Categories: IndeksPendidikan

Sidang Terbuka UMS: Sudiyo Widodo dan Mustofa Ali Fahmi Resmi Raih Gelar Doktor

Sudiyo Widodo dan Mustofa Ali Fahmi dikukuhkan sebagai doktor
melalui Sidang Terbuka Promosi dan Pengukuhan Doktor Program Studi Doktor Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP), Rabu (28/1/2026). Foto: Ist.

SOLO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melahirkan doktor-doktor baru. Promovendus Sudiyo Widodo dan Mustofa Ali Fahmi dikukuhkan sebagai doktor melalui Sidang Terbuka Promosi dan Pengukuhan Doktor Program Studi Doktor Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP), Rabu (28/1/2026).

Sidang terbuka digelar di Gedung Auditorium Mohammad Djazman dan dipimpin Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.

Promovendus Sudiyo Widodo memaparkan hasil disertasi yang berjudul Demokrasi Pancasila Melalui Pendidikan Politik Warga Negara. Penelitian mengkritisi sistem pendidikan politik di Indonesia yang dinilai belum maksimal (kontemporer) secara pelaksanaan dan implementasi, sehingga kurangnya pemahaman warga negara terhadap politik.

“Dalam realitas kita bisa menemukan berbagai hal, antara lain ada masih banyak warga negara yang belum melek politik. Selain itu juga demokrasi hanya sebagai sebuah legitimasi transaksional,” kata Sudiyo Widodo.

Foto bersama para promotor, co-promotor dan promovendus pada Sidang Terbuka Promosi dan Pengukuhan Doktor Program Studi Doktor Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP), Rabu (28/1/2026). Foto: Ist.

Menggunakan pendekatan kuantitatif dalam penelitiannya, Sudiyo menuturkan sebuah negara memiliki kewajiban dalam menjamin akses pendidikan berkualitas terhadap rakyatnya dan partai politik diberikan kewenangan dalam memberikan pendidikan politik warga negara untuk mewujudkan pemerintahan yang bersifat demokrasi.

Dalam disertasinya, dia menawarkan lima konsep pendidikan politik yang dapat diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia, antara lain adalah Model Pendidikan Politik Berbasis Komunitas, Model Pendidikan Politik Inklusif dan Beragam, Model Pendidikan Politik Berbasis Teknologi dan Digita, Model Pendidikan Politik Terintegrasi dalam Kurikulum, dan Model Pendidikan Politik Berkelanjutan dan Evaluatif.

Melalui pendidikan politik warga negara secara berkelanjutan dan evaluatif, Sudiyo menambahkan dapat memberikan bekal bagi rakyat untuk bertindak berdasarkan pengetahuan dan aktif berpartisipasi dalam pembangunan negara dan bangsa.

“Konsep model pendidikan politik yang tidak hanya tahu tentang politik, tetapi memiliki kompetensi untuk berpartisipasi secara rasional dan tanggung jawab untuk mengevaluasi sistem yang berjalan,” ungkapnya.

Sedangkan Mustofa Ali Fahmi mengangkat disertasi Gagasan Model Penyelesaian Tindak Pidana Pemilu Melalui Restorative Justice. Dia memperkenalkan model Restorative Justice dalam menanggulangi permasalahan pelanggaran pemilu.

Model Restorative Justice menekankan perbaikan yang tidak hanya berfokus pada pemidanaan, tetapi juga mengutamakan pemulihan korban dengan melibatkan pelaku, korban dan masyarakat dalam proses penyelesaian masalah.

Mustofa menegaskan, melalui model tersebut pelaku dapat mendapatkan efek jera atas perbuatannya dan mengakui dampak yang ditimbulkan kepada masyarakat luas. Menurutnya, penerapan model tersebut memerlukan program edukasi publik dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Doktor tersebut berharap, pelanggaran pada penyelenggaraan pemilu dapat berkurang di masa depan.

“Harapannya, ke depan para terpidana kasus tindak pidana pemilu dapat diminimalkan, Mustofa Ali Fahmi.

Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum menyampaikan harapan atas keberhasilan gelar yang telah diraih oleh para promovendus.

“Jadilah doktor yang mampu memberikan kemanfaatan dan jadilah dokter yang bukan hanya semata-mata pembebasan dari kuliah di kelas, pembebasan dari urusan disertasi. Tolong ditingkatkan menjadi doktor yang humanisasi dan transendensi,” tuturnya.

Selaras dalam transendensi Rektor UMS, Prof. Dr. Absori, S.H., M.Hum., selaku promotor mengungkapkan integrasi antara ilmu hukum dan nilai-nilai transendensi menjadi faktor utama dalam menciptakan sistem hukum yang berkedaulatan.

“Karena itu visi kami di program doktor itu adalah menciptakan doktor yang memang punya wawasan hukum yang berbasis pada transendensi, yaitu pada nilai-nilai spiritual, nilai-nilai kearifan lokal, dan nilai-nilai agama,” ujarnya.

Indospektrum

Recent Posts

Pemulihan Ekologi Gunung Muria, Wagub Taj Yasin Siapkan Langkah Pembuatan Rorak

KUDUS – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyiapkan sejumlah langkah untuk memulihkan fungsi…

2 jam ago

Forum Jakarta Nahdliyin Ajukan Amicus Curiae, Minta Gus Yaqut Dibebaskan

JAKARTA — Dukungan moral terhadap mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) masih terus…

3 jam ago

Perluas Jejaring Global, UMS Gandeng KBRI Beijing Pertajam Kerja Sama Akademik dan Industri di Tiongkok

SOLO - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperluas jejaring internasional melalui pengembangan kerja sama…

13 jam ago

Raih QS Performance Improvement Dua Tahun Berturut-turut, UNS Tembus Peringkat 158 Asia

SOLO - Universitas Sebelas Maret (UNS) meraih penghargaan QS Recognition Award for Performance Improvement dari…

15 jam ago

Pura Mangkunegaran Gelar Bleketepe dan Adang Sepisan, Tandai Dimulainya Dhaup Ageng Gusti Sura

SOLO – Pura Mangkunegaran melakukan pemasangan Bleketepe, pembukaan Singup Tuwuhan, dan Adang Sepisan pada Rabu…

16 jam ago

Dosen PGSD UMS Raih Exceptional PhD Award dari Monash University Australia

SOLO - Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Muhammad…

20 jam ago

This website uses cookies.