampingan Peningkatan Keterampilan Komunikasi Persuasif dan Public Speaking bagi Guru sebagai Duta Promosi di SMK Muhammadiyah 2 Sleman” tersebut diikuti 30 peserta yang terdiri atas guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 2 Sleman.
Kegiatan dipimpin Zukhrofa Rizkiana Ramadhani, S.Tr.I.Kom., M.Sn., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UMS, bersama mahasiswa Avanno Syafani Surya dan Iman Syahputra. Kegiatan pengabdian ini juga merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Pengembangan Individual Dosen (PkM-PID) Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS.
Pendampingan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam menyampaikan informasi dan keunggulan sekolah secara komunikatif, persuasif, serta sesuai dengan karakter audiens.
Zukhrofa menjelaskan, kebutuhan tersebut muncul seiring semakin kompetitifnya pilihan pendidikan bagi calon siswa. Dalam konteks promosi sekolah, guru dan karyawan tidak hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi representasi sekolah yang perlu membangun kepercayaan dan menjelaskan nilai sekolah secara relevan kepada calon siswa, orang tua, maupun masyarakat.
“Komunikasi persuasif bukan sekadar bagaimana membuat orang tertarik, tetapi bagaimana kita memahami siapa audiens kita, apa yang mereka butuhkan, kemudian menyampaikan nilai sekolah dengan cara yang relevan dan meyakinkan,” jelas Zukhrofa, Sabtu (22/8/2026).
Dalam pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai komunikasi persuasif, public speaking, audience-centered communication, penyusunan pesan promosi, serta teknik penyampaian pesan melalui vokal dan bahasa tubuh.
Salah satu konsep yang diperkenalkan yakni Hook–Need–Value–Proof–Action sebagai struktur dalam menyusun pesan persuasif. Melalui konsep tersebut, peserta diajak memahami bahwa promosi sekolah tidak cukup hanya menyampaikan daftar program maupun fasilitas.
Pesan promosi perlu diawali dengan menarik perhatian audiens (hook), memahami kebutuhan audiens (need), menunjukkan nilai yang relevan (value), memberikan bukti pendukung (proof), serta mengarahkan audiens pada tindakan berikutnya (action).
Selain itu, peserta diperkenalkan dengan konsep ethos, pathos, dan logos sebagai fondasi dalam membangun pesan persuasif. Ketiga aspek tersebut digunakan untuk membangun kredibilitas pembicara, menghubungkan pesan dengan kebutuhan dan perhatian audiens, serta memberikan alasan dan bukti yang dapat dipercaya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik menggunakan Communication Canvas. Peserta dibagi menjadi lima kelompok dan diminta merancang pesan promosi sekolah berdasarkan karakter audiens tertentu.
Dalam praktik tersebut, peserta mengidentifikasi audiens, kebutuhan atau persoalan yang dihadapi, nilai yang ditawarkan sekolah, bukti pendukung, hook, hingga call to action. Hasil rancangan selanjutnya dipresentasikan dan mendapatkan umpan balik dari tim pendamping. Praktik tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep komunikasi persuasif secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi yang dekat dengan aktivitas promosi sekolah.
Kepala SMK Muhammadiyah 2 Sleman, Ahmad Maftuhin, S.H.I., menyambut baik kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh UMS. Ia berharap kegiatan tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi lanjutan antara SMK Muhammadiyah 2 Sleman dan Program Studi Ilmu Komunikasi UMS.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena keterampilan komunikasi persuasif sangat dibutuhkan oleh guru dan karyawan ketika berinteraksi dengan calon siswa maupun orang tua. Ke depan, kami berharap dapat kembali berkolaborasi dalam bentuk workshop yang lebih praktis sehingga guru dan karyawan memiliki keterampilan komunikasi yang dapat langsung diterapkan, khususnya dalam menghadapi Penerimaan Murid Baru (PMB) pada tahun ajaran berikutnya,” ujar Ahmad Maftuhin.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Zukhrofa menilai keterampilan komunikasi praktis dapat menjadi ruang pengembangan dalam kegiatan pendampingan berikutnya.
“Pelatihan hari ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa setiap audiens membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda. Ke depan, keterampilan tersebut dapat dikembangkan melalui workshop yang lebih intensif, misalnya dengan simulasi menghadapi calon siswa dan orang tua, penyusunan script komunikasi, hingga praktik role play dalam situasi PMB,” tambahnya.
Menurutnya, kemampuan komunikasi persuasif akan semakin efektif apabila peserta memperoleh kesempatan berlatih dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata. Dengan demikian, guru dan karyawan tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki kesiapan ketika menjelaskan program sekolah, menjawab pertanyaan calon siswa dan orang tua, serta menyampaikan keunggulan sekolah secara meyakinkan.











