
SOLO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id meneguhkan komitmen untuk terus tumbuh berbasis mutu, memberikan kebermanfaatan, serta berkontribusi dalam membangun peradaban. Komitmen disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka dalam rangka Upacara Hari Jadi ke-68 UMS, Sabtu (24/10/2026) di Edutorium KH Ahmad Dahlan.
Agenda ini menjadi momentum refleksi perjalanan UMS sekaligus meneguhkan arah pengembangan universitas ke depan. Tahun ini, Hari Jadi ke-68 UMS mengusung tema “Meneguhkan Sinergi, Menebarkan Kebermanfaatan, dan Menguatkan Peradaban” dengan semangat sinergi, berdampak, dan berkelanjutan.
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., melaporkan perkembangan UMS yang terus berkembang. Salah satunya tercermin dari pertumbuhan jumlah mahasiswa. Saat ini, lebih dari 31.000 mahasiswa aktif UMS berasal dari 436 kabupaten/kota. Sebanyak 25,8 persen di antaranya berasal dari luar Jawa Tengah dan 10,4 persen berasal dari luar Jawa.
Dari sisi penerimaan mahasiswa baru, pertumbuhan juga terlihat dari peningkatan jumlah mahasiswa yang melakukan registrasi. Menurutnya, angka registrasi mahasiswa baru saat ini mencapai sekitar 30 persen dari total konversi pendaftar.
Dalam laporan tersebut, Harun juga memaparkan capaian implementasi Rencana Strategis (Renstra) UMS pada tahun akademik 2025/2026. Renstra UMS memuat 111 indikator kinerja. Sebanyak 109 indikator atau 98,2 persen telah memiliki data realisasi. Dari jumlah tersebut, 66 indikator telah mencapai atau melampaui target, sedangkan 15 indikator lainnya hampir mencapai target.
Secara keseluruhan, rata-rata ketercapaian seluruh indikator yang terukur mencapai 113,3 persen dari target. Capaian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar indikator kinerja UMS telah berjalan sesuai arah yang ditetapkan dalam Renstra.
Pilar dengan ketercapaian tertinggi adalah Transformasi Perencanaan dan Sistem Mutu UMS melalui Integrasi Data, Evidence-Based Policy, dan Continuous Quality Improvement, dengan capaian sebesar 153,6 persen.
Sementara itu, pilar Transformasi Tata Kelola Sarana Prasarana dan Keuangan UMS menuju Universitas Modern, Mandiri, Akuntabel, dan Berkelanjutan mencatat capaian sebesar 82,6 persen. Pilar tersebut menjadi bagian yang memerlukan perhatian lebih dalam pengembangan UMS ke depan.
“Mohon doanya, mudah-mudahan UMS dapat tumbuh berbasis mutu, netes-netes, berkemajuan-berkelanjutan,” ujar Harun.
Ia menjelaskan, arah pengembangan UMS ke depan dilakukan melalui sejumlah langkah strategis, mulai dari memanfaatkan momentum, memperluas layanan, memperkuat pondasi, menjaga ketahanan, hingga menguatkan kemandirian finansial. Selain itu, UMS akan terus memperkuat riset, pengabdian, publikasi yang berdampak dan berhilirisasi, serta memperluas jaringan.
Harun menegaskan, seluruh sivitas akademika UMS memiliki peran penting dalam mewujudkan kampus yang bermutu, terjangkau, berkarakter Islami, dan memberikan kemanfaatan nyata.
“Mari kita bersama-sama mewujudkan lulusan dari UMS yang tepat prospek. Bukan hanya bekerja, tetapi memiliki daya inovasi dan daya entrepreneur, bekerja sesuai dengan keahlian, sesuai dengan kompetensi, dan mampu menjadi pelopor perubahan di lingkungannya,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar riset, pengabdian, inovasi, dan publikasi UMS semakin memberikan dampak serta memiliki nilai hilirisasi dan komersial. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya UMS menuju 2029 agar semakin modern, berbasis data, akuntabel, unggul, dan mampu menjadi penggerak perubahan.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas perkembangan UMS. Ia menilai upaya UMS dalam menghasilkan lulusan yang berdampak sejalan dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA).
Menurutnya, orientasi pendidikan tinggi saat ini tidak lagi sekadar berbicara mengenai link and match, tetapi telah bergeser menuju konsep plug and play, yakni lulusan diharapkan dapat langsung terserap dan berkontribusi di dunia kerja.
“Sekarang bukan lagi Link and Match, tetapi Plug and Play. Kita mengawal para lulusan supaya terserap dan bisa langsung bekerja kepada DUDIKA,” ungkap Aisyah.
Ia juga menyebut UMS memiliki capaian yang kuat dalam akreditasi program studi. Sekitar 75 persen program studi di UMS telah meraih predikat Unggul.
Atas capaian tersebut, Aisyah menyampaikan ucapan selamat atas Hari Jadi ke-68 UMS sekaligus mendorong universitas untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sarana prasarana.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A. turut menyoroti kekuatan tradisi intelektual UMS. Ia menilai perkembangan UMS tidak terlepas dari budaya akademik yang kuat serta kepemimpinan dan tata kelola yang terbuka.
“Perkembangan UMS yang luar biasa sampai hari ini, karena UMS salah satunya mempunyai tradisi intelektual yang kuat, yang ditopang oleh budaya akademik yang kokoh, yang didukung oleh kepemimpinan kampus yang inklusif dan tata kelola yang terbuka,” tutur Fajar Riza Ul Haq yang merupakan alumni UMS.
Menurutnya, kebebasan akademik menjadi salah satu fondasi penting bagi tumbuhnya tradisi keilmuan. Kampus perlu memberikan ruang bagi berbagai pemikiran yang berbeda, selama dikelola secara baik sehingga dapat melahirkan pengetahuan baru.
Sementara itu, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menekankan pentingnya kontribusi perguruan tinggi dan Muhammadiyah dalam membangun peradaban biru Indonesia. Ia menyebut pangan yang berasal dari laut merupakan salah satu sumber penting bagi keberlangsungan bangsa.
“Peradaban biru yang berkelanjutan adalah kerja bersama, negara, kampus, persyarikatan Muhammadiyah, masyarakat pesisir,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk membangun kembali kejayaan peradaban maritim Indonesia melalui kolaborasi yang lebih kuat. Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa para pelaut Indonesia mampu membangun peradaban hingga ke berbagai negara.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M. Si., juga mengajak UMS dan Muhammadiyah untuk terus merefleksikan identitas serta kontribusinya bagi kemajuan bangsa.
“Jadi UMS, Muhammadiyah itu harus selalu bertanya: ‘Kami ini siapa? Dan mau berbuat apa dengan karakter yang kami miliki?’” katanya.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah memiliki karakter sebagai gerakan yang menjadikan Islam sebagai agama peradaban dan membawa kemajuan. Semangat tersebut, menurutnya, harus terus menjadi landasan dalam mengembangkan Muhammadiyah, termasuk UMS dan seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah & ‘Aisyiyah (PTMA).
“Spirit membangun peradaban, spirit membangun kemajuan, spirit yang selalu melahirkan etos kemajuan, itulah yang membuat kita maju,” tegasnya.
Ia berharap semangat tersebut terus dirawat sehingga Muhammadiyah, UMS, dan seluruh PTMA serta amal usaha Muhammadiyah dapat terus tumbuh, maju, berkembang, berkemajuan, dan unggul.











