Categories: Gaya HidupIndeks

Peringati Hari Kelahiran Mangkunegoro X, ISI Solo Gelar Pentas Triwulan Catha Ambya 9 di Pura Mangkunegaran

Pentas Triwulan Catha Ambya 9 ISI Solo di Pamedan Pura Mangkunegaran guna memperingati hari kelahiran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X. Foto: Ist.

SOLO – Pentas Triwulan Catha Ambya 9 ISI Solo hadir dengan suasana magis dan berbeda dengan sebelumnya. Acara yang berlangsung di Pamedan Pura Mangkunegaran guna memperingati hari kelahiran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X.

Melalui siaran pers Humas ISI Solo, diterangkan bahwa pentas digelar di luar Kampus Triwulan berkolaborasi dengan Tingalan Wiyosan Setu Pon pada hari pasaran Jawa, Sabtu (11/4/2026). Mengangkat tema “Tubuh sebagai Kolaborasi dan Interaksi”, menjadi ruang dialog tentang bagaimana kita hadir dan tumbuh bersama. Pentas Triwulan dan Tingalan Wiyosan Setu Pon menjadikan kesempatan untuk dapat mengembangkan kebudayaan.

Dimulai pukul 19.00 WIB dibuka dengan pertunjukan iringan Klenengan gamelan merdu Mangkunegaran, menciptakan suasana sakral yang memukau. Pada pertengahan penampilan, para abdi dalem melakukan Boga Sambrama –merupakan momen berbagi keberkahandan rasa syukur yang diwujudkan melalui pembagian aneka jajanan atau makanan.

Boga Sambrama yang diwadahi tampah berisi pala pendem yang dihias indah dengan alas daun pisang, disajikan kepada para penonton sebagai wujud keramahan dan keakraban budaya Jawa. Pada pentas kemudian dihadirkan lima sajian tari.

Sajian pertama yaitu Tari Gambyong Maduretno yang ditarikan oleh empat penari wanita. Gambyong Maduretno merupakan karya Pujiyani pada tahun 2018 yang lahir dari kecintaannya pada seni Jawa. Selain sebagai penari, Pujiyani yang sekaligus pesindhen atau akrab dipanggil “Pujiyani Triplex” turut memengaruhi bentuk pada tarian ini dengan menonjolkan unsur vokal pesindhen.

Sebelum masuk sajian berikutnya, ucapan selamat datang atau sambutan singkat oleh Gusti Raden Ajeng (GRAj) Ancillasura Marina Sudjiwo, yang akrab disapa Gusti Sura.

Pada sajian kedua sepuluh penari dari Sanggar Soerya Soemirat membawakan Tari Jemparingan –tari tradisi gaya Surakarta yang diciptakan Sunarno Purwalelono pada tahun 1979. Tarian ini menggambarkan para prajurit yang tangkas berlatih menggunakan gendewa dan keris, dan pada kesempatan kali ini disajikan kembali dalam garapan kelompok.

Sajian berikutnya oleh Mahasiswa ISI Solo, menampilkan 7 penari perempuan membawakan Tari Bedhaya Mustika. Dalam Bedhaya Mustika, para penari mengiringi gerak-geriknya dengan tembang pujian, menggambarkan keagungan bumi sebagai sumber kehidupan dan air yang jernih serta suci. Para penari sekaligus menyampaikan doa agar bumi dan alam semesta tetap terpelihara, serta manusia terhindar dari segala musibah dan kejahatan.

Sajian keempat, masih dari ISI Solo mempersembahkan Tari Langen Asmara. Karya tari ini dibawakan dengan genre pasihan yang menggambarkan sepasang kekasih saling memadu kasih. Gerak-gerak dalam tari ini menggabungkan gaya Surakarta dan Yogyakarta, mencerminkan keharmonisan sikap tubuh yang lembut namun anggun, serta ekspresi yang memadukan keanggunan dan ketegasan khas Yogyakarta. Melalui Tari Langen Asmara, mahasiswa menyajikan keindahan rasa, gerak, dan musik dalam romantika yang berakar pada tradisi Jawa.

Pada puncak acara, sebagai penutup pentas Triwulan Catha Ambya 9, empat penari mahasiswa ISI Solo menyajikan Beksan Bandayuda. Tari Bandayuda merupakan tari klasik gagah gaya Surakarta dalam jenis tari wireng atau tari prajurit. Tarian ini menggambarkan pertarungan gagah berani sebagai simbol pengendalian nafsu manusia, yang dibalut dengan gerakan elegan, penuh makna, dan menjunjung tinggi disiplin. Pada kesempatan kali ini Tari Bandayuda disajikan dalam gubahan Bapak Sunarno Purwalelono.

Pentas Triwulan Catha Ambya 9 di Pamedan Pura Mangkunegaran malam itu bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bukti nyata bahwa tradisi dapat terus tumbuh melalui kolaborasi dan interaksi lintas generasi. Melalui harmoni gerak tari dan sakralnya suasana Setu Pon, acara ini sukses menjadi ruang dialog budaya yang mendekatkan mahasiswa, seniman, dan masyarakat. Melalui ragam tarian dan penampilan yang sarat makna, pentas ini mengingatkan kita bahwa tubuh, gerak, dan ruang pertemuan menjadi media utama untuk saling mendengar, berdialog, dan membangun kepedulian terhadap tradisi. Semoga kolaborasi ini menjadi jembatan yang terus menghubungkan antara mahasiswa, kampus, masyarakat luas, dan Pura Mangkunegaran serta menginspirasi munculnya lebih banyak ruang pertemuan yang bermakna di masa mendatang.

Indospektrum

Recent Posts

KAI Daop 6 Gelar Safety Rangers Goes to School di SDN Kabangan Solo

SOLO - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta menggelar kegiatan Safety…

8 jam ago

Keikutsertaan Indonesia Gabung BoP Digugat ke MK, Persetujuan DPR Jadi Sorotan

SOLO - Langkah Presiden RI, Prabowo Subianto yang membawa Indonesia bergabung ke Board of Peace…

8 jam ago

Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Kadin “Keroyok” Kemiskinan Ekstrem di Jawa Tengah

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengajak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) berkolaborasi dalam…

9 jam ago

FHIP UMS Gelar ICRTLAW ke-5: Soroti Tantangan Keamanan Siber dan Perlindungan HAM di Era Digital

SOLO - Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) http://ums.ac.id menyelenggarakan International…

10 jam ago

Brebes Bakal Jadi Lokasi Mega Farm Terbesar di Indonesia, Kapasitas 30 Ribu Ekor Sapi

SEMARANG – Peternakan sapi perah terpadu (mega farm) berskala besar dengan kapasitas mencapai 30 ribu…

10 jam ago

Pemprov Jateng Dorong Percepatan Raperda Garis Sempadan demi Ketertiban Ruang

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong percepatan pembahasan Rencana Peraturan Daerah (Raperda) tentang Garis…

13 jam ago

This website uses cookies.