
SOLO – Perkembangan ekonomi digital selama beberapa tahun terakhir telah membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui berbagai platform digital. Fleksibilitas waktu dan tempat kerja yang ditawarkan ekonomi digital, bahkan kerap dipandang sebagai solusi untuk memperluas partisipasi perempuan dalam dunia kerja.
Namun, hasil penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam memperoleh pendapatan secara daring masih terjadi di berbagai negara. Temuan tersebut dihasilkan melalui penelitian kolaboratif antara Universitas Sebelas Maret (UNS) https://uns.ac.id/id/, Indonesia; Paris School of Business, Prancis; dan VNU University of Economics and Business, Vietnam National University, Vietnam.
Tim peneliti terdiri atas Dr. Ibrahim Fatwa Wijaya, Dr. Budi Wahyono, dan Dr. Subroto Rapih dari UNS, Dr. Whelsy Boungou dari Paris School of Business, serta Dr. Thai Hong Le dari VNU University of Economics and Business. Penelitian ini menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi internasional dalam menghasilkan bukti ilmiah untuk menjawab tantangan pembangunan global.
Penelitian tersebut menggunakan data Global Findex 2025 yang mencakup 50.717 responden dari 74 negara. Data berskala global ini memungkinkan para peneliti membandingkan peluang masyarakat dalam memperoleh penghasilan melalui aplikasi atau situs web digital di berbagai negara dengan karakteristik ekonomi dan sosial yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki peluang yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan laki-laki untuk memperoleh penghasilan melalui platform digital. Bahkan setelah mempertimbangkan berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, usia, tingkat pendapatan, kepemilikan rekening keuangan, serta akses terhadap telepon seluler, kesenjangan tersebut tetap ditemukan.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa perkembangan teknologi digital belum sepenuhnya menciptakan kesempatan ekonomi yang setara bagi semua kelompok masyarakat. Selama ini, digitalisasi sering dipandang sebagai instrumen yang mampu menghapus berbagai hambatan dalam dunia kerja karena memungkinkan seseorang bekerja dari mana saja dan kapan saja. Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan bahwa kemajuan teknologi saja belum cukup untuk menghilangkan ketimpangan yang telah lama mengakar.
Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan bahwa kesenjangan tersebut tidak banyak dipengaruhi oleh kondisi makro suatu negara. Negara dengan tingkat pembangunan ekonomi yang lebih tinggi maupun negara yang memiliki regulasi yang lebih mendukung kesetaraan gender ternyata belum tentu mampu menghilangkan kesenjangan partisipasi perempuan dalam memperoleh pendapatan secara daring. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi dan penyediaan infrastruktur digital memang penting, tetapi belum cukup untuk menjamin kesempatan ekonomi digital yang benar-benar inklusif.
Untuk memastikan keandalan hasil penelitian, tim peneliti juga melakukan berbagai pengujian statistik lanjutan. Seluruh pengujian tersebut menunjukkan hasil yang konsisten, sehingga memperkuat kesimpulan bahwa kesenjangan gender dalam memperoleh pendapatan melalui platform digital merupakan fenomena yang nyata dan tidak muncul secara kebetulan.
Menurut Dr. Budi Wahyono, hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi para pembuat kebijakan di berbagai negara. Selama ini, banyak kebijakan berfokus pada perluasan akses internet, peningkatan kepemilikan telepon seluler, maupun peningkatan inklusi keuangan sebagai strategi memperluas kesempatan ekonomi digital. Namun, temuan penelitian menunjukkan bahwa kebijakan tersebut perlu dilengkapi dengan upaya yang lebih komprehensif untuk mengatasi hambatan-hambatan struktural yang masih dihadapi perempuan.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa transformasi digital tidak secara otomatis menghasilkan kesempatan ekonomi yang setara. Masih terdapat berbagai faktor sosial, budaya, maupun struktur pasar kerja yang memengaruhi partisipasi perempuan dalam ekonomi digital. Oleh karena itu, pengembangan ekonomi digital yang inklusif memerlukan pendekatan kebijakan yang lebih menyeluruh,” ujar Budi.
Penelitian ini memiliki relevansi yang kuat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Temuan mengenai masih adanya kesenjangan gender secara langsung mendukung SDG 5 (Gender Equality) yang bertujuan mewujudkan kesetaraan gender dan memberdayakan seluruh perempuan. Bukti empiris yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang mampu meningkatkan partisipasi perempuan dalam ekonomi digital secara lebih adil dan inklusif.
Selain itu, penelitian ini juga berkaitan erat dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth). Ekonomi digital saat ini menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di berbagai negara melalui berkembangnya platform digital, pekerjaan berbasis aplikasi, dan perdagangan elektronik. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diiringi dengan pemerataan kesempatan agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang gender.
Hasil penelitian juga memberikan kontribusi terhadap SDG 10 (Reduced Inequalities). Kesenjangan dalam memperoleh pendapatan melalui platform digital menunjukkan bahwa masih terdapat ketidaksetaraan akses terhadap peluang ekonomi modern. Oleh karena itu, kebijakan yang hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur digital belum tentu cukup apabila tidak dibarengi dengan upaya mengurangi hambatan sosial dan struktural yang masih dihadapi kelompok tertentu.
Di sisi lain, kolaborasi antara UNS, Paris School of Business, dan VNU University of Economics and Business mencerminkan implementasi nyata SDG 17 (Partnerships for the Goals). Kolaborasi lintas negara memungkinkan pertukaran keahlian, data, dan perspektif yang lebih luas sehingga menghasilkan penelitian dengan cakupan global dan kualitas ilmiah yang semakin kuat. Sinergi tersebut sekaligus memperkuat posisi UNS sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun jejaring penelitian internasional untuk menjawab berbagai isu strategis dunia.
Bagi UNS, penelitian ini merupakan bagian dari komitmen universitas dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memiliki kontribusi akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pengambilan kebijakan. Melalui kolaborasi internasional, UNS terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui penelitian berbasis bukti ilmiah.
Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, organisasi internasional, pelaku industri digital, maupun akademisi dalam merancang kebijakan yang mampu menciptakan ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif. Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menghadirkan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki.
Melalui penelitian ini, UNS kembali menunjukkan bahwa kolaborasi lintas negara merupakan salah satu kunci dalam menghasilkan solusi ilmiah terhadap berbagai tantangan global. Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari sejauh mana seluruh masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan merasakan manfaatnya.











