SOLO – Sebanyak 11 perguruan tinggi di Indonesia berhasil meraih penghargaan UNS-KND Inclusion Metrics 2026. Penghargaan menggambarkan seberapa tinggi tingkat inklusivitas sebuah kampus.
Penghargaan diukur dengan sebuah instrumen pengukuran yang dikembangkan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Komisi Nasional Disabilitas (KND) untuk menilai tingkat inklusivitas perguruan tinggi dalam memberikan layanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas.
Penghargaan UNS-KND Inmnclusion Metrics 2026 diserahkan langsung oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si. didampingi Komisioner KND, Rachmita Harahap dalam acara Malam Anugerah Insan Berprestasi UNS 2026 dan penutupan Dies Natalis ke-50 UNS di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, Selasa malam (28/7/2026).
Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si. menyampaikan, penghargaan UNS–KND Inclusion Metrics Tahun 2026 diikuti oleh 19 perguruan tinggi di Indonesia. Prof. Hartono menyampaikan apresiasi kepada seluruh perguruan tinggi peserta yang telah berpartisipasi dalam proses penilaian ini.
“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh institusi yang berperan dalam mendukung penyelenggaraan UNS–KND Inclusion Metrics Tahun 2026. Kami berharap penghargaan ini dapat menjadi pemantik perguruan tinggi di Indonesia untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi yang semakin inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh warga kampus,” terang Prof. Hartono.
Ketua Tim UNS-KND Inclusion Metrics, Prof. Dr. Sunardi, M.Sc., menyampaikan bahwa upaya mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif di Indonesia memasuki babak baru melalui hadirnya UNS-KND Inclusion Metrics sebagai instrumen untuk mengukur tingkat inklusivitas perguruan tinggi. Menurutnya, instrumen ini diharapkan menjadi acuan bagi perguruan tinggi dalam mengevaluasi sekaligus meningkatkan kebijakan, layanan, dan lingkungan kampus yang lebih aksesibel serta ramah bagi penyandang disabilitas.
Prof. Sunardi menjelaskan bahwa semakin banyak perguruan tinggi yang menyatakan diri sebagai kampus inklusif. Namun, hingga kini belum tersedia instrumen yang dapat mengukur sejauh mana komitmen tersebut benar-benar diterapkan.
“Sejak tahun 2022 kami mengembangkan metrik ini dengan mengacu pada berbagai regulasi yang berlaku di Indonesia, termasuk peraturan mengenai penyelenggaraan pendidikan tinggi inklusif,” ujarnya.
Mulai tahun ini, instrumen tersebut dikembangkan bersama KND sehingga resmi menggunakan nama UNS-KND Inclusion Metrics sebagai instrumen nasional untuk mengukur praktik pendidikan tinggi yang inklusif.
UNS-KND Inclusion Metrics menilai tiga aspek utama, yakni budaya, kebijakan, dan praktik. Aspek budaya mengukur sejauh mana sivitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, memiliki sikap positif dan menghargai keberadaan penyandang disabilitas.
Sementara itu, aspek kebijakan menilai komitmen institusi melalui berbagai regulasi yang mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif. Lalu aspek praktik mengukur implementasi kebijakan tersebut dalam kehidupan kampus. Penilaian praktik mencakup berbagai indikator, mulai dari proses Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang memberikan kesempatan setara bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas hingga penyelenggaraan layanan pembelajaran yang menyediakan dukungan sesuai kebutuhan mahasiswa. Selain itu, asesmen juga menilai ketersediaan lingkungan fisik yang aksesibel, seperti jalur landai (ramp), lift, toilet aksesibel, serta fasilitas parkir khusus untuk mendukung mobilitas dan kemandirian penyandang disabilitas.
Selain itu, metrik juga menilai dukungan sosial yang diberikan perguruan tinggi, seperti layanan konseling, pendampingan, beasiswa, maupun bentuk bantuan lain yang mendukung keberhasilan studi mahasiswa penyandang disabilitas.
Pada implementasi perdana tahun 2026, KND mengundang sekitar 150 perguruan tinggi mitra untuk mengikuti sosialisasi UNS-KND Inclusion Metrics. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 perguruan tinggi mengikuti kegiatan sosialisasi, sementara 19 perguruan tinggi melanjutkan proses pengisian instrumen asesmen.
Hasil penilaian menunjukkan sebanyak 11 perguruan tinggi berhasil meraih kategori “Baik”, sedangkan perguruan tinggi lainnya masih berada pada kategori “Cukup”. Perguruan tinggi yang memperoleh kategori Baik diundang untuk menerima apresiasi atas komitmen mereka dalam mewujudkan kampus yang inklusif.
11 perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Padjadjaran, Universitas Islam Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas PGRI Argopuro Jember, Universitas Telkom, Universitas Lampung, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Hamzanwadi, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Sebelas Maret.
Penghargaan ini diberikan berdasarkan hasil penilaian UNS-KND Inclusion Metrics yang mengukur aspek budaya, kebijakan, dan praktik penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan perguruan tinggi. Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi perguruan tinggi lain untuk terus memperkuat komitmen dalam menyediakan lingkungan belajar yang setara, aksesibel, dan ramah bagi seluruh mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.
Ke depan, UNS-KND Inclusion Metrics diharapkan menjadi salah satu rujukan dalam penguatan tata kelola pendidikan tinggi inklusif di Indonesia. Seiring meningkatnya perhatian terhadap aspek inklusivitas dalam akreditasi dan berbagai skema pendanaan, sertifikat UNS-KND Inclusion Metrics diharapkan menjadi bukti objektif atas komitmen perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang inklusif. Sertifikat tersebut juga dapat memperkuat kredibilitas institusi dengan menunjukkan bahwa layanan, kebijakan, dan lingkungan kampus telah memenuhi standar pendidikan yang ramah, aksesibel, dan setara bagi penyandang disabilitas.
SOLO - Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menutup rangkaian Dies Natalis ke-50 melalui penyelenggaraan Anugerah…
SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi menetapkan logo Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah.…
JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) meraih Lestari Award 2026 pada kategori Talent…
JAKARTA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen meningkatkan sinergisitas dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan (PPN) atau…
SOLO - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif…
SOLO - Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menyelenggarakan…
This website uses cookies.