
SOLO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar Alumni Entrepreneur Summit 2026 pada Sabtu (4/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Ahmad Syafii Maarif, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, sebagai bentuk komitmen dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan.
Kegiatan menghadirkan alumni, mahasiswa, serta pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan usaha dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kegiatan yang mempertemukan alumni, mahasiswa, dan berbagai pemangku kepentingan ini diawali dengan sambutan Pengantar dan Penyampaian Gagasan Pembentukan Forum Bisnis UMS, Dr. Moh. Indra Bangsawan, M.H., kemudian Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan, Alumni, dan AIK (LP3A) UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H.
Selanjutnya, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., memberikan sambutan sekaligus motivasi kepada para peserta, sebelum dilanjutkan dengan kuliah umum oleh M. Riza Damanik, ST., M.Si., Ph.D., IPU., Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Republik Indonesia.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum, menegaskan bahwa alumni merupakan pilar penting dalam menjaga keberlanjutan universitas. Menurutnya, hubungan antara kampus dan alumni tidak berhenti setelah kelulusan, tetapi terus berkembang melalui kontribusi nyata di berbagai sektor, termasuk dunia usaha.
“Alumni menjadi poros penting dalam pengembangan UMS sekaligus menjaga keberlanjutan universitas. Kami ingin alumni terus tumbuh bersama kampus dan menjadi bagian dari kemajuan masyarakat,” ujarnya.
Harun menekankan bahwa menjadi pengusaha besar merupakan proses yang harus dibangun dari bawah. Ia membagikan pengalaman bertemu sejumlah diaspora Indonesia di Selandia Baru yang memulai karier dari pekerjaan sederhana sebelum akhirnya berhasil membangun bisnis berskala besar.
Ia mencontohkan seorang diaspora Indonesia yang kini mengelola puluhan gerai usaha kuliner di Auckland setelah memulai dari pekerjaan magang. Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa ketekunan dan keberanian memulai dari nol menjadi modal utama dalam membangun usaha.
“Kita datang bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi bagaimana bersama-sama menciptakan lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Menurutnya, Alumni Entrepreneur Summit 2026 menjadi salah satu upaya UMS memperkuat ekosistem kewirausahaan berbasis jejaring alumni. “Melalui forum ini, kampus tidak hanya mempererat hubungan dengan lulusan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi strategis untuk mendorong lahirnya inovasi, usaha baru, dan kontribusi nyata bagi penguatan ekonomi nasional,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Republik Indonesia M. Riza Damanik, ST., M.Si., Ph.D., IPU menyampaikan kuliah umum bertajuk Membangun Ekosistem Wirausaha Mahasiswa dan Alumni untuk Penguatan UMKM Indonesia.
Ia mengapresiasi inisiatif UMS yang secara rutin mempertemukan alumni sebagai ruang membangun jejaring, kolaborasi, hingga membuka peluang bisnis baru.
“Forum alumni seperti ini sangat penting karena menjadi media untuk memperluas jejaring, memperkuat kontribusi alumni kepada almamater, sekaligus membuka akses bisnis yang lebih luas,” katanya.
Iai mengungkapkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto juga mendorong semakin banyak generasi muda memilih jalur kewirausahaan, tidak semata-mata berorientasi menjadi aparatur sipil negara. Karena itu, Kementerian UMKM terus memperkuat ekosistem yang mendukung lahirnya wirausaha baru.
Menurutnya, tantangan UMKM bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga mengakses pasar, pembiayaan, teknologi, serta pendampingan usaha. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah memperkuat lembaga inkubator bisnis yang dinilai mampu menekan risiko kegagalan usaha secara signifikan.
“Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa proses inkubasi mampu menurunkan risiko kegagalan usaha hingga 80 sampai 90 persen. Karena itu, mahasiswa maupun alumni yang ingin memulai usaha sebaiknya melewati proses inkubasi,” jelasnya.
Riza juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 754 lembaga inkubator di Indonesia, dengan Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang memiliki jumlah inkubator terbanyak. Ia melihat potensi besar UMS untuk semakin memperkuat peran inkubator bisnis kampus melalui kolaborasi bersama Kementerian UMKM.
Selain inkubasi, pemerintah menghadirkan berbagai program pendukung seperti Prokesra, Bursa Wirausaha Unggulan, serta platform digital Sapa UMKM yang memberikan akses pelatihan, pendampingan, pembiayaan, sertifikasi, hingga konsultasi bisnis bagi pelaku UMKM dan calon wirausaha.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, alumni, dan pemerintah, Riza berharap semakin banyak wirausaha muda lahir dari lingkungan kampus dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.











