Kamis, 5 November 2026
Indospektrum
Advertisement
  • Home
  • News
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Gagasan
  • Indeks
  • Galeri
    • Foto
    • Video
No Result
View All Result
Indospektrum
  • Home
  • News
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Gagasan
  • Indeks
  • Galeri
    • Foto
    • Video
No Result
View All Result
Indospektrum
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Nguri-Uri Budaya Sejak Dini, Generasi Muda Semarang Tampil Memukau di Pagelaran Sindhu Laras Bocah

Indospektrum by Indospektrum
8 September 2026
in Gaya Hidup, Indeks
0
Share on FacebookShare on Twitter
Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras Bocah di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (5/9/2026). Foto: Ist.

SEMARANG – Di tengah gempuran teknologi dan lekatnya anak-anak dengan telepon seluler, panggung budaya justru menjadi ruang bagi generasi muda Semarang untuk kembali menyentuh akar tradisinya. Anak-anak tampil memainkan karawitan dan pedalangan, sekaligus menunjukkan bahwa budaya Jawa masih memiliki tempat di hati generasi penerus.

Semangat itu terlihat dalam Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras Bocah di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (5/9/2026).

Ketua Sindhu Laras Bocah, Dananjaya Gesit, mengatakan pagelaran tersebut merupakan bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa sejak usia dini.

Menurut dia, pengenalan budaya kepada anak-anak menjadi semakin penting di tengah derasnya perkembangan teknologi. Ketergantungan terhadap telepon seluler, kata dia, perlu diimbangi dengan kegiatan yang mendorong kreativitas, interaksi sosial, dan pembentukan karakter.

“Tujuan kami nguri-uri budaya Jawa sejak dini. Anak-anak sekarang sangat dekat dengan handphone. Kami ingin memberikan kegiatan yang positif supaya mereka tidak terlalu larut dalam pengaruh negatif handphone,” katanya.

Dananjaya menegaskan, karawitan dan pedalangan bukan sekadar aktivitas kesenian. Di dalam proses belajar tersebut, anak-anak ditempa untuk disiplin, bekerja sama, berani tampil di depan orang lain, serta memahami sopan santun dan nilai-nilai kehidupan dalam budaya Jawa.

“Kalau budaya sudah dikenalkan sejak dini, harapannya generasi muda ke depan menjadi lebih bagus. Mereka bisa mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tetapi tetap punya pegangan budaya dan karakter,” ujarnya.

Ia menyebut pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses panjang dan pengalaman langsung agar anak-anak tidak sekadar mengetahui budaya Jawa, tetapi tumbuh dengan rasa memiliki terhadap warisan tersebut.

Hal itu terlihat dari penampilan anak-anak Sindhu Laras Bocah di atas panggung. Dengan penuh percaya diri, mereka memainkan karawitan dan pedalangan di hadapan masyarakat.

Panggung tersebut sekaligus menjadi ruang belajar. Anak-anak berinteraksi, bekerja bersama, mengasah keberanian, dan mengekspresikan kreativitas melalui kesenian tradisional.

Bagi Sindhu Laras Bocah, teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Namun, anak-anak perlu memiliki ruang yang seimbang agar kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan kecintaan terhadap budaya.

Pagelaran tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin.

Kehadiran orang nomor dua di Kota Semarang itu menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap anak-anak yang sejak dini telah terlibat langsung dalam seni tradisional Jawa. Mereka tidak hanya belajar memainkan gamelan atau mendalami pedalangan, tetapi juga diperkenalkan pada nilai-nilai budaya yang membentuk karakter.

“Terima kasih kepada Sindhu Laras Bocah. Kami sangat mengapresiasi anak-anak yang hari ini tampil dan ikut menjaga budaya kita. Ini yang membuat kita senang karena melihat generasi emas yang sangat berbakat sekaligus memiliki kepedulian terhadap budaya,” ujar Iswar.

Menurutnya, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya. Anak-anak perlu tumbuh sebagai generasi yang mampu beradaptasi dengan kemajuan, namun tetap mengenal identitas dan nilai-nilai daerahnya.

“Cita-cita kita adalah menjadikan anak-anak ini sebagai generasi yang maju. Maju boleh, modern harus, tetapi jangan sampai melupakan budaya. Jaga kesehatan, terus belajar dan berkarya, serta bawa nama baik Kota Semarang di mana pun berada,” pesannya.

Dari panggung sederhana itu, pesan yang lebih besar pun muncul yakni, melestarikan budaya tidak harus menunggu generasi dewasa.

Justru sejak anak-anak mengenal gamelan, pedalangan, unggah-ungguh, dan nilai kebersamaan, sejak saat itu pula estafet budaya mulai diserahkan kepada generasi berikutnya.

Karawitan dan pedalangan pun tak lagi sekadar kesenian masa lalu. Di tangan anak-anak Semarang, keduanya menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan akar budaya Jawa dengan masa depan.

Tags: Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras BocahTaman Budaya Raden SalehTBRS Semarang
Previous Post

Stok Beras Jateng Surplus 1,5 Juta Ton, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Intervensi Pasar Digenjot

Next Post

Lemhannas Pilih Jawa Tengah Jadi Lokus Kajian Ketahanan Energi Nasional

Indospektrum

Indospektrum

Related Posts

UMS memperluas jejaring internasional melalui pengembangan kerja sama pendidikan tinggi dengan Republik Rakyat Tiongkok. Foto: Ist.
Indeks

Perluas Jejaring Global, UMS Gandeng KBRI Beijing Pertajam Kerja Sama Akademik dan Industri di Tiongkok

by Indospektrum
5 November 2026
UNS Solo meraih penghargaan QS Recognition Award for Performance Improvement dari QS Quacquarelli Symonds atas peningkatan signifikan dalam QS World University Rankings (WUR): Asia selama lima tahun terakhir. Foto: Ist.
Indeks

Raih QS Performance Improvement Dua Tahun Berturut-turut, UNS Tembus Peringkat 158 Asia

by Indospektrum
4 November 2026
Prosesi Pemasangan Bleketepe

SIJ. KGPAA Mangkoenagoro X (kiri) menyaksikan prosesi pemasangan Bleketepe oleh KPH. Hariadhi Anggoro Kadarisman dalam rangkaian acara Dhaup Ageng Mangkunegaran di Bangsal Tosan, Pura Mangkunegaran, Rabu (4/11/2026). Pemasangan Bleketepe merupakan rangkaian acara sebagai penanda dimulainya adat prosesi pernikahan.
Indeks

Pura Mangkunegaran Gelar Bleketepe dan Adang Sepisan, Tandai Dimulainya Dhaup Ageng Gusti Sura

by Indospektrum
4 November 2026
Dosen Program Studi PGSD UMS,  Muhammad Taufik Hidayat, S.Pd., M.Pd meraih Exceptional PhD Award dari School of Education and Culture, Monash University, Australia. Foto: Ist.
Indeks

Dosen PGSD UMS Raih Exceptional PhD Award dari Monash University Australia

by Indospektrum
4 November 2026
Pembangunan jalan beton di ruas Jepara-Keling, Kabupaten Jepara, sepanjang sekitar 3,3 kilometer pada 2026. Foto: Ist.
Indeks

Dulu Rusak dan Berlubang, Kini Jalur Alternatif Jepara-Pati Makin Mulus

by Indospektrum
4 November 2026
Next Post
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menerima kunjungan Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily. Foto: Ist.

Lemhannas Pilih Jawa Tengah Jadi Lokus Kajian Ketahanan Energi Nasional

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Currently Playing

Kategori

  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Indeks
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Uncategorized
  • Video

Rekomendasi

UMS memperluas jejaring internasional melalui pengembangan kerja sama pendidikan tinggi dengan Republik Rakyat Tiongkok. Foto: Ist.
Indeks

Perluas Jejaring Global, UMS Gandeng KBRI Beijing Pertajam Kerja Sama Akademik dan Industri di Tiongkok

5 November 2026
UNS Solo meraih penghargaan QS Recognition Award for Performance Improvement dari QS Quacquarelli Symonds atas peningkatan signifikan dalam QS World University Rankings (WUR): Asia selama lima tahun terakhir. Foto: Ist.
Indeks

Raih QS Performance Improvement Dua Tahun Berturut-turut, UNS Tembus Peringkat 158 Asia

4 November 2026
Prosesi Pemasangan Bleketepe

SIJ. KGPAA Mangkoenagoro X (kiri) menyaksikan prosesi pemasangan Bleketepe oleh KPH. Hariadhi Anggoro Kadarisman dalam rangkaian acara Dhaup Ageng Mangkunegaran di Bangsal Tosan, Pura Mangkunegaran, Rabu (4/11/2026). Pemasangan Bleketepe merupakan rangkaian acara sebagai penanda dimulainya adat prosesi pernikahan.
Indeks

Pura Mangkunegaran Gelar Bleketepe dan Adang Sepisan, Tandai Dimulainya Dhaup Ageng Gusti Sura

4 November 2026
Dosen Program Studi PGSD UMS,  Muhammad Taufik Hidayat, S.Pd., M.Pd meraih Exceptional PhD Award dari School of Education and Culture, Monash University, Australia. Foto: Ist.
Indeks

Dosen PGSD UMS Raih Exceptional PhD Award dari Monash University Australia

4 November 2026
Pembangunan jalan beton di ruas Jepara-Keling, Kabupaten Jepara, sepanjang sekitar 3,3 kilometer pada 2026. Foto: Ist.
Indeks

Dulu Rusak dan Berlubang, Kini Jalur Alternatif Jepara-Pati Makin Mulus

4 November 2026
Pembangunan talud di ruas Kudus-Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Foto: Ist.
Indeks

Taj Yasin Minta Pembangunan Talud Kudus-Colo Selesai Sebelum Puncak Kunjungan Wisata Religi

4 November 2026
Facebook Instagram Twitter Youtube
Indospektrum

Indospektrum adalah portal berita yang mengonfirmasi data dan fakta dengan sumber informasi.

Kategori

  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Indeks
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Uncategorized
  • Video
  • Tentang Kami
  •  
  • Tim Redaksi
  •  
  • Kontak Kami

© 2026 - Indospektrum

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Gagasan
  • Indeks
  • Galeri
    • Foto
    • Video

© 2026 - Indospektrum