Categories: GagasanIndeks

Indonesia Masuk 10 Negara Terkotor, Pakar UMS Soroti Kemalasan Membuang Sampah

Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat UMS, Rezania Asyfiradayati, SKM., M.P.H. Foto: Ist.

SOLO – Dalam laporan Ultimate Kilimanjaro pada tahun 2025, Indonesia termasuk dalam kategori 10 negara terkotor di dunia.

Aktivitas pabrik-pabrik industri yang tidak memfasilitasi tempat pembuangan limbah menjadi alasan utama. Selain itu, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah juga menjadi sorotan publik, pasalnya banyak ditemui sampah-sampah yang menggenangi sungai maupun lautan.

Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ Rezania Asyfiradayati, SKM., M.P.H., yang ahli dalam bidang kesehatan lingkungan merespons permasalahan tersebut. Ia menyoroti permasalahan sampah yang tidak kunjung tuntas di Indonesia, disebabkan atas kemalasan masyarakat dalam membuang sampah. Menurutnya, untuk merubah perilaku masyarakat tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan proses panjang.

Dalam teori of planned behavior, manusia mengadopsi suatu kebiasaan lewat tiga faktor tertentu. Pertama, dampak yang dianggap terlalu jauh atau tidak dirasakan secara langsung bagi masyarakat. Kedua, tingginya hambatan dari operasional yang ada di sekitar masyarakat. Ketiga, adanya gap atau kesenjangan antara pengetahuan dengan tindakan/aktualisasi yang sangat jauh dalam masyarakat.

Untuk memperbaiki kondisi lingkungan bersih sampah, diperlukan pemahaman tentang pengelolaan sampah. Ia menilai bahwa keluarga menjadi faktor yang paling besar dalam permasalahan tersebut. Kebiasaan dalam keluarga dalam mendidik dan memfasilitasi menjadi pondasi utama dalam membentuk karakter generasi yang peka terhadap sampah.

“Tumbuhnya tanggung jawab moral nantinya pada anak-anak karena kebiasaan yang dibentuk sejak kecil. Rasa empati itu akan tumbuh terhadap lingkungan sekitar, meskipun terhadap hal-hal yang kecil,” jelasnya, Selasa (25/8/2026).

Rezania menyebutkan bahwa terdapat tiga faktor terkait dengan perilaku manusia, yakni motivasi, fasilitas, dan pemicu. Menurutnya, pemicu berupa sanksi dan reward yang masih rendah serta belum terkondisikan secara menyeluruh di Indonesia menjadi alasan mengapa sampah masih belum terkelola dengan baik.

Dalam konteks pengelolaan sampah, proses pemilahan sampah menjadi tahapan paling awal. Tetapi, ia menyatakan terdapat paradigma berpikir yang salah di kalangan masyarakat. Banyak yang menganggap pemilahan sampah menjadi suatu hal yang sia-sia, karena pada akhirnya diangkut secara bercampuran. Padahal, pemilahan sampah menurut Rezania memiliki nilai utama.

“Pemilahan sampah dalam skala kecil dapat memudahkan pekerja TPS dalam memilih sampah dengan kuantitas yang lebih besar untuk dikelola, kemudian juga dapat meminimalisir kontaminasi sampah, yang menyebabkan kerusakan alam,” tegasnya.

Ia menerangkan bahwa sampah dapat menghasilkan nilai jual tinggi atau yang sering disebut dengan ekonomi sirkular. Sampah atau limbah tidak dibuang, tetapi diolah kembali menjadi produk tertentu.

Untuk menciptakan model ekonomi sirkular, masyarakat perlu memulai dengan memilah dan membedakan pembuangan sampah organik dan anorganik, sehingga nantinya menghasilkan produk dengan kebermanfaatan tertentu.

“Sampah sisa-sisa sayur masakan rumah dapat diolah menjadi kompos cair, sedangkan kulit-kulit buah dapat diolah menjadi eco-enzyme. Sehingga dari pengolahan-pengolahan tersebut dapat menciptakan produk kebutuhan-kebutuhan keluarga yang dapat dimanfaatkan kembali,” terangnya.

Rezania juga menyebut sebagian masyarakat telah mulai memanfaatkan dan mengolah sampah menjadi produk bermanfaat. Seperti, tumpukan sampah di daerah Putri Cempo, menurutnya, telah dikelola untuk dijadikan sebagai sumber tenaga listrik meskipun belum berjalan secara sempurna.

Lebih lanjut, Rezania menerangkan peran penting universitas sebagai salah satu Institusi pendidikan. Menurutnya, universitas dapat mengambil peran melalui inovasi dan pengabdian masyarakat.

“Pada aslinya masyarakat tidak sekedar butuh penyuluhan saja, tapi masyarakat perlu adanya aksi nyata dari para akademisi lewat institusi-institusi tertentu,” tuturnya.

Indospektrum

Recent Posts

Perkuat Internasionalisasi, Prodi Manajemen UMS Jelajahi Program Double Degree Bersama MSU Malaysia

SOLO - Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id…

2 jam ago

Nasrul Harahab Dilantik Jadi Kepala SD UMS Global Citizen Lab School Periode 2026–2030

SOLO - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan dasar berkualitas…

3 jam ago

Bantu Brand Scaling Up Tanpa Modal Raksasa, FAS Hadirkan Solusi All-in-One Enabler

JAKARTA - Perkembangan bisnis tentu jadi momen yang paling ditunggu setiap brand. Namun, di balik…

7 jam ago

Investasi Rp1,6 Triliun, Groundbreaking PLTS Terapung Gajah Mungkur Resmi Dimulai

WONOGIRI - Jawa Tengah resmi menjadi bagian dari lompatan besar Indonesia menuju kemandirian energi. Pembangunan…

22 jam ago

Pemprov Jateng Dorong Modifikasi Cuaca untuk Atasi Ancaman Kekeringan Panjang

BATANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan masih…

24 jam ago

Kebakaran Rumah Produksi Kursi Busa di Solo, Dua Anak Alami Luka Bakar

SOLO - Rumah milik Wijayati, warga RT 05 RW 11, Kampung Tunggulsari, Kelurahan Pajang, Kecamatan…

1 hari ago

This website uses cookies.