
SOLO – Wacana duet Gibran Rakabuming Raka-Dedi Mulyadi atau KDM untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) Tahun 2029 terus bergulir. Duet Gibran-KDM dinilai akan menjadi kekuatan yang dahsyat dan klop.
Usulan duet Gibran-KDM salah satunya dilontarkan Rampai Nusantara, organisasi relawan pendukung mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Gibran yang kini menjabat Wakil Presiden (Wapres) RI, dinilai memiliki kekuatan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan KDM dinilai merupakan simbol suara dari Jawa Barat.
“Menarik ya karena mungkin saja, dan mungkin saja karena mau tidak mau KDM itu simbol dari suara Jawa Barat yang cukup besar. Jadi kalau bicara politik kekuasaan, itu kan Jawa menjadi kunci suara. Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Nah Jawa Barat itu identik dengan KDM, Mas Gibran identik dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur, ya selesai kan, klop,” kata Ketua Umum Rampai Nusantara, Mardiansyah usai bertemu Jokowi di Solo, Rabu (30/9/2026).
Lebih jauh dikatakan, isu duet Gibran-KDM dinilai membuat beberapa kalangan mulai gelisah. Hal itu dinilai wajar karena keduanya merupakan kekuatan yang dahsyat. Cara berpolitik Gibran yang kini menjabat Wakil Presiden (Wapres) RI dan KDM yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat, dinilai mulai menyatu. Termasuk juga cara-cara bertemu masyarakat.
Pihaknya berharap duet Prabowo-Gibran sebenarnya dapat terus berlanjut dan bahkan hingga 2034. Namun jika Prabowo sudah tidak mau bersama Gibran lagi, tentunya juga tidak bisa dipaksa.
“Ya pasti kan ada takdir politik sendiri buat Mas Gibran, kalau misalnya memang takdir politiknya nanti berpasangan dengan KDM, bagus-bagus aja kalau menurut saya, dan kayaknya agak sulit dikalahkan juga ya,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Mardiansyah juga mengingatkan pihak-pihak yang selama ini menyerang Jokowi dan keluarga untuk berhenti. Salah satunya mengenai isu ijazah Gibran.
“Tadi sempat disinggung juga sama Pak Jokowi. Kalau Pak Jokowi sudah melihat dokumen sekolah Mas Gibran, enggak ada masalah sama sekali. Jadi tenang-tenang saja beliau,” katanya.
Bahkan Jokowi juga tidak gentar dengan adanya gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait riwayat pendidikan Gibran. Pihaknya menduga adanya politisasi dari berbagai pihak untuk coba mendiskreditkan Gibran.
Dikatakannya, bangsa sedang banyak mengalami masalah, sehingga jauh jauh lebih penting energinya untuk hal lain disbanding sekadar mengurusi ijazah.
Mardiansyah juga menyoroti keberadaan Jokowi yang telah menunjukkan kartu tanda anggota Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dirinya berharap Jokowi dapat menjadi Ketua Umum PSI.
“Pak Jokowi senyum. Nah kalau kalau senyum kan berarti bisa iya, bisa enggak. kita tunggu aja. Kalau saya walaupun sebagai Ketua Umum Relawan Nusantara yang secara organisasi belum masuk ke PSI, tapi kan kami sejak belasan tahun lalu juga pendukung loyalisnya Pak Jokowi. Jadi setiap langkah politik Pak Jokowi, tentu kita akan dukung. Pak Jokowi ke PSI, seluruh pasukan Rampai Nusantara pasti mendukung langkah itu juga. Mau masuk secara partai, maupun tidak. Nah itu yang paling penting,” katanya.
Dalam diskusi, dirinya juga meminta agar Pak Jokowi juga tetap keliling, dan tidak perlu takut dengan yang lain-lain. Jokowi dengan kekuatannya sekarang ini, pihak lain diminta untuk tidak memusuhi.
“Tapi harusnya menemani Pak Jokowi, karena yang memusuhi biasanya kena balaknya sama Pak Jokowi,” katanya.











