Categories: IndeksPendidikan

Dosen UMS: AI Ubah Peta Industri Komunikasi, Manusia Tetap Pegang Kendali Eksekusi

Dosen Ilmu Komunikasi bidang komunikasi digital UMS, Ahmada Auliya Rahman, S.I.Kom., M.Pd. Foto: Ist.

SOLO – Kecerdasan buatan atau AI mengubah peta industri komunikasi digital. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tim dengan beragam keahlian kini berpotensi dilakukan oleh satu orang dengan bantuan AI.

Perubahan ini bukan semata ancaman bagi tenaga profesional, melainkan momentum untuk memperkuat kompetensi yang tidak berhenti pada kemampuan memproduksi konten, tetapi juga mencakup strategi komunikasi, literasi data, kreativitas, dan etika.

Dosen Ilmu Komunikasi bidang komunikasi digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Ahmada Auliya Rahman, S.I.Kom., M.Pd., menilai penggunaan AI tidak dapat dihindari seiring kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kemudahan akses membuka peluang bagi pelaku industri untuk mengolah data dalam jumlah besar, termasuk membaca pola komunikasi masyarakat sebagai dasar menyusun strategi kampanye digital. Namun, potensi tersebut baru memberikan manfaat apabila pengguna memiliki literasi yang memadai.

Dalam pembentukan opini publik, kemampuan AI mengolah data dapat membantu pengguna memahami pola komunikasi digital. Akan tetapi, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk tujuan manipulatif. Menurut Ahmada, dampak AI sangat bergantung pada tujuan dan cara manusia menggunakannya. Kemampuan teknis perlu disertai pemahaman norma dan etika agar kecanggihan teknologi tidak justru memperbesar risiko penyalahgunaan informasi.

“Kebermanfaatan penggunaan AI tentu tergantung dengan siapa yang memberikan perintah kepada AI melalui prompt yang diberikan,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).

Ia mengibaratkan AI seperti pisau yang dapat menghasilkan manfaat ataupun bahaya, bergantung pada penggunanya. Karena itu, kecakapan menggunakan teknologi perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

Perubahan cara kerja tersebut turut menantang pola kebutuhan tenaga profesional di industri komunikasi. Jika sebelumnya sebuah proyek komunikasi digital membutuhkan tim dengan kemampuan yang beragam, AI kini memungkinkan sebagian pekerjaan dilakukan oleh satu orang dengan bantuan teknologi. Pergeseran ini membuat kemampuan yang hanya bertumpu pada produksi teknis berpotensi menghadapi persaingan lebih besar. Pada saat yang sama, kondisi tersebut mendorong tenaga profesional untuk memperkuat kemampuan analisis, perencanaan, dan pengambilan keputusan.

Tantangan lain muncul ketika konten berbasis AI semakin menyerupai produk asli. Ahmada mengingatkan bahwa masyarakat digital perlu terus belajar membedakan konten yang dihasilkan AI dan konten asli. Meski pencantuman keterangan penggunaan AI telah dikenal, ia menilai masih ada konten yang tidak menyertakan label tersebut. Situasi ini memperkuat pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menilai informasi secara kritis.

Bagi Ahmada, jalan keluarnya bukan menolak AI, melainkan menempatkannya sebagai alat bantu dengan manusia tetap memegang kendali atas hasil akhir.

“Menggunakan AI bukanlah hal yang salah, selama AI sebatas digunakan sebagai asisten saja bukan sebagai eksekutor. Sehingga dalam berbagai jenis industri komunikasi digital, manusia tetap harus yang melakukan eksekusi akhir produk yang dihasilkan,” katanya.

Prinsip tersebut menegaskan bahwa kemudahan produksi tidak menghapus tanggung jawab manusia terhadap kualitas dan dampak pesan yang disampaikan kepada publik.

Perubahan ini juga menjadi tantangan bagi mahasiswa dan lulusan Ilmu Komunikasi. Menurutnya, penguasaan AI perlu dibarengi pendalaman keilmuannya agar mereka tidak sekadar mampu menggunakan perangkat, tetapi juga memahami tujuan, konteks, dan konsekuensi dari pesan yang dibuat. Kreativitas, strategi komunikasi, literasi data, dan etika profesional menjadi bekal penting untuk beradaptasi dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

“Dalam menghadapi gempuran AI saat ini mahasiswa harus semakin meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenai keilmuan yang digelutinya,” ujar Ahmada.

Ia mendorong mahasiswa menjadikan AI sebagai asisten untuk menghasilkan karya yang lebih bermanfaat. Dengan pendekatan tersebut, kemajuan teknologi dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas kerja komunikasi, sementara manusia tetap berperan menentukan arah, nilai, dan tanggung jawab dari setiap pesan yang diproduksi.

Indospektrum

Recent Posts

Dukung Swasembada Susu Nasional, Pemprov Jateng Siapkan Magelang Jadi Sentra Sapi Perah Baru

MAGELANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap mendukung pengembangan Kabupaten Magelang sebagai sentra sapi perah…

2 jam ago

Diikuti Puluhan Perguruan Tinggi, Ini Daftar Pemenang BPC dan Esai PENA 8.0 UMS

SOLO - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengembangan Prestasi dan Riset Mahasiswa (PRISMA) Universitas Muhammadiyah Surakarta…

3 jam ago

Pemprov Jateng Perkuat Kompetensi Bendahara KDKMP untuk Gerakkan Ekonomi Desa

KARANGANYAR – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat kesiapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di…

4 jam ago

Kemdiktisaintek dan UMS Gelar Workshop PASTI-Q1 2026, Dorong Dosen Indonesia Tembus Jurnal Internasional Bereputasi

SOLO - Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang),…

19 jam ago

Sekda Pemprov Jateng Tekankan Pentingnya Pencermatan Kebijakan dalam Menyusun APBD 2027

SEMARANG – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno menekankan pentingnya integritas, kehati-hatian serta kepatuhan…

20 jam ago

Insiden saat Kompetisi, KONI dan Panitia Porprov Jateng Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

SEMARANG – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Tengah bersama panitia penyelenggara Pekan Olahraga Provinsi…

20 jam ago

This website uses cookies.