Categories: GagasanIndeks

Refleksi QS. Al-Mujadilah: Dosen UMS Ingatkan Konsekuensi Melanggar Syariat Allah

Dosen FAI UMS, Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., saat memparkan materi. Foto: Ist.


SOLO
– Banyak sekali manusia yang lalai akan syariat Allah SWT. Terkadang mereka melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kesenangan semata yang keluar batas syariat.

Dengan berbagai variasi cara mereka lakukan, yang secara diam-diam atau yang nampak jelas. Padahal Allah SWT adalah tuhan Maha Tahu segala sesuatu apapun, bahkan amalan yang masih dalam hati manusia Allah mengetahuinya.

Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengajak untuk merefleksikan kembali kekuasaan Allah SWT melalui QS. Al-Mujadilah ayat 5-8.

Ia menjelaskan ayat kelima tentang konsekuensi manusia yang melanggar syariat Allah. Manusia akan dihinakan di dunia dan akhirat atas perbuatannya yang melanggar syariat Allah SWT.

“Konsekuensi orang yang melanggar syariat akan dihinakan oleh Allah SWT,” jelasnya, Senin (20/4/2026).

Ainur Rhain menganalogikan orang yang berbuat dosa seperti orang yang berpakaian kotor yang tidak berani keluar dalam kerumunan. Menurutnya, secara sadar manusia jika melakukan sebuah dosa akan merasa dirinya malu untuk berbaur dengan masyarakat lain.

“Analogi orang yang melakukan dosa seperti orang yang berpakain kotor yang malu untuk keluar di keramaian masyarakat. Orang itu akan keluar jika pakaiannya sudah suci atau dalam artian dia akan berani membaur dengan masyarakat jika telah bertaubat,” terangnya.

Fenomena orang-orang yang melanggar syariat terjadi berulang-ulang. Menurut Ainur, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai penjelas hukum-hukum syariat secara komprehensif.

“Al-Qur’an turun sebagai pedoman hukum umat manusia sebagai pertimbangan dalam melakukan sebuah amalan,” ungkapnya.

Selain itu, keberadaan dunia adalah sebagai tempat kehidupan sementara seluruh makhluk Allah, sedangkan akhirat adalah tempat kehidupan makhluk Allah yang kekal. Ainur Rhain pada ayat keenam menjelaskan bahwa Allah akan membangkitan seluruh makhluknya.

Penafsiran dari ayat tersebut adalah ada masa di mana manusia akan dibangkitkan secara kolektif untuk mempertanggungjawabkan amalan kita, sebagai penentu kehidupan abadi kita di surga atau neraka. Ia juga menjelaskan bahwa Allah akan mengabarkan hitungan segala amalan manusia yang tercatat dalam satu buku, sehingga manusia tidak akan mengelabui kekuasaan Allah.

“Buat apa merasa angkuh dengan kekayaan atau kekuasaan, jika nanti di akhirat kita disamaratakan tanpa memandang harta dan kekuasaan, tapi memandang amalan siapa yang paling mulia,” ujarnya.

Ainur Rhain juga menyoroti tingkah manusia yang merasa memiliki rasa kebebasan penuh di dunia, padahal kebebasan tersebut bukanlah kebebasan yang mutlak, setiap tindakan dan amalan manusia berada dalam cakrawala ilmu dan kesaksian Allah.

Lebih lanjut, ketika buku amalan itu diperlihatkan, manusia sadar dirinya tidak layak untuk masuk surga, tapi Allah mengatakan “Seperti di saat kamu di dunia dosamu saya tutupi. Maka, di sini (akhirat) dosamu saya maafkan”.

“Jangan jadi orang mujahir (orang yang menampakkan dosa), karena Allah menutupi segala perbuatan dosa manusia di dunia,” tuturnya.

Pada penjelasan ayat ketujuh dan kedelapan, Rha’in menerangkan bahwa kedua ayat tersebut dibuka dengan pertanyaan retoris اَلَمْ تَرَ (Apakah kamu tidak memperhatikan). Dalam bahasa Arab kalimat tersebut merupakan kalimat istifham taqriri yang berarti kalimat pertanyaan yang bertujuan untuk penegasan sesuatu yang sudah pasti.

Dua ayat tersebut menyoroti kebiasaan pembicaraan rahasia. Menurut Ainur Rha’in, pembicaraan rahasia merupakan kebiasaan orang kafir zaman dahulu, yang bertujuan untuk mengolok-olok nabi dan menghancurkan ukhuwah kaum muslim. Sehingga ayat ini turun sebagai counter atau tameng untuk membendung perbuatan orang-orang kafir.

“Ayat tujuh dan delapan sebagai penangkal keinginan umat kafir untuk memecah belah umat muslim,” jelasnya.

Di zaman perkembangan teknologi seperti saat ini, Ainur Rha’in berpesan untuk tidak membuat grup atau kelompok kecil di platform digital yang bertujuan buruk.

“Dalam konteks saat ini jangan membuat grup atau kelompok yang tujuannya eksis untuk membuat kegaduhan dan perbuatan buruk yang lainnya di platform digital, seperti WhatsApp, Instagram, dan lain sebagainya,” tutupnya.

Indospektrum

Recent Posts

Musim Haji 2026: Bandara Adi Soemarmo Kembali Hadirkan Layanan Fast Track Makkah Route

SOLO – Sebanyak 29.121 jemaah calon haji yang terbagi dalam 81 kelompok terbang (kloter) akan…

8 jam ago

Revolusi Digital Ahli Gizi: NutriAI Pro Resmi Meluncur sebagai Platform AI Pertama di Indonesia

SOLO - Transformasi digital di bidang kesehatan kembali menunjukkan perkembangan signifikan dengan diluncurkannya NutriAI Pro.…

14 jam ago

Pemprov Jateng Siapkan 12 Venue dan Rangkaian Acara MTQ Nasional XXXI di Semarang

SEMARANG - Persiapan gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026 yang akan diselenggarakan…

14 jam ago

Disentil JK soal Karier Politik Hingga Jadi Presiden, Jokowi: Saya Orang Kampung

SOLO - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) merespons pernyataan mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf…

16 jam ago

Pererat Sinergi, Ahmad Luthfi Tekankan Peran Sentral NU dalam Pembangunan Jawa Tengah

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen selama kepemimpinannya…

22 jam ago

Buka Rakernas KAI di Semarang, Ahmad Luthfi Tekankan Pentingnya Integritas Hukum

SEMARANG - Kepastian hukum bukan sekadar fondasi, tetapi magnet utama bagi masuknya investasi dan percepatan…

2 hari ago

This website uses cookies.