SOLO – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, Ph.D menyatakan bahwa kampus harus menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia unggul, sekaligus motor inovasi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Sehingga perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri tanpa kolaborasi erat dengan sektor industri.
“Artinya apa? Kampus tidak bisa lagi berjalan sendiri. Kampus harus menjadi pusat lahirnya inovasi, pusat pertumbuhan ekonomi, dan pusat penciptaan solusi nyata bagi masyarakat,” kata Brian Yuliarto saat menjadi pembicara dalam pertemuan Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTNBH) se-Indonesia di Kota Solo, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo sebagai tuan rumah pertemuan MSA PTNBH. Pertemuan MSA PTNBH dihadiri delegasi dari 23 PTNBH se-Indonesia dan digelar tiga hari, mulai 21 hingga 23 Mei 2026.
Lebih jauh Mendiktisaintek mengatakan, negara-negara maju menunjukkan pola yang sama. Kampus-kampus terbaik dunia tumbuh bukan hanya karena kuat dalam pengajaran, tetapi karena mampu mengubah riset dan teknologi menjadi produk yang digunakan masyarakat. Mereka membangun ekosistem ilmu pengetahuan yang hidup, lalu menghubungkannya dengan dunia industri.
“Karena itu, tantangan kita hari ini bukan hanya menghasilkan penelitian, tetapi bagaimana penelitian itu bisa berdampak. Bagaimana ide di laboratorium bisa menjadi industri. Bagaimana pengetahuan bisa menciptakan lapangan kerja, membangun perusahaan baru, dan memperkuat ekonomi bangsa,” ucapnya.
Maka yang pertama harus diperkuat adalah budaya riset. Laboratorium harus menjadi pusat kehidupan akademik. Kampus harus menjadi tempat yang hidup 24 jam dengan semangat pengetahuan, diskusi, eksperimen, dan inovasi.
Yang kedua, kampus perlu membangun jembatan dengan industri. Harus ada komunikasi yang intens, kolaborasi yang nyata, dan keberanian untuk bekerja bersama. Dunia industri membutuhkan inovasi, sementara kampus memiliki sumber daya intelektual. Ketika keduanya dipertemukan, di situlah lahir dampak besar.
“Kita juga harus mendampingi alumni dan inovator muda kita. Jangan dilepas berjalan sendiri. Mereka perlu dukungan sistem, jejaring, akses teknologi, akses pasar, dan keberpihakan kebijakan. Dari sanalah nanti tumbuh perusahaan-perusahaan baru yang lahir dari kampus Indonesia,” ujarnya.
Tidak dipungkiri, memang ini tidak mudah. Semua negara maju juga pernah berada di fase sulit. Tetapi sejarah menunjukkan, bangsa yang bertahan membangun ilmu pengetahuan dan industri berbasis riset pada akhirnya mampu memenangkan masa depan ekonominya.
“Saya percaya kampus Indonesia harus bergerak ke arah sana yaitu menjadi pusat ilmu pengetahuan yang produktif, inovatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat serta kemajuan bangsa,” tandasnya.
Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si. menegaskan, perguruan tinggi di Indonesia, khususnya PTNBH, memiliki tanggung jawab strategis sebagai pusat lahirnya inovasi, pengembangan talenta unggul, serta motor penggerak daya saing bangsa di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
Dalam pertemuan MSA PTNBH ini, tema yang diangkat yaitu “Kinerja Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum sebagai Kampus Berdampak untuk Daya Saing Bangsa”. Ini menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai kekuatan intelektual yang berkontribusi langsung terhadap penyelesaian berbagai persoalan bangsa.
Hartono juga menambahkan bahwa konsep kampus berdampak merefleksikan masa depan pendidikan tinggi Indonesia. Menurutnya, perguruan tinggi diharapkan mampu menjawab tantangan zaman melalui riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.
“Perguruan tinggi masa depan harus hadir sebagai kekuatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, UNS terus memperkuat transformasi menuju kampus berdampak melalui pengembangan ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif dan kolaboratif. Pencapaian tersebut tercermin dari peningkatan reputasi internasional, penguatan kerja sama global, serta peningkatan produktivitas riset dan publikasi ilmiah.
Selain itu, UNS juga memperkuat hilirisasi hasil riset yang telah memberikan kontribusi nyata di berbagai sektor, antara lain kesehatan, pangan, energi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Inovasi tersebut dikembangkan melalui pendekatan kolaboratif pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha dan industri, komunitas, serta media.
Transformasi digital juga menjadi salah satu fokus utama UNS dalam meningkatkan kualitas layanan akademik dan tata kelola universitas. Upaya ini sejalan dengan visi untuk membangun perguruan tinggi yang agile, adaptif, dan responsif terhadap perubahan, tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Dalam kesempatan tersebut juga ditegaskan bahwa sebagai PTNBH, otonomi perguruan tinggi tidak hanya dimaknai sebagai fleksibilitas tata kelola, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral untuk memberikan kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan perguruan tinggi ke depan dipandang perlu lebih komprehensif, tidak hanya berdasarkan peringkat global, tetapi juga pada kontribusi sosial, inovasi, dan kepercayaan publik.
Ketua Senat Akademik (SA) UNS, Prof. Dr. Sri Sulistyowati, dr., Sp.OG. (K). menyampaikan bahwa kegiatan ini menyoroti pentingnya transformasi perguruan tinggi agar tidak hanya berorientasi pada capaian administratif, tetapi juga pada kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional dan masyarakat.
Dalam Sidang Paripurna MSA PTNBH, pembahasan dibagi ke dalam empat subtema utama, yaitu arah kebijakan nasional pengembangan PTNBH sebagai kampus berdampak, peran perguruan tinggi sebagai kampus berdampak dalam mendukung daya tahan bangsa, penguatan kinerja penelitian PTNBH untuk meningkatkan daya saing dan ketahanan bangsa, serta strategi dan kebijakan internal PTNBH dalam mewujudkan kampus berdampak.
Sekretaris Senat Akademik UNS, Prof. Dr. Mohammad Jamin, S.H., M.Hum., menyampaikan, bahwa seperti yang disampaikan Kepala Badan Riset Ekonomi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, yaitu pentingnya transformasi perguruan tinggi dari sekadar teaching university dan research university menjadi innovation university. Menurutnya, percepatan inovasi sangat penting untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara lain yang telah lebih maju dalam ekosistem riset dan teknologi.
“Yang dicontohkan yaitu Tiongkok yang telah berhasil menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat inovasi, dengan jumlah paten yang mencapai lebih dari satu juta, jauh di atas Indonesia yang masih berada pada level puluhan ribu paten,” kata Prof. Jamin.
Selain itu, disampaikan pula pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri melalui pemanfaatan fasilitas riset bersama. Rencana pengembangan “rumah inovasi” juga menjadi salah satu agenda strategis, yang akan menjadi pusat hilirisasi hasil riset dan mempertemukan peneliti dengan investor maupun dunia industri.
“Forum MSA PTN-BH ini terdapat sidang komisi hingga menghasilkan rekomendasi akhir yang akan dirumuskan pada penutupan acara. Seluruh hasil pembahasan akan didokumentasikan dan disampaikan kepada pihak terkait sebagai bahan penguatan kebijakan pendidikan tinggi nasional,” ujarnya.
KUDUS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan dua sektor baru sebagai penggerak ekonomi di Tahun…
SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak akan melakukan pemberhentian guru non-ASN (Aparatur Sipil Negara)…
SOLO - Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id tetap membuka layanan pada…
SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tak henti-hentinya memberikan pelatihan ketrampilan bagi warga dari keluarga…
SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendukung upaya pengetatan perlindungan kawasan hutan…
JAKARTA - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meraih berbagai pengharagaan pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan…
This website uses cookies.