
SOLO — Ruang kreatif anak muda di Kota Solo kembali bergairah lewat selebrasi seni yang sarat akan makna. Pada Sabtu (26/9/2026), kolaborasi ciamik antara OSIS Sapta Jaya dan Artharupa resmi meluncurkan Artephy Vol. 2 2026.
Gelaran pameran seni milik SMAN 7 Surakarta (Smoephy) tahun ini tampil makin berdampak dengan bergandengan tangan bersama ajang bahasa dan sastra ternama, ABSASTA, menciptakan ruang kolaborasi yang menyatukan beragam sudut pandang dalam satu panggung.
Bagi keluarga besar murid Smoephy, Artephy Vol. 2 menjadi pembuktian nyata atas potensi besar yang dimiliki generasi muda di sekolah. Rasa bangga membuncah ketika karya-karya visual mulai dari lukisan kanvas, instalasi interaktif, hingga mural sarat pesan sosial hasil buah pikir para siswa berdiri gagah memenuhi galeri. Setiap sudut pameran seolah bercerita tentang proses kreatif panjang murid Smoephy yang akhirnya mendapat wadah apresiasi yang layak.
Dari sudut pandang panitia pelaksana, kesuksesan event ini merupakan muara dari kerja keras dan komitmen OSIS Sapta Jaya bersama Artharupa. Panitia merancang Artephy bukan sekadar pameran visual biasa, melainkan sebuah ruang aman dan inklusif bagi seluruh pelajar. Harapan besarnya, Artephy dapat terus konsisten berkembang di tahun-tahun mendatang, makin berdampak luas, serta menjadi muara kreativitas yang selalu dinantikan oleh anak sekolah di setiap volumenya.
Semangat inklusivitas tersebut dirasakan langsung oleh para peserta workshop yang memadati area interaktif. Kolaborasi bersama Kawan Tuli menjadi salah satu magnet utama, di mana pengunjung diajak belajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) untuk meruntuhkan batasan komunikasi. Tak kalah seru, hadir pula sesi membatik bersama SMKN 9 Surakarta yang memberi pengalaman langsung bagi peserta untuk menorehkan malam di atas kain sekaligus merawat warisan budaya lokal secara menyenangkan.
Tak hanya di area pameran dan workshop, energi membara juga datang dari para peserta kompetisi tiga bahasa di ajang ABSASTA. Para talenta muda saling unjuk kebolehan di panggung kompetisi yang variatif—mulai dari seni mendongeng Tutur Narasi (Bahasa Indonesia), alunan melankolis khas Sing Ambyar (menyanyi lagu Jawa), hingga kepiawaian membawakan berita dalam Newscasting (Bahasa Inggris).
Di sela-sela kompetisi, para peserta lomba turut melebur menikmati atmosfer seni yang hidup, menjadikan event ini bukan sekadar ajang tanding, melainkan ruang bertukar gagasan dan membangun jejaring antar-pelajar.
Suasana panggung pertunjukan (art performance) kian menyempurnakan cerita dari berbagai sudut pandang pengunjung. Aksi art performance dari Sekar Tri Kusuma berhasil menyedot perhatian dan memberikan sentuhan artistik yang mendalam. Tak kalah memikat, pertunjukan tari kontemporer yang dibawakan oleh Joce menyuguhkan eksplorasi gerak tubuh yang begitu ekspresif, elegan, dan sarat akan pesan.
Kemeriahan panggung mencapai puncaknya saat band Sternsev mengambil alih panggung utama. Hentakan musik yang energik sukses menyatukan murid Smoephy, panitia, peserta lomba, hingga pengunjung workshop dalam satu ayunan irama untuk bernyanyi bersama di depan panggung.
Sinergi antarelemen ini membuktikan bahwa potensi anak sekolah, jika diberi wadah yang tepat, mampu melahirkan karya, aksi panggung, dan dampak sosial yang luar biasa. Artephy Vol. 2 2026 resmi menutup tirainya dengan kesan mendalam, memantik ekspektasi tinggi untuk kejutan seni yang lebih besar di volume berikutnya.










