SOLO – Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP) Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., mengajak Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id turut berkolaborasi dalam pembangunan lebih dari 5.000 kampung nelayan modern di seluruh Indonesia. Kolaborasi dinilai membutuhkan kontribusi lintas bidang keilmuan yang dimiliki perguruan tinggi, termasuk UMS.
Ajakan disampaikan Irwan dalam Upacara Hari Jadi ke-68 UMS, Sabtu (24/10/2026) di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS. Ia menyebut pembangunan kampung nelayan tidak hanya berkaitan dengan sektor kelautan dan perikanan, tetapi juga membutuhkan dukungan berbagai disiplin ilmu.
Menurutnya, pembangunan kampung nelayan modern mencakup berbagai persoalan, mulai dari penyimpanan dan pendinginan hasil tangkapan, energi, teknologi, kesehatan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Kita sedang membangun lebih dari 5.000 kampung nelayan di seluruh Indonesia. Di tahun ini kita bertekad lebih dari 1.000 selesai,” ujar Irwan.
Ia menjelaskan, pemerintah juga tengah mengembangkan kawasan budidaya udang seluas lebih dari 14.000 hektare di wilayah utara Pulau Jawa yang tersebar mulai dari Brebes hingga Rembang.
Pengembangan tersebut membutuhkan dukungan berbagai bidang keilmuan, seperti mikrobiologi, sensor, teknologi, hingga bisnis.
Karena itu, Irwan melihat perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk mendukung pembangunan kampung nelayan.
Ia secara khusus membuka peluang kolaborasi dengan UMS melalui berbagai program studi yang relevan.
“Ini kita bisa bekerja sama banyak sekali, menjadikan 1.000 kampung nelayan ini sebagai laboratorium bagi Bapak/Ibu sekalian. Pintunya kami buka selebar mungkin dan kita mengajak kolaborasi bersama,” katanya.
Ia menyebut sejumlah fakultas dan program studi di UMS yang berpotensi terlibat, antara lain Fakultas Geografi, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Kedokteran, Prodi Kesehatan Masyarakat, juga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kolaborasi ini bisa terlaksana seperti melalui riset dan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik.
Menurut Irwan, keterlibatan perguruan tinggi penting karena pembangunan kampung nelayan tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur.
Lebih dari itu, diperlukan pendekatan multidisiplin agar kawasan pesisir dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Ia juga mengaitkan agenda tersebut dengan semangat Al-Ma’un yang menjadi salah satu nilai penting dalam gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, kemajuan akan memiliki makna ketika manfaatnya dapat dirasakan masyarakat yang paling membutuhkan.
“Saya ingat ada semangat Al-Ma’un dari Kiai Ahmad Dahlan bahwa kemajuan itu baru bermakna pada saat dirasakan oleh mereka yang paling lemah. Dan nelayan adalah bagian komunitas paling lemah dan paling miskin di Indonesia,” ungkapnya.
Irwan menegaskan, pembangunan peradaban biru Indonesia membutuhkan sinergi berbagai pihak. Negara, perguruan tinggi, persyarikatan Muhammadiyah, dan masyarakat pesisir perlu bergerak bersama untuk mewujudkan kawasan pesisir yang mandiri dan berkelanjutan.
“Peradaban biru yang berkelanjutan adalah kerja bersama, negara, kampus, persyarikatan Muhammadiyah, masyarakat pesisir,” tegasnya.
Menanggapi peluang tersebut, Dekan Fakultas Geografi UMS Prof. Jumadi, S.Si., M.Sc, Ph.D., menyampaikan bahwa keilmuan geografi memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan wilayah laut dan pengembangan ekonomi biru. Menurutnya, salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi remote sensing atau penginderaan jauh.
Teknologi tersebut, kata Jumadi, dapat digunakan untuk memonitor kondisi laut, baik dari aspek fisik maupun biologis. Bahkan, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan penginderaan jauh dikombinasikan dengan machine learning untuk memprediksi sebaran ikan dan menentukan wilayah yang potensial sebagai fishing ground.
“Makanya geografi penting dalam pengelolaan ekonomi biru kita,” jelasnya.
Jumadi juga menyambut peluang kerja sama yang ditawarkan Wamen KKP. Menurutnya, UMS dapat menginisiasi kolaborasi untuk mengembangkan ekonomi biru melalui pemanfaatan keilmuan dan sumber daya yang dimiliki perguruan tinggi.
“Karena kita juga ingin bekerja sama. Sebenarnya kesempatan ini kemarin sudah akan dikenalkan waktu di Bali. Kalau bisa hari ini kita akan coba inisiasi untuk kerja sama dengan Pak Wamen untuk pengembangan ekonomi biru ini,” tuturnya.
Peluang tersebut sekaligus membuka ruang bagi berbagai program studi di UMS untuk berkontribusi melalui pendekatan keilmuan masing-masing. Geografi dapat berperan dalam pemetaan dan pengelolaan wilayah pesisir, sementara bidang biologi, teknik, kesehatan, ekonomi, hukum, pendidikan, hingga teknologi dapat mendukung pengembangan kampung nelayan dari berbagai aspek.
SOLO - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memberikan apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa…
SOLO - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id meneguhkan komitmen untuk terus tumbuh berbasis mutu, memberikan…
SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menyampaikan apresiasinya kepada seluruh guru Pendidikan Anak Usia…
SEMARANG – Sejumlah akademisi ilmu sosial dan politik berbagai perguruan tinggi di Indonesia menyoroti kepemimpinan…
SOLO – Ikatan Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali meluncurkan program beasiswa bagi…
SOLO – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mematangkan persiapan pendirian Program…
This website uses cookies.